teruntuk Angin

Dua Dunia

Dear Angin

Malam-malamku seperti seorang syahraja yang terus bercerita tentang kamaru zaman, tentang Aladin, tentang Sinbad – sambil sesekali menahan debar apakah syahraya tertarik dengan cerita yang dibawakannya? Angin, mengenangmu adalah menggoreskan mata pisau pada memar sebuah apel merenungi makna ranggas dedaun, juga hidup yang berujung dalam barisan epitaf.  Angin, merindukanmu adalah melayarkan bahtera yang karam di tengah lautan lalu pelabuhan semisal seorang yang menunggu kekosongan. Angin, mencintaimu adalah menyimpan luka dalam sebuah lemari yang
kunamakan kesenyapan, erangnya lebih lembut dari sekedar kapas, lebih sunyi dari derap kaki peri. Angin, mengenang merindukan dan mencintaimu adalah kehidupan itu sendiri, tak pernah kuminta dan tak bisa kuhindari.

Sepertinya kau kini selembut angin pagi dan mimpiku bukan tembok beton yang kukuh namun hanya rumah bambu. Bukankah angin bisa lesat dari celah bambu yang seperti rongga jantungku? begitu galau, teramat risau menerka ku. Kau mungkin segenggam nafas yang bertiup dari balik paru hawa lantaran kubaca artefak semerah darah yang denyar di palung sukmamu. Tentang pencarian serpihan tulang rusuk yang lerai oleh takdir tuhan “padahal aku bukan anjing, kenapa harus mengendus bau tulang” di dasar mimpi yang seperti rumah bambu itu. Kau menari, kukira kau akan menarikan hasrat Rumi semisal rotasi. Ternyata malah menarikan badai juga garis-garis hujan di aorta majnun. Maka erang setajam mata elang memahat sebaris warna-warna kelabu yang menjadi danau dimana hallaj dan jenar sempat membasuh wajahnya.

Kelenjar air mataku adalah sisa nafas seorang salik yang terus mengucap nama Tuhan, meski lelah walau terengah dan tangis yang tak sempurna ini diundang oleh garis-garis sewarna dengan cintaku begitu ungu. Ia terselip dalam sebuah kelokan kisah Jean marais dengan perempuannya yang Aceh tepian pantai itu. Denyut kelenjar air mataku mungkin tak sampai di pintumu, bahkan seribu sajak tentang duri yang tanpa sengaja kau tancapkan, sampai kini tetap berkawan dengan kelengangan. Sepertinya telingamu Himalaya dan suara rintihku adalah pendaki yang kehabisan perbekalan. Kelenjar air mataku semisal seorang penyair di ujung runcing mata pisau, terus menuliskan syair-syair soal bahasa yang tak pernah dipahami di kedalaman nisan dan pesan rahasia yang lelap di rimbun lumut pada sebuah epitaf.

Salam

-Senja-

5 thoughts on “teruntuk Angin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s