Sore

art paper

Sore, disebuah resto fast food kecil yang lengang, seorang perempuan duduk sendirian. Cantik dan fashionable. Rambut panjangnya terurai berat, khas rebonding, menutupi sekian persen wajahnya yang boleh dibilang sempurna. Matanya, ini yang paling menarik, selalu tersenyum dan punya kilau yang seperti tak henti-henti memacu jantung. Bangun tubuhnya seolah menerawang dari balik jeans dan v-neck putih nyaris transparan, sehingga bayangan-bayangan keindahan dibaliknya begitu mudah diterjemahkan. Itu soal bawaan orisinil, belum lagi periferal lain yang menunjang, sepasang kasut Gosh, Jam tangan Guess, plus tas Gucci terbaru kelir perak yang duduk manis di sampingnya. Total jendral, jika ada yang pernah menyapu mata kearahnya, pasti ingin menatap lagi. Sayang, resto lagi sepi. Selain dia, hanya ada seorang ibu berseragam pegawai negeri bersama anaknya lagi menikmati ayam goreng di sudut sebelah. Restonya bersih tetapi agak pengap karena AC rupanya lagi kekurangan freon. Setelan meja-kursi duduknya khas kafe-kafe kosmopolitan: kursi dari metal anodized dengan sandaran plastik warna-warni dan meja plat alumunium dan kaca transparan tanpa taplak. Ada tempat abu rokok dan wadah tisu sekaligus tusuk gigi akrilik di tiap meja. Ada petugas cleaning service bolak-balik mengepel lantai koridor antar-meja dan sesekali melirik kearah wanita tadi. Perempuan itu dan restoran ini. Sebuah perpaduan antara ruang dan materi yang menarik.

Perempuan itu tenggelam dalam kesibukannya memencet-mencet HP keluaran terbaru Nokia yang bisa foto, mp3, video, internet dan entah apa lagi dengan begitu khusuk, layak sedang berusaha untuk menyakinkan dunia luar bahwa ia sedang tidak bisa diganggu. Bahkan semangkuk eskrim coklat yang sedari tadi dipesannya pun harus rela meleleh menunggunya. Ternyata, jari-jari itu sedang mengejakan mantra-mantra di medium modern berupa HP tadi. Begini deretan aksaranya:

Aku dari tadi menunggu, kamu datang ya.

Sehembus nafas mengantar ibu jarinya menekan “send” dan pula itulah sejumlah biner-biner yang sedari tadi menunggu dalam chip memori HP itu mulai ditransmisikan menjadi pulsa-pulsa elektromagnetis yang merambati udara, seolah ruh-ruh yang gentayangan menembusi ruang, jauh sampai kemudian ditangkap sebuah perangkat penerima untuk kembali di relay dengan metode yang kurang-lebih sama sampai di ujung sana sebuah medium kembali menterjemahkannya menjadi sebuah pesan di layar LCD sebuah HP. Selang berapa saat, HP yang masih setia di genggamannya itu mulai bergetar, kemudian nyerocos dengan tak keruan layaknya legi kesurupan arwah dari masa lalu dengan nada-nada tinggi rendah yang, anehnya mirip dengan setelan pita rekaman di angkutan umum.

Tudit! Tudit! Muka Om!.

Tapi perempuan itu sepertinya menjadi lebih tenang sekarang. Seolah sebuah bala telah terangkat dari jenak kehidupannya saat itu juga. Kelar sudah sebuah ritual mistik modern.

Aku menjawab SMSnya itu. Baru saja aku turun dari angkot yang bising dengan power amp 8 kanal dan 4 sub-woofernya, dengan dentuman lagu yang pas seperti ringtone tadi, SMSnya masuk. Sebenarnya buang pulsa saja, karena aku memang sudah sedang menuju tempat itu, sebagaimana yang kami rencanakan kemarin. Sama-sama buang-buang pulsa saja, tetapi pertemuan dengannya bukan sekedar masalah pulsa, ini tentang sesuatu yang benar-benar tidak terjelaskan. Sesuatu yang magis. Sesuatu yang seharusnya tak aku lakukan, tetapi aku memilih untuk melakukannya. Dan aku memang telah melakukannya, karena saat ini aku tiba di hadapannya. Kupandangi dia sebelum menyapanya,

sudah lama? Boleh saya duduk?.

Dia membalas dengan tatapan yang bisa berarti ya dan tidak. Aku duduk di seberangnya dan kami saling bertatapan kira-kira 15 detik. 15 detik yang menyiksa, karena kiranya ada balok es raksasa yang harus dicairkan disini. Kami benar-benar orang asing. Waktu dan jarak memang telah membuat kami jadi manusia-manusia yang berbeda. Pas detik ke 15 lantas dia tersenyum lebar, kelihatannya mengejek.

      kamu berubah ya”

Ya, aku berubah, kataku. Dia juga, Semua sudah berubah. Cuma bedanya, sekarang dia lebih cantik, sedang aku kebalikannya. Ha ha. Aku tertawa.

      apa kabar kamu

Dengan harapan suasana nanti lebih akrab, aku akrab-akraban menyambar mangkuk eskrim di meja, tetapi entah usaha mengakrab atau menjaga jarak, ia berseru, toh masih dengan senyum,

Pesan baru aja.sekalian pesan ayam dan kentang”.

Dia juga mau kentang goreng dan ayam. Dia mengeluarkan lebaran seratus ribuan dari tasnya. Ucapannya tadi tidak menyinggungku. Malah sekarang aku bisa pesan apa saja dengan uang itu. Mungkin juga aku bisa menyimpan kembaliannya. Lumayan, buat ongkos jalan beberapa hari. Sekarang uang lima puluhan pun berharga. Sering aku begini, di traktir ini-itu, di belikan macam-macam. Tetapi, itu aku yang dulu kan? Dulu ketika kami masih lebih mesra dari sekarang. Ketika aku masih kuliah. Ah, dulu. Pernah aku marah setengan merengek, atau merengek setengah marah, minta dibelikan sandal gunung yang lagi ngetren saat itu seperti yang dijanjikannya. Itu pas hari gajiannya. Enak, memang. Tapi itu dulu, waktu aku dan dia masih sedikit lebih muda. Sekarang kan semua berubah.

    “Semua tiga puluh delapan ribu sertus rupiah, pak.”

Mesin hitung yang rakus itu menelan uang kertas yang kuberikan. Gantinya, ia muntah beberapa lembaran lain yang nominalnya lebih kecil. Dua potong ayang goreng, kentang goreng, soft drink large dan semangkok es krim menyesaki nampanku. Setelah uang kembaliannya aman di kantongku, aku berjalan lambat-lambat menuju tempat pasta tomat dan cabe, takut tumpah. Dia bisa melihat aku dari tempat duduknya. Aku pun bisa. Ambil lebih sambalnya, dia berbahasa tanpa suara.

Lahap dia makan. Masih lapar pula, padahal sepotong ayam dan kentang goreng sudah kelar. Padahal tadi eskrim nyaris tak disentuh. Aku jadi mengira-ngira, mungkin ketemu aku membuatnya lapar. Matanya melirik puding coklat yang lagi disantap anak kecil dan ibunya di seberang. Dia mau itu. Dengan lagak yang serius aku menganjurkan dia untuk menunggu sekitar lima menit, sebelum benar-benar memesan makan lagi. Karena, kataku, informasi bahwa perut telah kenyang biasanya terlambat mencapai neuron-neuron otak sekitar lima menit. Aku pernah baca itu entah dimana. Dia mendengarkan, tetapi tetap minta puding setelah lima menit lewat. Aku beli dua. Kami sama-sama makan puding pelan-pelan, menikmati tiap titik kemanisannya, sambil berbincang tentang macam-macam hal. Cerita-cerita itu nanti buat cerpenku yang lain.

Satu jam terbang melayang. Diluar terang mulai lamat-lamat sirna. Matahari sedang beranjak ke peraduan. Resto mulai penuh pas jam makan malam.

kita jalan yu

Dia beranjak. Aku raih tangannya. Aku pandang matanya.

pelan-pelan sedikit”.

Dia layak terhenyak seakan menganggap aku lancang, tetapi lantas tertawa. Yang ini aku tau artinya. Tiba-tiba semua menjadi begitu akrab, begitu familiar, nyaris déjà vu. Aku juga tertawa dalam hati. Lucu. Aku dan dia salah. Ternyata ada yang tidak berubah… setidaknya, Aku dan Perempuan itu…

***

 

 

5 thoughts on “Sore

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s