Negeri ku

image

Di negeriku sudah tak ada kartupos
untuk mengabarkan musim-musim
yang berlari lebih cepat dari
lamunan. setiap sajak yang kubajak
selalu gagal membenihkan kecambah
kenangan menjadi bulir-bulir puisi.
inilah kita, terjebak di rimbun embun
yang buru-buru lenyap sebelum
sempat kita taklukkan jernihnya yang
anggun.

Di negeriku sedang musim pertama
tahun ini. tahun di mana kata-kata
telah lelah dan leleh menjadi lolong
tangisan. hujan tak lagi tawar, tak
lagi asam, tak lagi air. hujan kini
kian liar, kini kian kejam, kini kian
airmata. sajak ini kucatat dengan
kata-kata yang selamat, dari amis
musim yang bernanah: abses di
kelamin puisi akibat zinah.

Di negeriku aku mencoba bertahan
untuk tidak selingkuh. begitu banyak
paha dan dada menantang puisiku
serupa lirikan gadis. kucoba tetap
kukuh, sebagaimana batang jati di
musim-musim yang pernah kita
kenangkan setiap subuh jatuh.
kudengar kabar, banyak negeri yang
bubar tersebab tapa yang cabar.
baiklah kita coba bertetap, di musim
apapun, di negeriku yang gemetar,
negerimu yang telantar.

Di negeriku musim pertama kini.
musim yang basahnya menggigilkan
mimpi. kini aku sedang belajar
menghitung pucuk-pucuk lancip
daun bambu cina yang kubayangkan
di pagar depan rumah, tempat sajak-
sajakku kutitipkan hingga hujan reda.
sebab di musim pertama setiap tahun
aku mencatat, airmata mengembun
genangi dada. sedangkan kita setiap
kali mencoba mencari kisah yang
beda. hingga hujan reda.

2 thoughts on “Negeri ku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s