Sinetron Sebagai Pengikis Aqidah Anak di Indonesia

Banyak diantara kita yang kurang menyadari akan keamanan pergaulan anak di masa kini. Pergaulan tidak hanya antar personal, tetapi juga pergaulan anak dengan apa yang dia hadapi sepanjang dia beraktivitas sehari-harinya. Misalnya pergaulan anak dengan televisi. Dan inilah yang akan menjadi bahasan kita kali ini.

Penyiaran televisi pertama kali ada di dunia pada peradaban kita ini sudah semenjak tahun 1920. Sejak itu pula hiburan yang tadinya hanya bisa didapatkan dengan pergi ke tempat yang menawarkan hiburan pertunjukan menjadi berubah drastis. Orang tak perlu repot-repot pergi untuk mencarinya, cukup menyalakan televisi dan duduk tenang menontonnya. Dan mulai saat itulah dunia berubah drastis.

Penyiaran televisi yang mayoritas menawarkan hiburan telah merubah pola pikir banyak masyarakat dunia. Dahulu, orang mencari hiburan dengan banyak cara, mulai dari membaca buku, berkebun, belajar memasak, memancing, atau mempelajari banyak sekali keterampilan lainnya. Namun apa yang orang lakukan saat ini? Hanya menonton televisi? Ya, patut diakui kalau mayoritas warga dunia yang sudah memiliki televisi saat ini lebih banyak menghabiskan waktunya di depan televisi. Seolah-olah hiburan bagi hidupnya hanya ada di televisi semua.

Kemudian apa kontribusi gaya hidup “televisi” bagi anak-anak? Ya, harus diakui televisi juga menambah wawasan, mungkin itu didapat dari acara pengetahuan atau bahkan acara berita lainnya. Tapi tidak untuk masa sekarang ini! Saat ini televisi lebih banyak menjadikan dirinya sebagai agen hiburan, bahkan sebagian besar murni agen hiburan. Dan yang disesalkan adalah banyaknya hiburan yang tidak mendidik, terutama sekali bagi anak-anak.

 

Televisi Sebagai Agen Hiburan yang Mengikis Aqidah

Bukan rahasia lagi kalau saat ini stasiun televisi hanya mementingkan rating dan keuntungan semata. Kalau kita lihat saat ini, demi mencari keuntungan mereka rela membuat program-program televisi yang rata-rata hanya mengumbar kesenangan semata. Gaya hidup hedonisme, atau yang lebih kita kenal dengan sebutan hura-hura kini malah menjadi trend di kalangan anak muda, dan dampaknya ke anak-anak adalah mereka mengikuti trend yang seharusnya tidak mereka contoh. Kalau sudah begini, stasiun televisi tidak akan mau disalahkan dan malah berdalih kepada hak-hak penyiaran mereka. Lalu adakah hak-hak keamanan untuk penonton yang mereka penuhi?

Jika kita telaah satu persatu acara televisi saat ini, mulai dari acara sandiwara (sinetron, FTV, Film Layar Lebar), acara musik, berita, dan hiburan lainnya, maka dapat dikatakan semuanya serba penuh dengan sisipan-sisipan konten yang tidak mendidik bagi anak-anak. Oke lah kalau mereka bilang ada pesan moralnya, tapi apakah anak-anak dapat menangkap pesan moral tanpa bimbingan? Sedangkan saat ini program televisi lebih mengutamakan hiburan daripada pesan moralnya.

Pengaruh Sinetron Bagi Penontonnya

Kita ambil salah satu program televisi yang sedang marak digemari di indonesia, yaitu Sinetron. Program televisi yang satu ini telah menyedot perhatian puluhan juta pemirsa televisi di seluruh Indonesia, mulai dari balita hingga lansia. Acaranya sendiri banyak yang mengisahkan kehidupan sehari-hari sebuah keluarga ataupun beberapa keluarga yang saling berhubungan, entah itu berhubungan dengan baik, atau malah penuh konflik. Mungkin kita menganggap sinetron adalah program biasa yang tidak berbahaya, tapi justru di situlah letak bahayanya. banyak orang yang tidak menyadarinya.

Lalu apa sajakah pengaruh sinetron bagi kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak? Yang jelas banyak sekali. Kita tau bahwa sebagian besar rakyat Indonesia masih hidup dalam keadaan yang serba sulit. Kebutuhan pokok mahal, inflasi tinggi, dan hidup pun semakin sulit. Tapi sinetron malah memberikan angan-angan seperti gaya kehidupan yang serba mewah dan mudah, padahal kalau saja para penontonnya tau kalau kehidupan artinya juga masih banyak yang susah. Sehingga banyak penontonnya yang terpengaruh untuk mencontoh gaya hidup mewah seperti itu, dan untuk mendapatkannya mereka bahkan rela untuk melakukan apa saja demi merealisasikan gaya hidup yang sama dengan yang mereka tonton di sinetron.

Terlepas dari pengaruh gaya hidup tadi, sinetron juga telah membuat watak para penontonnya menjadi keras dengan mencontoh para pemain yang akting terlalu berlebihan. Sebut saja akting marah yang terlalu, penyiksaan, dendam tak berkesudahan, dan masih banyak lagi. Melihat pemeran protagonis teraniaya pun sang penonton ikut berempati, sehingga terbawa kepada kehidupan nyata mereka. Mereka menjadi sulit mengendalikan emosi, mudah marah, dan arogan, bahkan arogan terhadap diri mereka sendiri.

Pengikisan aqidah yang terlihat sudah sangat besar, dan pengaruhnya yang paling terlihat kepada anak-anak adalah dewasa terlalu dini, kerasnya watak, sulit berkonsentrasi, tumbuhnya jiwa pemberontak, berkhayal untuk hidup serba mewah, dan masih banyak lagi. Yang jelas anak-anak terpengaruh menjadi anak yang hanya memikirkan diri sendiri dan tidak lagi peka terhadap lingkungannya.

Membaca buku lebih menyenangkan dibanding menonton televisi

Hasil survey di beberapa negara maju sudah membuktikannya. Ternyata anak-anak yang menghabiskan waktu di depan televisi lebih rendah tingkat kecerdasannya (IQ) dibandingkan dengan tingkat kecerdasan anak-anak yang mengabiskan waktunya dengan membaca dan melakukan kegiatan yang mengasah keterampilan. Tidak hanya kecerdasan, kestabilan emosi (EQ)  mereka juga berbeda, anak yang tidak pernah menonton televisi menjadi anak yang lebih bijaksana dalam menghadapi banyak masalah hidupnya daripada anak-anak yang menonton televisi. Dan yang terpenting adalah Aqidah (SQ) mereka, anak yang menonton televisi cenderung lupa beribadah dan mengingat Allah daripada anak-anak yang membaca buku. Dan inilah yang sudah seharusnya menjadi perhatian kita semua, karena hal ini telah mengancam kelangsungan masa depan generasi kita semua. Bayangkan apabila di masa depan nanti negeri ini dipimpin oleh generasi yang hanya memikirkan diri sendiri dan tidak lagi peka terhadap orang lain, mau jadi apa masa depan negeri ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s