Puisi dan Kopi

puisi dan kopi

Segelas kopi yang belum tuntas
kuminum ini mengkristal di dasar gelas
seperti namamu yang mengkristal dan tak bisa lepas

bagaimana mungkin aku menulis sajak yang bisa dibaca

sementara penaku
tiba-tiba menulis namamu tiap dua kata
ternyata aku begitu menginginkanmu sampai-sampai
aku menyerah dan kuputuskan
untuk meremas puisiku dan kubiarkan dibuang

Segelas kopi lagi kau buat dan kau taruh di atas meja itu
siapa tahu nanti kau datang dan mau minum kopi bersamaku
sambil nanti kita bicarakan pelan-pelan  pertanggung jawabanmu ; yang sudah membuat sajakku berantakan

*
Maka bersama regukan terakhir dari gelasku
aku melihat kopi yang kau buatkan untukku
belum lagi diminum tuntas
kini mengkristal di dasar gelas

kita memang belum membicarakan apapun
tapi kau telah mempertanggung jawabkan sajakku dengan santun : dalam otakku, sebagaimana kopi

kau mengkristal menjadi sajak yang menulis dirinya sendiri.

8 thoughts on “Puisi dan Kopi

  1. Saya jadi ingat salah satu bait puisi saya:
    “biarlah secangkir kopi yang kau hidangkan
    begitu pahit dan tiada hangat lagi
    namun kutenggak jua sampai dasarnya
    meski untuk itu…”

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s