Poetry on Wall

Poetry on Wall

#1

Hari berlalu tanpa rasa,
Tak sadar ku tlah tinggalkan tekadku di belakang,
Dan kembali ku terjerat dalam gulungan waktu,
Berbaris, berderet tiada ku pahami,
Ku renungkan dan kuteliti detik-detik yang mengusik,
Apa yang harus kususun dan kutata,

Ku coba berdiri didepan cermin hati, biar ku tahu hitam putihnya hati,
Ku basuh telapak kaki agar tahu sejauh mana ku mampu melangkah,
Ku takar cawan perasaan, biar jangan sampai meluap menerima sikap,

Ku pagar rumah khayalan agar asa tidak melambung ke negeri harapan,
Ku jernihkan larutan pikiran agar tidak kuyup mengartikan tingkah.

Dan dari segala rasa resahku,
Aku belajar kepada siapa saja yang mau mengajariku tentang dunia, tentang hidup, tentang apa saja yang dapat membuat damai dalam kedamaian.

October, 24
#2
Kekerasan ada batasnya
Keluwesan tak ada batasnya
Tak ada kuda-kuda yang tak bisa
dijatuhkan
Karena itu geseran lebih utama
Keunggulan geseran terletak pada
keseimbangan
Rahasia keseimbangan adalah
kewajaran
Wajar itu kosong

Membentur dapat diukur
Menempel sukar dikira
Mundur satu langkah maju ke delapan
penjuru
Kosong dan isi bergantian
Menuruti keadaan
November, 2

#3

Air dan batu tak sama, tapi air dan
batu bisa bersama.

Air punya mata,
batu punya kepala,
keduanya
mengejar senja.

Karena itu, jangan
anggap remeh org lain, sebab tanpa

orang lain, ibarat kita hanyalah jadi
batu tak berharga, tak bisa jadi apa-apa.
November, 4
#4
Cintailah semuanya dan jangan membenci siapa pun.
Menyerukan kedamaian akan membuatmu tenang,
hanya Alloh dan Agama yang tidak akan membuatmu Tersesat ..!!Hargailah kedamaian dan kebahagiaan Dan sebarkanlah di mana pun engkau berada

dan kemana pun engkau pergi jadilah api kebenaran yang menyala
Jadilah bunga kasih sayang yang indah Dan
Jadilah cahaya kedamaian yang menenangkan
Dengan cahaya

Spiritualmu…

Hilangkan kegelapan dan kebodohan
Lenyapkan kabut pertikaian dan peperangan
Dan sebarkanlah kebaikan, kedamaian serta keharmonisan diantara manusia…
November, 4
#5
Bukit-bukit hijau mengelilingiku
Menjulang bersama anginTertawa riuh menyemangatiku
Melambai-lambai mengajakku bermain

Air mengalir tak beriak
Warna coklat susunya selalu hadir di
musim penghujan
Memberi pengairan bagi kaum kami,

kaum petani

Terima kasih Tuhan memberi kami
kehidupan
Disini,di bawah pohon ini
Aku duduk menunggu sepi
Melayangkan anggan pada kata-kata
penuh kesejukkan jiwa
Berusaha melukis kembali asa yang
belum tergores
Menunggu dan memimpikannya

Tanah indah, tanah damai, tanah sejuk
Desa permai…

November, 5
#6
Bersujud dan berdoa telah ku
persembahkan,
Dari penyadaran
sampai keharusan,Dari setiap kemungkinan hingga
kemampuan,

Tapi sepertinya khayalku terlanjur
hanyut, karam di telaga impian.

Mungkin juga rasa resah telah penuh
melingkari hidupku.Aku harus belajar kepada burung-
burung, agar bisa terbang dan dapat
melihat luas indahnya aneka warna
alam.

Aku harus belajar kepada ikan, biar
bisa menyelami hingga ke dasar bumi
dan kupelajari rahasia-rahasia yang
tersembunyi.

Aku harus belajar sama binatang
malam, biar bisa berjalan di
kegelapan.

Aku harus belajar bernyanyi kepada
burung pagi, agar bisa menghibur diri
tatkala sepi.

#7
Kaulah buah pikiran idealis atas nama
keadilan,
Tertuang pada setumpuk kertas lusuh
demi perdamaian,
Rasa damai yang memperkokoh
benteng kaum kapitalis.Kini kau beranak-pinak mengimbangi
masa,
Terurai rinci penuh pertikaian dalam

pembahasannya,
Saling menikam hanya demi
kepentingan para birokrat.Hukum yang memaksa,
Tapi tak mampu melihat dengan kedua
mata,
Karena kau telah menjadi budak para
penguasa.
Hukum yang tegas,
Tapi hanya menjerat dengan tali
usang yang rapuh,
Karena roda politik menginjakmu
penuh penghinaan.

Hukum Indonesia,
Hukum yang tak berisi nilai dan
norma,
Karena tiap pasalnya tersirat
kepentingan politik.

Hukum Indonesia,
Hukum yang telah ternoda sejak lahir,
Dan semakin kotor saat melangkah.

#8
Malam ini pikiranku kalut,
bersemayam di ujung maut,
tiada tali cinta yang dapat dirajut,
hanya amarah yang kian menyulut.Pergilah risauku bagai kentut,
agar jalan hidupku tak lagi semrawut.
Ku berdoa sembari bersujud,
agar motivasiku takkan pernah surut..
#9
Birunya langit terjangkau jarak
pandang mata,
Menyeluruh sempurna tak terbatas.Terik mentari meradang, menusuk
tajam,
Tanpa awan sebagai penyaring,
Tanpa angin yang membelai
dedaunan.

Panas gersang
Kering tandus
Debu jalanan menyeruak
terhembus gesekan ban roda dan
aspal.
Menempel lengket,
Menyatu dalam keringat.
#10
Aku musafir
Lirik-lirik yang jatuh dari matamu
Jatuh gemersikDi bukit
Kupetik kembang ilalang

Di tebing-tebing
Kupetik seribu kupu-kupu
Yang tumbuh di rambutmu

Lalu kuterbangkan
Ada desiran panjangSebab aku musafir
Sebab akulah kau yang diam
Yang mendaki mimpi-mimpi yang
panjang

Dalam suara-suara yang lenyap dan
hilang
,
Matahari menjelma ombak
dan
berbuih
di batu-batu.

#11
Sempurnakan jerit setangkai
Bunga
Agar mimpi jangan gelisah
Waktu pagi dibasuh tangisan kecil
Tapi aku tak ingin siapa pun
Mengusik ujung kelopaknyaSebab setiap tetes embun
Adalah suara rintihan riwayat
Kerinduan

Tak perlu jambangan
Sebab akulah jambangan setiap
rintihanKutaruh keyakinan
Jangan kau sembunyi di balik
angan-angan
#12
Katakan siapa yang menipu mata
Barangkali ku tak pandai
menghitung hari
Entah berapa perhentian sudah
terlampaui
Kini telentang mengenang
hari-hari silamManakala kuntum kutabur di
pangkuan bumi

Dari larat yang paling penghabisanSungguh Tuhan lah yang paling
berbudi

Aku kan lahir dalam tujuh belas langkah diri

Bangkitlah dari tapal batas daratan
sunyi
Nun usia di atas lilin pikiran yang
putih

#13
Aku seperti dipasung oleh rantai yang
tidak nampak
hanya bisa menyaksikan tata cara
mereka menghadap pada Yang Tak
Punya Rangkap
mataku terbuka penuh, seperti
melihat deretan malaikat yang tak
bisa aku tangkap
aku berusaha berniat, mulutku hanya
bisa mangap

mereka benar-benar malaikat…
yang menggantungkan sayap putih di
hanger dekat tempat berwudhu
mereka hanya ingin shalat dengan
khusuk tanpa penghalang tanpa rasa
angkuhhingga kunikmati alur aliran sujud
ruku’ yang sangat tidak biasa
begitu patuh, begitu mengharukan

subuh ini aku begitu tersentuh
dengan dialog tanpa kata dari peran
yang ada diluar nalar
aku ingin sekali berada di samping
kanan kiri mereka

tapi kudapati diriku hanya meringkuk
tak berdaya

aku teriak..aku teriak..aku teriak
aku terbangun..aku terbangun..aku
terbangun

shalat subuhku ditemani lahirnya
matahari di ufuk timur….

#14
Langit adalah istana tanpa tiang.Birunya adalah keagungan, putihnya
adalah kebenaran, lapangnya adalah kedamaian,
teguhnya adalah perlindungan.
Berdiri tegak
di bawahnya, merasakan kerapuhan
dan kekerdilan diri.

Kedamaian dan

kejernihan adalah inspirasi bagi
pengertian dan pemahaman.
Mengikat hikmah dalam rangkaian
kata tak terputus di istana langit.
#15
Di sini …
Di jarak waktu ini
Aku menjadi pedih !Mencari cahaya yang telungkup di
balik bukit
Memutuskan satu nadi waktu
Menanti jiwamu yang tak ragu …
#16
Malam kian meninggi,
Fajar bersiap menanti pergantian,
Hawa dingin pun tak terelakkan,
Merasuk di setiap celah pori-pori
kulitku.Hati yang masih berteman sepi,
Tepiskan sejuta mimpi yang
tertinggal,
Rasa sesal pun mulai merambah

pikiran,Sepenggal kisah masa lalu masih
membekas.
Ku rebahkan diri dalam kelelahan,
Berharap malam memberikan
jawaban,

Ku pejamkan mata penuh resah,
Berharap esok menyinari jalanku.

#17
Ya Allah,,
semoga aku dapat
menyiapkan diriku
dalam menghadapi segala kengerian
dengan kalimah-Mu,La illa ha’illa’Allah,
Tiada yang
kusembah melainkan Allah
.

setiap kesedihan dan kedukaan yang
kau tetapkan
aku hanyalah hamba-Mu,
terima kasih atas setiap nikmat-Mu
dibumi iniAlhamdulillah,
segala puji bagi-Mu,
Dan aku ridha..
setiap kelapangan dan cobaan

Asy Syukru Lillah,
bersyukur aku kepada-Mu,
pada setiap hal yang mengherankan,
hanya engkau yang maha mengetahui
lebih daripada setiap pengetahuan
kami,

Subhaanallah,
Maha suci Engkau ya Allah,
Setiap satu dosa yang telah aku
lakukan,
ampuni hamba-Mu ini,

Astaghfirullah,
Aku mohon keampunan-Mu,
terlalu berat untuk aku mendongak ke
langit
terlalu aib segala tingkah laku
manusia-Mu ini

Astaghfirullah,
ampunilah kami..
Dan aku masih ridha..
setiap musibah yang datang ini,

Innaa Lillaahi Wa Innaa illaihi Raa Jiuun,’
segala yang datang daripada-Mu dan
kepada-Mu jualah ia kembali,

Sesungguhnya..setiap qada’ dan qadar-Mu,
aku bertawakkaltu ‘Alallaah, aku
berpegang hanya pada-Mu,
Ampunilah dosa-dosa kami,
perliharalah kami dari kemungkaran.
Setiap kesempitan yang kami lalui ini,
Hasbiyal Laah, cukup hanya-Mu
tempat kami berpegang,
dan setiap waktu agar kami diberikan
kelapangan dari-Mu,
untuk bertaubat dan taat, sebelum
terlambat,

Laa haula walaa quwwata illa billahil Aliy-yil ‘Azhiim,
sesungguhnya tiada daya dan
kekuatanku melainkan dengan-Mu.

7 thoughts on “Poetry on Wall

  1. saya amati semua puisi diatas tidak saling terkait..masing2 dengan kekuatan sendiri..semuanya sangat subjektif dan tertulis dengan bahasa yang bagus..🙂

    persoalan saya..kenapa tidak dipisahkan setiap satu menjadi beberapa post tersendiri sesuai judul dan maksud yang ingin disampaikan..dan dengan mudah kami pembaca menilai dan memahami tanpa kekeliruan dan perbandingan antara satu sama yang lain…

    *saya yang terkeliru..namun ingin sekali membahaskan satu2..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s