Sihir ; Pasir Pesisir

image

mampirlah ke rumahku di pesisir, tempat pasir sering mangkir dari takdir; pasir yang saban hari tak lelah merekam jejak-sementara dan menjadi muara segala tubuh berpeluh; tubuh melaut yang tak pernah mengeluh tapi menyepuh keluh dengan kasidah panjang: debur gelombang kau akan mendengar karang ditanak ombak, tubuh ditabuh riak, kau akan melihat jejak-jejak geraham gemeretak; jejak yang membuatku tetap tegak meski arak menggelegak dan menyentak labirin kerongkonganku hingga serak, kau akan menyaksikan segalanya… meski ada gerak nan liar yang terpendam dalam diam, yang berpusar dalam samar…

mampirlah ke rumahku; kau akan mengerti arti dari tepi: sepi tapi berapi, sepi yang membahasakan buih ke perih tak terpahami; bahasa ombak yang menuntun mata ke palung tak berujung… ; sepi yang katupkan ufuk dengan cakrawala, rapatkan hiruk dengan rahasia; tepi biduk asa yang tak berbingkai kau akan digamit zenit yang menyentuh langit; doa-doa yang berdesing mengakrabi hening; kau juga akan mendengar hingar doa yang meruap arus pasir, memberi ruh pada pesisir, agar tubuh tak lagi berlabuh untuk peluh, tapi jelma lengan-lengan panjang yang menderapkan sejuta harap

ah, tapi kerap doa-doa pun berkesumba, memasu sumur gelap

mampirlah… biar kau tahu, kini arus ‘lah berubah; banyak kanak belajar menghajar nyawa; mereka menghamburkan pasir di udara, dengan hembusan nafas yang telah terampas dari puja; mereka membuat patung pasir gaib sebagai kiblat malaikat pencabut nyawa berdiwana…

kau akan mendengar begitu dupa dibakar, doa-sesat dihentakkan: pasir-pasir akan beterbangan ke ruang samar, memintal korban, memburu setiap lubang tubuh dengan lenguh:

‘bangkitlah kesakitan!’

pasir pun merasuk dan menyerbu darah dengan kekuatan-kekuatan jelaga, sampai terdengar ratap, ratap panjang…. semuanya menyingkir, memberi jalan bagi kematian mengukir akhir siksa pantai pun senyap, matahari gelap, awan berhenti, angin menepi biar kau tahu ketika pasir-pasir itu menyatu darah, mengalir di aorta, lalu bebulir itu lurus ke jantung berdegup: asal-akhir takdir Sang Hidup; pasir itu terus berasus ke ruas nafas, hingga segalanya pun redup; jantung pun langsung memberi jalan pada Sang Maut bertitah:

“berhentilah langkah, berhentilah darah!”

mampirlah ke pesisir, kini banyak kanak memainkan takdir, bermain sihir pasir, rapalkan mantra pengusir alir-Khidr; mereka berlarian di pantai-pantai seperti setapak tanpa akhir; membangun bukit dan patung pasir seamsal jasad yang ‘lah lumat; mulut mereka merajut puja-doa, meski sering pinta berkesumba, tapi kerap pula doa-doa merah —

Posted from wordpress for Android.
Please give a comment.

3 thoughts on “Sihir ; Pasir Pesisir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s