Anak Pantai ; Sebuah Cerpen

wpid-senja.jpg

Minggu pagi.

Irwan duduk ditepian tempat tidurnya,terbangun dari tidur karena suara manja itu kembali terdengar di telinganya. ”Bang,buatkan Adik puisi ya?”. Dengan sigap dia berdiri dan sedikit menggerak-gerakkan badannya,hingga terdengar bunyi kletek-kletek.Dengan senyum puas dia memasuki dapur dan melihat apa saja yang ada di balik tudung saji itu. Ada tempe goreng dan ikan digoreng kering dengan sambal diatasnya,dan sawi rebus bening,nasi tinggal sedikit.Dia tersenyum dan mulai memasukkan nasi yang sedikit itu kepiringnya dilanjutkan dengan lauk
pauk yang demikian menggoda perutnya. Dengan lahap dia menghabiskan makanan yang didepannya. Seperti pepatah mengatakan “perut kenyang hatipun senang”. Pria muda dengan senyum simpulnya melangkahkan tungkainya yang kurus panjang menuju belakang rumahnya. Laut yang biru dengan awan cirrus menghiasi langit,matahari hampir diatas kepala, lambaian nyiur pohon kelapa,dia menutup matanya,membentangkan kedua tangannya menyambut pelukan angin yang hangat,dan hidungnya mengembang menghirup aroma asin air laut.Tenang
dan damai.Irwan kembali masuk kedalam kamarnya,berharap kertas kosong itu sudah ditulisi bait-bait indah puisi romantis.

Semalam suntuk duduk mencoba merangkai kata-kata,mengingat-ingat sesuatu yang indah untuk ide awal penulisan puisi permintaan gadis pujaan hati. Yang ada dia terbangun dan matahari sudah tak lagi menyapa di ufuk timur,matahari sudah dengan pongahnya membagi
panasnya yang mulai menyengat.

Dua hari sebelumnya.

Sepasang anak manusia berjalan dipinggir pantai,menikmati senja.Hanya ada diam diantara mereka. Hingga suara perempuan itu memecah diam.

”Bang, hari minggu ini Adik berangkat…merantau ke Ibukota”.

Irwan terkejut dan menoleh,memandang dalam ke mata perempuan itu.

”Iya,Paman Mukhlis minggu depan balik ke ibukota,sekalian saja Adik ikut.Mencari peruntungan Bang”. Lanjut perempuan itu.

Sementara Irwan,seperti biasa tak mampu berkata-kata,tak ada alasan menolak keinginan perempuan yang dicintainya itu.

”Adik boleh minta sesuatu Bang? Sebelum Adik pergi” tanya perempuan.

”Apa itu? Jangan yang susah-susah, Adik tahu Abang ini hanya nelayan upahan”.

Perempuan itu tersenyum,dan melirik pria itu.

Pria itu merasa aneh dengan sikap perempuan itu.

”Bang,buatkan Adik puisi ya?” pinta perempuan itu dengan nada manja. Irwan terkejut.

”Puisi?”  tanya pria itu meyakinkan.

”Iya Bang,puisi romantis untuk Adik.Bisa kan?”  tanya perempuan itu penuh harap.

Irwan malah tertawa,sambil memegangi perutnya.

”Dik, permintaanmu aneh sekali.Puisi? Abang bukan pujangga.

Dik. Abang ini nelayan upahan,malam melaut, bercinta dengan angin, jala, kail, air laut, itu saja lah yang abang kenal. Siang menjemur ikan asin. Adik minta puisi.. Kenapa Adik gak minta ikan asin saja ? Abang sediakan sekarang Dik,”.

Perempuan itu tersenyum mendengar penjelasan kekasihnya.

”Yang Adik minta puisi romantis Bang,bukan ikan asin”.

Irwan semakin heran akan keinginan perempuan itu. Jadi dia hanya diam, menunggu perempuan itu melanjutkan perkataannya.

”Adik mau puisi itu yang nantinya menjadi pengobat rasa rindu Adik sama Abang selama dirantau orang.Hanya itu kok Bang”.

Irwan bingung dengan permintaan itu. Jelas sekali dia akan kesusahan memenuhinya, dia tidak tahu menahu soal merangkai kata hingga menjadi sebuah puisi apalagi yang diminta puisi romantis, dia bukanlah pribadi yang romantis. Menurutnya romantis itu sama saja gila, pemimpi, dan hidup di dunia antah berantah. Dia meyakini dan melihat semuanya secara realita. Apa yang ada ya itu saja Jangan dilebih-lebihkan atau dibuat semacam pengungkapan supaya terlihat lebih manis dan lebih menggoda.

”Adik tunggu malam minggu nanti ya Bang? Pulang yuk?”.

Irwan gundah oleh permintaan kekasih hatinya itu,berdua bergandengan tangan melangkahkan kaki meninggalkan senja.

Minggu sore.

Di pelabuhan,perempuan itu menunggu dengan sangat gelisah.Bagaimana tidak malam minggu pria itu tak datang dengan puisi yang dia minta. Padahal dia sudah menunggu sampai larut malam.

Pamannya sudah tak sabar menunggu disamping perempuan itu.

”Lama sekali dia,ayolah Nur barangkali dia lupa” Ajak Pamannya tak sabar

”Sebentar lagi ya Paman” bujuk perempuan itu kepada Pamannya.

Dikejauhan terlihat Irwan berlari,ditangannya melambai-lambai selembar kertas. Semakin lama semakin dekat. Hingga akhirnya berhadapan dengan perempuan itu. Dengan nafas satu-satu Irwan berusaha menjelaskan penyebab tak datangnya dia semalam.

“NurKasih Abang minta maaf semalam tak datang, Abang tak ingin menemuimu tanpa membawa apa-apa. Benar-benar susah membuat puisi. Abang hanya bias buatkan ini , cuma empat baris Nur”

Dengan memelas Irwan memberikan kertas yang ditangan kepada NurKasih. Wajah cantik itu terlihat kecewa mendapati puisi itu bukan seperti yang dia minta.Susah payah dia memaksakan sebentuk senyum diwajahnya.

“Bang,bacain buat Adik ya, sekarang?”

Permintaan itu manja tapi tegas.Membuat Irwan gelagapan mau tak mau dia mengambil kertas itu dari tangan kekasihnya.Sebelum memulai membaca tulisannya itu, Irwan berdeham. NurKasih menatap wajah Irwan lekat. Irwan menunduk dengan wajah memerah. Perlahan dia mengangkat wajahnya dengan lantang dan membaca puisi yang hanya empat baris itu. Orang-orang yang lalu lalang dipelabuhan itu,menatap aneh kepada Irwan, gadis-gadis manis tersenyum malu. Tapi demi pujaan hati semua itu diabaikan oleh Irwan.

“NurKasih-ku sayang,
Abang mencintaimu walau lebih dahulu mencintai senja
Pesona senja kemarin bukanlah apa-apa
Dibanding pesona cinta kita berdua”

Wajah NurKasih memerah,senyum manis terukir diwajahnya.

Irwan dengan perasaan lega Irwan memberikan selembar kertas itu kepada NurKasih, yang memang diperuntukkan kepadanya. Diam tanpa kata untuk beberapa menit, hingga Paman Mukhlis mengingatkan kapal akan segera berangkat.  Kedua pasang mata itu saling menatap.

“Saat Kasih pulang,akan ada puisi singkat lainnya,dan puisi romantis.Khusus buat kekasih hati
Abang”

“Tunggu Adik pulang ya Bang..” pesan NurKasih dan tersenyum manis, mengangguk mengiyakan janji si Abang sayang.

Lambaian tangan dan doa untuk sang tercinta mengiringi kepergian NurKasih.

Beberapa Jam Sebelumnya

Irwan masih saja frustasi di depan kertas putih yang masih saja kosong tanpa coretan sedikit pun. Hingga ia sadar, kertas itu tak kan berisi sendiri tanpa dia yang tuliskan. Berulang-ulang kali dia pindah tempat untuk mencari ketenangan. Diteras rumah,anak-anak berlarian kesana-kemari bermain bola. Didapur,adanya dia sibuk mencomoti tempe goreng. Dipohon jambu samping rumah, hampir jatuh beberapakali, di tepi pantai yang ada malah menikmati hembusan angin,hingga akhirnya dia kembali kekamarnya yang kecil dan pengap. Sambil tiduran dia membayangkan wajah kekasihnya itu.  Dan kata pertama yang muncul adalah ‘sayang’. Dia cepat cepat menuliskan kata itu dan kembali berpikir.  Ternyata dewa-dewi sastra memantik otak yang tak kunjung bekerja itu. Perlahan Irwan mulai menuliskan apa yang dipikirkannya tentang kekasihnya dan tentang cinta mereka. Seketika dia tersadar, dia membaca tulisannya itu, dan berseru.

”Hah! Ini puisi! Ini puisi!”

Saking bersemangatnya, sampai lupa memakai sendal.Dengan telanjang kaki, Irwan berlari menuju pelabuhan.

Bulan ketiga

Setelah ditinggal kekasihnya ke ibukota. Irwan mulai mencoba-coba menulis puisi, sederhananya dia menuliskan apa yang dia rasa diatas kertas.

NurKasih-ku Sayang
Ternyata bercinta dengan angin malam, kail dan jala
Bukanlah apa-apa
Dibanding bercinta dengan bayang wajah manismu
NurKasih, abang rindu

Sebulan penuh menikmati senja, tanpa dirimu
Terkadang cahaya senja melukiskan indah senyummu
Dan angin yang berhembus
memperdengarkan lembut suaramu
NurKasih, abang rindu

NurKasih ,  Adik ku sayang
Apakah ibukota memperlakukanmu dengan lembut
Apakah dalam riuh rendah kesibukanmu
Masih terlintas wajah abang dipelupuk matamu
Seperti Abang yang tak sedetikpun
terlewat tanpa memikirkanmu
abang rindu
Pulanglah
___

Ibu Kota

Jauh di ibukota, NurKasih terlihat bersama pria lain bergandengan tangan memilih-milih sepatu disalah satu pusat perbelanjaan. Keduanya terlihat bahagia. NurKasih berulangkali minta pendapat tentang beberapa pasang sepatu yang sedari tadi dicobanya.

“Mas,kalau yang ini bagaimana? Pantas tidak?” tanyanya kepada laki laki berbadan tinggi dan tegap itu.

Laki laki itu menggeleng kemudian menunjukkan sepasang higheels berwarna merah cerah.

“Sepatu itu cocok dikaki kamu sayang,seksi”

NurKasih tersenyum dan memutuskan membeli sepatu berwrna merah cerah itu.

Disuatu senja yang indah

Irwan kembali menyambut senja, duduk santai menikmati karya indah alam semesta. Wajah kekasihnya menari-nari dibenaknya. Rasa rindu itu semakin menggila. Senja yang mempesona tak mampu mengobati rindu itu malah semakin menguatkan, mengingatakan senja yang lalu bersama NurKasih. Irwan menuliskan nama itu dipasir pantai dengan setangkai kayu yang dibawa ombak,

N-U-R-K-A-S-I-H

Tapi ombak menghapusnya, Irwan tersenyum.

NurKasih  sayang

Seribu kali aku menuliskan namamu pada pasir pantai ini

Seribu kali juga ombak datang menghapusnya

Tapi tidak pada hatiku

Cukup sekali aku menuliskan di hatiku

Dan itu selamanya

Irwan tersenyum, semakin lama semakin lebar hingga menjadi tawa saat menyadari dirinya semakin lama semakin mempujangga. Tapi jauh didasar hatinya ada satu kepuasan, suatu saat nanti. Saat kekasihnya itu menginginkan sebait puisi,  berlembar-lembar puisi, tak perlu semalam suntuk untuk
mengerjakannya,saat itu juga saat diminta, kata-kata indah nan romantis akan meluncur dari mulutnya.

Perlahan kaki Irwan melangkah menyusuri tepi pantai, meninggalkan senja yang berganti malam.
Malam itu, kembali Irwan dengan coretan-coretan sederhananya,,,,

Kau adalah aku dan aku adalah kamu
Biarlah daun gugur dan air menetes
Irama senja yang indah setiap kumerindukan hangat telapak tanganmu di pipiku
Aku merindukan senja tapi tak membenci sensasi sejuk embun pagi
Menunggumu sebagai berkas terang di atas basahnya kegelapan

Botol-botol tinta dan lembar-lembar kertas kususun berjejer sesuai tanggal
Pesan janji yang membawa ketegasan

bahwa kau akan kembali dengan cinta yang sama
Tinta di empat telapak tangan
Seperti itulah kau mengenalku, sebagai seorang penunggu

Aku tak pernah menyesal melambaikan tanganku di dermaga itu
Aku selalu bersama ketegasan waktu
Dan remah-remah mimpi yang kau bisikkan hanya ke telingaku
Melihat bayanganmu melintas saat senja menjemput malam
Aku seperti pemimpi

Yang percaya bahwa langit adalah kubah cahaya, dan tanah adalah tahta untuk kita berdua
Gelak tawamu yang selalu membuatku merindu
seperti si kecil yang merindukan bulannya
Dan senja yang menanti pesona cinta kita
Untuk selamanya


Kau adalah aku dan aku adalah kamu

You Are Me I Am You, Dave Koz
* Yang menginspirasi cerpen ini

13 thoughts on “Anak Pantai ; Sebuah Cerpen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s