Inti

Segaris semu tampak pada lintang hati
menarik luruh di antara beberapa kalimat mati
ringkih, terkulai pasrah di ranah hati lupa diri
telak tak berdaya kini

Rintihan sendu nyanyian surgawi
akhiri ragu di ambang rindu, terlewati
melantas tiap ruas dimensi mimpi
tak berbatas, hilir tak bertepi

Jelajah jejak gravitasi bumi
putari, tiap sudut sang matahari
telusuri hari, mencari inti diri
yang kian mati, tak berarti ditelan mimpi

Alhamdulillah

Yaa Allah,

Sebelum kaki-kaki takdirMu mengucurkan ujung yang utuh, biarkan keresahan memakamkan dirinya di kedua tanganku yang menengadah kepadaMu. Kerap kulihat candaMu melantangkan rindu yang menahun, membiarkan kesipusipuanku terpancar dari raut tatapanku. Kemudian sekali waktu, Engkau melemahkan denyut nadiku, menyorakkan rinduMu dengan hujan di pelupuk mataku

Wahai, Engkau Maha Pemberi.

Sekalipun waktu mamasung lehernya sendiri, tak kan mampu aku menyinari matahari yang bersinar lebih terang dari sebuah puisi para bidadari. Adalah Engkau yang menyelamatkan ku dari hari-hari yang kelak mati, meski seringnya keluhku yang Kau dapati. Adalah Engkau yang kerap menyeka hujan tak bertepi di pipi, meski perihnya kudapati dari belati di tanganku sendiri. Adalah Engkau yang merengkuh segala nyeri.

Ampuni aku yang tak tahu diri. Ketika panggilanMu, kerap kuanggap hanya serupa lilin; yang menerangi untuk kemudian mati. Bukankah hanya Engkau yang begitu tulus mencintai, ketika yang lainnya hanya lahir untuk kemudian beranjak pergi dalam ribuan langkah kaki? Ampuni aku yang melewati banyak musim dengan meleburkan banyak pelangi, hanya untuk mencari arti.

Wahai, Engkau Maha Pengasih.

Aku adalah laki-laki kerap kau selimuti kasih. Malam tak pernah sepekat kopi, ia selalu hadir dengan prasasti-prasasti yang kerap membuatku tergelincir, pada warna yang begitu pagi. Konon, itu ialah salah satu caraMu mencintai, membiarkan ciptaanMu mati agar mengerti arti kehadiran lahir.

Yaa Allah, bisakah kupinta satu hal kali ini? Jika hari ini gerimis kembali membasahi nyeri di laki-laki yang Kau cintai ini, jangan hukum ia di lain kali. Aku belajar mencintai dariMu Wahai Maha Pengasih; ketika mata bukanlah juru kunci perihal mencintai, ketika doa ialah sebaik-baiknya untuk mencintai. Dan ketika memaafkan jauh lebih baik daripada membiarkan iblis, merayakan kemenangannya melihat isi hati manusia dipenuhi rasa benci.

Biarkan hambaMu ini, belajar mengikhlaskan apa-apa yang tak pernah ia miliki. Sebab, ia pun sudah begitu mengerti; bahwa segalanya pun akan kembali, dan sebaik-baiknya pulang ialah kepada illahi.

Yaa Allah, Wahai Maha Segala Arti. Mencintai tak pernah seindah ini.

Ketika keresahan kubiarkan berkelakar menamatkan ingatan-ingatan, menjadikan aku pecinta kesakitan yang tamak. Sebab, semakin resah itu mencekikku erat, semakin hebat dekapanku merengkuh surgaMu kelak. Ialah kecintaanku padaMu, yang menjadikanku laki-laki yang begitu mahir menjahit lukanya dengan banyak sabar. Ialah kecintaanku padaMu, yang menjadikan keikhlasanku sebagai mahkota. Ialah kecintaanku padaMu, yang menjadikanku hamba yang begitu Kau cinta.

Yaa Allah,

Biarkan cintaku hanya berotasi padaMu, dan biarkan hamba mencintaiMu sepanjang usia jiwaku. Sujud syukurku tak kan habis tertuju padaMu, dan kepadaMu lah sebaik-baiknya cintaku tertuju.

Terima kasih yaa Allah, untuk segala yang luput dari mata dan telinga. Terima kasih yaa Allah, untuk menempatkanku pada kebenaran agamaMu. Terima kasih yaa Allah, untuk cintaMu yang tak terukur dengan segala.

Alhamdulillah.

Curhatan Kosong

at first time, i admired her.. there’s something weird that i feel.. dan memang sangat aneh saya rasa,,
when you admire someone but you nothing to know about someone who you admired, just one thing could i thought : dia baik (akhlaknya)…

but this heart is never meant to someone till i make a decision : get merried (absolutely, with woman that i love because she loves Allah terribly much.. karena dengan begitu cinta kami hanya akan bermuara pada Allah saja.. bukankah cinta pada Allah harus tetap di hati (berharap sampai mati), seperti doa yang selalu saya panjatkan setiap selesai sholat.

dan kembali saya berpikir, pantaskah mengagumi seorang akhwat yang baik akhlaknya? karena siapa saya?
hanya seorang pria sederhana, yang bahkan masih belum bisa seperti ikhwan lain yang baik tutur kata dan sifatnya. yang baik hapalan dan bacaan qur’an nya.
just ordinary people who has a wish to marrying an angel.. tapi tetap berusaha untuk istiqomah dalam pencapaian cita karena percaya denganNya (An Nuur :26).

🙂

saya mulai membayangkannya.. jadi ingat beberapa hari yang lalu bermimpi mendapatkan sms dari seorang akhwat yang isinya ingin saya menjemputnya.. who’s the woman? actually i know that woman who want me to pick her up in my dream, but i will never write down her name.. i hope i dont fly so high because that dream, but unfortunatelly i did.. i lose with love that i should not feel with..

dan semoga Allah tetap menjaga hati ini sampai benar-benar terucap atas dia yang telah menanti..

dan senja pun hampir meninggalkan sapaannya, telah ku jawab “senja” salammu,

wa’alaikumsalam wr wb,

View on Path