Apa itu Cinta?

omong kosong

Cinta itu bernama gelora, merobek dan menutup rahasia.
Cinta bukan sesuatu yang dibesar-besarkan. Atau didesak hingga sesak.
Cinta biasa-biasa saja, lebih sederhana dari apa yang terpaksa kita bayangkan sepanjang malam. Cinta bernama tanda , perantara dan senyuman, bukan setumpuk kerumitan.
Cinta selalu tampil di muka, lebih dekat dari kawat gigi kita.
Cinta bukan tarian, bukan Rock & Roll yang disorak-sorai.
Cinta lebih tua berabad-abad.

Dari kekalahan-kekalahan kita. Lebih panjang dari nama-nama yang kita puja.

Cinta bernama keheningan berwajah puisi dalam ruang dan waktu yang senantiasa terjaga.
Cinta bernama perjalanan, ucapan dan hati yang terpelihara.
Cinta bukan Cleopatra, bukan Romeo & Juliet yang gila.
Cinta bernama berkaca. Bukan dipecundangi mabuk kepayang dan melupakan ketakutan.

Bukan bunuh diri.

Cinta bernama latihan jiwa. Bukan Sreno & Rokisan, Bukan kepongahan Laila & Majnun.
Cinta bernama maaf, Sunyi yang tulus kita bagi.
Cinta bernama sabar, menunggu yang menyenangkan.
Cinta bukan nestapa, bukan keresahan yang kita gagahi.
Cinta bernama jembatan sebentuk kehampaan yang kita isi sepenuhnya dengan terbuka.

Bukan khayalan kosong.

Cinta bernama sikap, bukan keraguan.
Cinta bernama sentuhan, bukan tikaman dari belakang.
Cinta bernama masa silam yang diberangkatkan menuju anugrah yang tak retak, tak terpaku. Cinta bernama tempat persembunyian rahasia masa kecilku ketika bermain petak umpet.
Cinta bernama tonggak nasib waktu dan pecahan-pecahan kaca jendela.
Cinta bernama getaran yang bahagia tersentuh siapa saja.
Cinta bernama kabar sukacita untuk sahabat.
Cinta bernama jawaban. Bernama aku yang harus bertahan, Bernama aku yang harus bangkit, aku yang harus berhenti merengek, yang menyulam, yang tahu diri, yang berbenah.

Iya, cinta bernama…

Curahan Hati

my room

Secangkir kopi dan sebatang rokok, kulewati hari ini dengan pertanyaan..

”adakah cinta untuk ku esok hari?”.

Sementara asbak rokok sudah mulai penuh dengan belasan batang rokok yang kuhisap, dengan demikian berpuluh-puluh lubang bertambah di paru paru ku, entah lah bagi ku rokok adalah sahabat sejati ku.
 
Ku tengok jendela yang kusen nya sudah mulai lapuk, penjaja keliling sudah mulai bertarung dengan dingin malam, hanya untuk mengejar rupiah untuk menghidupi keluarganya.
 
Sementara…
Tiga puluh tahun bukan waktu yang singkat. Cerita atau lebih mendekat pada sebuah legenda, terjadi dengan haluan yang tidak jelas akan kemana menepi. Kehidupan ku seperti angin tak dapat kulihat bagaimana bentuk rupanya karena sampai sekarang ini aku belum melihat titik kemana kaki hidupku akan melangkah, setidaknya aku masih bisa berharap dan bercita-cita agar hidupku bermakna, paling tidak untuk diriku sendiri terlebih orang-orang yang berada di sekitarku.
 
Kata-kata…
aku tak tahu lagi dengan kalimat yang bagaimana ku lukiskan perasaan ku saat ini, kegamangan, kebingungan, entah perasaan apa lagi yang menari-nari di kepala dan di dadaku. 
 
Inikah hidup?  
entahlah,,,  kebingungan ini telah menjelma seperti sebuah bom waktu yang memiliki daya ledak yang maha dahsyat dan aku tak tahu kapan itu akan meledak dan bagaimana atau apa yang akan terjadi pasca ledakan itu?. apakah aku akan ikut hancur dan terporak poranda bersamanya atau kebingungan itu sendiri yang akan lenyap untuk selama-lamanya? kuharap begitu…
 
Hidupku menyerupai sebuah simponi karya kelas jelata, monoton, terlebih pada syair-syair yang berisi tentang kesedihan proletarier yang dimarginalkan oleh nasib, yang tercipta oleh kebodohannya sendiri. Aku muak, muak pada kehidupan manusia-manusia munafik yang mementingkan cara berbicara ketimbang cara bertindak, juga muak pada sifat yang tidak menghormati hidup orang lain, yang merasa dirinya lebih baik dari orang lain.
 
Sudah gilakah diriku?
Entahlah… kucoba rebahkan tubuh penatku diatas tempat tidur, mencoba bernegosiasi dengan pikiran untuk melupakan peristiwa-peristiwa yang terjadi beberapa hari ini, ku matikan lampu kamarku namun kegelapan justru makin memperjelas dan mempertegas kesunyian itu, sebuah sosok seakan melambai mencoba meraihku dan ku ulurkan tangan kucoba untuk merengkuh tangannya, namun tanganku tak sampai… terlalu jauh untuk kuraih, sementara aku sudah terlalu payah, oleh keletihan yang amat sangat, terlalu banyak peristiwa-peristiwa yang membuatku ingin segera …… 
 
Namun aku tetap gelisah, ku miringkan badanku kearah yang sudah berkali-kali pernah kulakukan, namun sekuat aku berusaha, sekuat itu pula bayangan itu menggangguku, seolah memaksaku untuk melakukan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu.
 
Tiga puluh tahun ini banyak hal yang telah tertanam di dalam hati lalu menjelma menjadi sebuah gunungan hasrat yang tiada terlebihi oleh apapun di dunia ini, hasrat itu menginginkan pribadiku terreinkarnasi dalam sebuah pribadi yang sederhana namun memiliki penglihatan setajam elang, pikiran setajam pisau cukur, perabaan atau intuisiku lebih peka dari ubur-ubur, pendengaranku dapat lebih menangkap musik dan ratap tangis kehidupan, supaya aku tidak akan menjadi manusia takabur, manusia yang lupa pada bagaimana dan dimana peradabanya dimulai.
 
Sementara kakiku semakin letih melangkah, bahuku terlalu berat menanggung beban yang lama menggayut. Yang terkadang membatasi ruang gerakku, namun pikiranku lah yang semakin lama semakin jauh melayang mengitari langit-langit kepalaku, pikiran tentang sekuntum Bunga yang kutemukan pada suatu sore yang tak bernama. Bunga itulah yang tumbuh dan berakar didalam hatiku. Bunga yang aromanya hanya mampu terwakili oleh kembang setaman, dimana bidadari turun dan bermain main didalamnya. Hatiku luluh lantak hanya oleh sekuntum Bunga, Bunga yang sama sekali tiada berduri, hanya aku sendirilah yang menciptakan duri itu.
 

The Most Embarrassing Verse in the Bible

Reblogged from Exploring Life, The Universe and Everything:

Click to visit the original post

When I was a committed Christian I enjoyed reading the incredibly well-written and absorbing books by CS Lewis. I don’t mean the The Chronicles of Narnia, those classic novels for children, but his theological works. He has rightly been acclaimed as the greatest Christian apologist of the 20th century. My personal favourite is the famous The Screwtape Letters, a satirical novel written as a series of letters from a senior demon Screwtape to his nephew, a junior "tempter" named Wormwood, so as to advise him on methods of securing the damnation of a British gent known only as "the Patient".

Read more… 1,671 more words

READ !!!