untuk Bapak ku

“Kita tak mungkin bisa bersatu, itu
kau tau”,

suaranya renyah berbisik.

“Kita… mungkin tak pernah tau”.

Suara lain membalas…

“Tidak. Kita sadar itu dari awal”,

“Kita seharusnya tak menyerah… “

“Aku lelah…”

“Sudah berapa tahun anak kita, jika
  aku tak …?”

Tiba-tiba lelaki itu tersentak bangun dari tidur. Napas di kantong dada tipisnya terengah, tapi Cuma mampu satu-satu. Setitik peluh merayapi dahi kemudian menggantung di keningnya. Matanya kuyu, dicobanya untuk menangkap bayang-bayang jari jam yang menempel di dinding kamar dingin dan remang itu. Setengah satu…
Lima puluh tahun sudah. Mimpi itu lagi… Puisi itu lagi…

Pernah ku saksikan hari yang lebih gemilang
Pagi yang cerah-cemerah,
Lagu yang gugah-menggugah
Kita yang masih berpeluk sayang
Pernah ku cicipi masa tawa memanjang
Di buai kereta-kereta kencana
Di angkasa singasana swargaloka
Kau aku layang-melayang
Pernah ku berkawan dengan kemenangan
Madu dan anggur dari kebun terbaik
Kain tenun-tenunan corak menarik

Berdua dipangung cerlang-cemerlang
Tapi itu aku yang kini menoleh ke belakang
Bayang-bayang beria-ria menyambut aku datang
Kembali lagi ke pelukan kasur dan kursi usang
Kamar yang lelah temaram
Himpitan kitab-kitab malang

Aku menerawang:
Kiranya hari telah jauh malam

Wahai Bapak,, semoga Ibu tenang disana.

Aku Anak mu yang menyayangi mu

Maafkan aku Pak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s