Aku ; Dulu dan Kini

ayah dan anak

Anakku, lahirlah engkau, untuk selalu membaca : Dunia ini musti sekolahmu, hidup ini pelajaranmu. Entah siang entah malam, bacalah langit bersama mentarinya, rembulan, gemintang, awan, hujan—dan bacalah bumi nan selalu ceria dengan anginnya, samudera, gunung, hutan, hewan, pun bebatuan, pepohonan, pesawahan.
Bacalah (tentang) insan : apa yang dimakan, simak, pikir-rasakan, ucapkan dan lakukan—dan bagaimana insan arungi riak-riak hayat : entah malam entah siang.
Suatu saat kala semua kauwujudkan dalam hidup pasti ‘kan kaulihat betapa cuma sebutir zarah engkau di hamparan gurun pengetahuan yang tanpa batas atau di balik rahasia kalbu yang tak terungkapkan untuk sekedar tahu Siapa pencipta semua dan bagaimana ; atau, lebih mudahnya, mengapa ikan hidup di air dan mengapa mereka itu berlainan kelamin—Mengapa? Namun, anakku, kau pun terlahir untuk selalu bernyanyi : Kebenaran adalah lagumu, sikap-lakumu denting melodi cinta kasih menjadi lirikmu, nadamu berwujud damai dan, ingatlah, kemanusiaan itu inspirasi, pun aspirasi…
Lalu, bicaralah singkat, Nak, tapi benar dan bijak, bukan ujaran berdaftar kata-kata yang tanpa makna.

Jadilah, anakku, jadilah diri sendiri
laksana gurun pasir si rumah segala pedih yang bukan untuk menjadi istana biru ; atau laksana gunung dan laut sepakat mewujud bukan untuk menjadi rumah batu kerikil.

Jadilah, anakku, jadilah kau diri sendiri
laksana burung garuda melanglang tinggi, membaca ayat-ayat alam petang dan pagi ; atau laksana air yang senantiasa basahi setiap zarah tanah tempat engkau bermain.

Jadilah, anakku, jadilah kau diri sendiri
laksana ilalang bergoyang tiap kali. tanpa lelah, desah, pun tanpa rintih ; sebab engkau bukanlah batu mati yang tengah kesepian di bibir kali tanpa sapa angin dan kicau kenari.
Lalu, berdirilah, Nak, bagai seorang hakim yang memegang traju timbangan nurani, Meski di antara tangkai kanan dan kiri tiada sebuah kenetralan yang sejati.

Engkau, anakku, sungguh, hanyalah engkau
yang segala-galamu bersumber dari mata kalbu.

kini

Di subuhku, 30 hari aku melihat alam dengan hati dan rasa laksana orang buta yang tajam indera perasaannya yang akrab dengan alam berkat sentuhan ; Di pagiku 3,5 bulan aku melihatnya dengan hati, rasa, mata meski mataku hanya bintang kecil terbayangi awan yang kian terang seiring matahari ; Di siangku 30 tahun aku fasih melihat dengan mata, rasa, nafsu sedang hatiku kerap tersembunyi di balik duniawi yang tampak indah, tapi tak tahu kemana mesti menepi ; Di soreku 0,25 x 30 bulan aku sibuk berganti kacamata meski tepi pantai tak kunjung kelihatan pula ; Di senjaku 1,25 x 30 bulan aku melihat dengan rasa, nafsu sebab mataku terkubur sejuta bayang-bayang, sebab mataku begitu akrab dengan kekaburan ; Di malamku ‘sekian’ x 30 tahun aku terbiasi empat sinar : Sinar-hati, sinar-rasa, sinar-mata, sinar-nafsu yang mengejawantah tiga : terang, samar, gelap. Berganti-ganti, memisah, menyatu—sangat kabur!

Di pagiku yang kedua, saat alam tampak berbeda
aku hanya melihat dengan Catatan Agenda tanpa lebih, pun tanpa kurang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s