Biarkan Aku

perahu kertas

Untuk pertama aku berucap
Dengarkah kamu?
Tahukah kamu?
Tentang apa yang terdalam
 
Maafkan aku…
Terlalu letih aku berdiri
Tahukah arti peluh ini?
Mengertikah lelah ini?
Jauh aku melangkahkan
 
Maafkan aku yang lancang
Tak ingin sebenarnya merajut rasa
Tapi tak guna pula aku tak acuh
Karena di sini acuh
 
Maafkan aku yang lancang
Tapi biarkan aku sejenak merindumu
Merindumu hingga aku tak lagi merindumu
 
Maafkan aku yang bodoh
Tapi biarkan aku sejenak mengerti rinduku
Mengerti hingga aku tak lagi mengerti rindu padamu
 
Maafkan aku yang membisu
Tapi biarkan aku sejenak berkata rindu padamu
Berkata hingga rinduku membisu
 
Maafkan aku yang tuli
Tapi biarkan aku sejenak mendengar hati yang merindumu
Mendengarkan hingga aku tak lagi mendengar hatiku merindumu
 
Maafkan aku yang buta
Tapi biarkan aku sejenak melihat rupa rindu padamu
Hingga silau itu membutakanku lagi
 
Maafkan aku yang lumpuh
Tapi biarkan aku sejenak menghampirimu
Menghampirimu hingga aku tak sanggup menghampiri rindu

Maafkan aku yang dulu bangkit karenamu
Maafkan aku yang dulu mencintaimu
Maafkan aku yang dulu menerima kekuranganmu
Maafkan aku yang dulu menerima kelebihanmu
Maafkan aku yang membuatmu bersedih
Maafkan aku yang berkata rindu

Maafkan aku
Tapi biarkan aku sejenak merindumu
Lalu aku akan pergi
 

4 thoughts on “Biarkan Aku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s