Sebuah Cerpen tentang Ma’rifat ; Dzikir

dzikir

 

Ruangan mulai hening membisu, tidak bersuara sepatah kata pun. Lampu gantung yang redup merenung masih membias ke sudut demi sudutnya. Temaram lampu dan sunyi itu kadang kala batuk-batuk ringan.

Kami duduk tawajjuh penuh khidmat. Membentuk lingkaran bagai orang berkenduri, di langgar dingin dan retak-retak sebagian. Perhatian tercurah pada kekhidmatan tawajjuh. Lutut per lutut seakan terikat erat dalam ikatan mata rantai. Ya, duduk melingkar berantai! Tak terlewat, bijih tasbih sudah ada melingkar di jemari kanan, siap dihitung-hitung.

Kiai memberi isyarat : tasbih pun gemericik diremas-remas. Lirih sekali. Itu pertanda dzikir dimulai. Mata kami pun terpejam. Pikiran dan perhatian kami menyatu dalam satu titik. Bahkan seluruh panca indra terpusat kental pada (fisiknya) sekepal daging. Kalbu.

Kiai memberi isyarat ketiga kalinya. Itu pertanda kami mesti mulai membaca dalam hati kalimat-kalimat dzikir. Hening. Gemericik tasbih pun kemudian bersahutan. Kami larut dalam dzikir.

Heran… Aku bagai orang tak berdaya. Cuma jemariku saja yang masih memetik perlahan bijih-bijih tasbih. Aku merasa seakan begitu terkucil. Aku lemah, duduk dalam keterpisahan dan keterasingan.

Aku sungguh bagai orang mati. Sendi-sendi tulangku lunglai, lenyap kekuatan jasmaniku, remuk hatiku bak pelataran tak terurus, bak gedung tak berpenghuni, bak mesin kehabisan daya. Aku bagai orang buta-tuli : seakan bibirku bengkak nyeri, gigiku tanggal, lidahku bisu-kelu dan kasar, rahangku bernanah, kedua tanganku lumpuh dan tak kuasa memegang sesuatu pun kecuali bijih tasbih. Kakiku gemetar penuh luka, dan tubuhku bagai mayat diangkut ke kubur. Aku mendesis-desis ringan.

Tiba-tiba tubuhku ringan bagai kapas. Dihembus angin semilir. Melayang ke angkasa, lalu jatuh perlahan ke bumi. Aku bersyukur. Menghadap kiblat. Merenung…

Aku terkejut ketika mendengar ucapan salam. Tanpa kutahu, tiba-tiba sesosok gadis muncul di depan mata batinku. O, Fatimah anakku! Nyaris aku berteriak. Dia sedih, senyumnya layu, matanya berkaca-kaca. Bibirnya bergerak-gerak kecil akan menangis.

“Ada apa?” tanyaku lirih.

“Umi, bah….”

“Lho, ada apa?”

“Ya. Kandungan umi melilit-lilit. Empat hari umi pingsan. Makanya aku diutus jemput Abah.”

“Tidak, Abah belum ingin pulang. Lagian, Abah toh sudah pamitan dengan umimu. Abah tak akan pulang sebelum selesai dzikir.”

“Tapi, Bah, bakda Maghrib tadi aku diutus menjemput beneran. Tampaknya adikku yang lucu akan segera lahir.”

Aku terperangah sejenak.

“Maafkan Abah. Katakan pada umi, tujuh hari lagi baru Abah akan kondur. Ya?”

Anak itu makin pasi, sorot matanya kosong. Pelupuknya perlahan basah oleh butir-butir air bening. Dia menghiba, memohon kepulanganku. Tapi aku tahu semuanya, konteksnya, sebagaimana nasihat kiai sebelum berdzikir.

Kurapatkan mataku. Tuhan semata yang kumaksud, ridha-Nya yang kutuntut. Bibirku, wajahku, telapak tanganku, kulitku, dagingku, tulang-belulangku, uratku, ubun-ubunku, darahku, nafasku, pikiranku, seluruh rasaku, hati jiwaku, sukmaku, dan hening sepiku ikut berdo’a dalam dzikir. Jemariku masih memetik bijih tasbih.

Hilang! Ya,  Fatimah  tiba-tiba hilang tanpa bekas! Ke mana dia? Ah, bukan. Dia tentu bukan Fatimah. Jelas, itu  hanya bayangan Fatimah: sesosok iblis yang mengambil bentuk Fatimah.

Aku terus berdzikir. Aku menggenggam kesadaran jiwa yang tinggi : hakikat di bawah kesadaran itu. Ku ingin kosong, lepas dari keterikatan dan keterbelengguan. Entah, kurindukan kebebasan jiwa dalam sunyi-bisu. Yakni, kesadaran jiwa yang ternaungi mega-mega ridha-Nya yang maha dahsyat.

Tiba-tiba terbayang isteriku Saleha, menggeliat-geliat. Dipegang-pegangnya kandungannya. Mulutnya mendesis-desis, matanya melek-merem menahan sakit.

Wajahnya pasi. Tangannya menggapai-gapai agar kuelus-elus ; seakan minta digendong. Dia memelas bagai anak kecil. Tak sepatah kata pun terucapkan, tapi aku tahu maksudnya.

Hampir saja aku merangkulnya dikala aku tidak boleh menyentuh wanita. Aku sedang I’tikaf dan berdzikir. Sekalipun dia isteriku, lupakan hal itu hanya untuk berdzikir. Akhirnya Saleha pun menghilang dari mata batinku.

Diam-diam aku bersyukur. Keyakinanku tak goyah oleh godaan demi godaan. Setiap kali godaan muncul, seraya ku ucapkan kalimat doa yang telah diajarkan kiai. “Ya, Tuhan, Engkaulah yang hamba maksud dan ridha-Mu yang hamba tuntut…”  Aku mengeja nikmt-Nya, tapi mana kuasaku?

Sesosok tiba-tiba juga duduk tawajjuh di dekatku. Kupandangi dia sejurus.

“Siapa kau?” Bentakku keheranan.

“Hati nurani mu !” sahutnya tegas.

Benar kiranya, pikirku. Wujudnya persis aku. Hanya saja dia tampak lebih berwibawa daripada aku. Keningnya bagaikan memancarkan kilauan cahaya kedamaian. Senyumannya khas dan bersahaja. Polos, sederhana, tapi memancarkan keaslian,dan kewibawaannya. Aku makin heran.

“Apa maksudmu menemuiku?” tanyaku kemudian.

“Cuma Tanya apa yang kau cari.”

“Apa pedulimu?”

“Terlalu banyak untuk kusebutkan. Aku selalu menguntitmu kemana dan apa saja yang kau perbuat. Bahkan aku selalu memperingatkanmu bila kau khilaf.”

Aku paparkan semuanya tentang mengapa aku masuk dalam jamaah dzikir dan apa yang aku dambakan.

“Bagus, bagus,” dia memujiku. ” Tapi rasa-rasanya kau kok belum pantas menempuh jalan itu.” Dia tampak mengerutkan keningnya.

“Kenapa begitu, hah?”

“Tanya dirimu sendiri kenapa begitu.” Senyumnya tipis, sukar ditebak apa maknanya.

Kini dia menatapku tajam-tajam. Dia bagai tengah membaca lembaran hitamku dimasa silam. Dia tak ubahnya seorang jaksa sedang membaca dakwaan lengkap di muka hakim, sedang aku sebagai terdakwa Cuma mendengar. Aku geram diam-diam. Tapi dakwaan itu terlalu lengkap dan akurat untuk dipungkiri. Aku Cuma menahan geram yang nyaris meletup-letup bagai mesin pesawat terbang.

“Tapi aku harus berusaha meniti jalan ini,” belaku.

“Dan aku yakin akan bisa.”

“Entahlah. Aku yakin bisa.”

“Dengarlah, ke-dirian manusia itu ponggah, darinya tumbuh dambaan palsu. Jika kau menyatu dengan kebenaran, dengan menundukkan dirimu sendiri, niscaya kau milik-Nya dan jadi musuh dirimu sendiri.”

“Sama saja toh, saudara. Menuntut esensi hakikat diri harus berani menjadi musuh diri sendiri, yakni ke-dirian yang penuh hawa nafsu.”

“Nggak mungkin itu. Aku hidup bergaul dengan masyarakat. Problema begitu ruwet, nilai-nilai serba simpang-siur. Mustahil aku mengasingkan diri seperti sufi-sufi tempo dulu.”

“Hei, sobat. Mencari hakikat diri dan menjadi musuh ke-dirian tak mesti asing secara lahiriah dari manusia lain. Ada celah-celah waktu dan ruang di mana atau kapan kau bisa asing tapi tak asing. Justru ini cambuk penempa daya batinmu.”

“Tidak. Malah akan kucoba menggabungkan keduanya.”

“Hah? Lucu sekali, sobat. Ya, sungguh lucu!.”

“Apanya yang lucu?”

“Lho wong keduanya saling berlawanan. Mana bisa disatukan? O, jelas tak bakalan akur. Jangan-jangan malah konslet, seperti listrik. Dan bukankah bersedekah dengan uang curian itu sama saja dengan membuang sampah?”

aku makin geram. Kurapatkan mataku sambil membaca doa pemberian Kiai. Tiga kali. Tapi … aneh. Bayangan itu tak lenyap sebagaimana kasus sebelumnya. Dia malah tampak makin berwibawa. Dia tersenyum lalu terkekeh-kekeh.

“Aku tahu apa yang kau usikkan,” ujarnya kemudian. “Rasa hatimu? Nyeri dan penat tubuhmu? Aku tahu itu. Tak ada gunanya kau mengelak atau berkilah.” Matanya tertuju padaku tanpa kedipan.

Lagi-lagi dia mengeja ikhwalku. Tak terlewat sedikit pun jua. Huh! Ingin kujitak kepalanya, atau kutinju rahangnya. Tapi mana kuasaku?

Aku memandangnya dengan mata batin. Dia lakukan persis apa yang sedang kulakukan. Menghitung-hitung bijih tasbih. Membungkuk sedikit. Kepalanya mengarah pada ulu hati. Terkadang tangan kirinya bergerak-gerak., menggaruk rasa gatal bagai disengat tawon. Tubuhnya kembali ke semula. Kakinya pun digerak-gerakkan. O, rupanya dia bukan berdzikir sendiri tapi lebih sengaja menyindirku. Ya, itu persis ulah-ulahku.

“Bagaimana? Kau masih ngotot? Tak mau jadi musuh dirimu sendiri dan melenyapkan ke-dirian?”

“Aku tak ingin gegabah.”

“Jangan terlalu berlogika, sobat… Pikiran adalah stratum dimensi lain dari jiwa atau kalbu. Ia laksana burung terbang diangkasa, sedang jiwa adalah angkasanya. Pikiran dan jiwamu tak punya daya bila patah sayapnya, sedang jiwa tetap melingkupi jagad logika itu. Bila tidur, misalnya, pikiran tak berdaya alias lelap istirahat, tapi jiwa tetap membumbung tinggi menyentuh setiap celah langit dan cakrawala. dzikirmu tak perlu logika-logika segala. Modalnya niat jiwa (kalbu) dan pasrah….”

“Tapi, sekali lagi aku ingin menemukan kebenaran. Ya, kebenaran hakikat diri tanpa memusuhi diri sendiri,” belaku lagi.

“Sobat, jangan kau katakan menemukan kebenaran, apalagi kebenaran hakikat diri, bila toh nanti kamu menemukannya. Lebih baik kau merasa menemukan sebagian kecil kebenaran itu. Ingat ini! …- Untuk itu, kau harus, harus sekali lagi harus, memusuhi ke-dirianmu bila ingin menemukan ‘sebagian’ hakikat diri itu.”

“Tapi… “ Aku menghela nafas . ”Aku kan sudah menemukan jalan jiwa yang menuju ke sebagian kebenaran itu?”

“Jangan lupa kau katakan itu. Lebih baik kau bisikkan, kau menemukan sesosok jiwa yang berjalan di jalanmu. ‘jiwa’ yang kau maksud itu Cuma sebagian kecil dari sosok-sosok jiwa yang hidup dan bergerak–gerak pasti. Sebab, jiwamu itu berjalan di segala jalan, tidak menurut garis…”

“Jadi??”

(terlalu banyak pembelaanku, dengan segala kilah dan logika. Tapi dia agaknya begitu tegar bagiku. Aku jadi kewalahan.)

“Percayalah, sobat,” katanya dengan suara lembut. “Percayalah, aku akan membantumu.”

“Jangan sok.”

“Benar.”

“Caranya?”

“Ke-dirian manusia itu teramat ponggah. Keluarlah dari ke-dirianmu. Jauhilah ia. Buanglah ke-akuanmu sampai tak tersisa dari kalbumu, ya dari sisimu. Dan berpalinglah hanya kepada-Nya semata…”

“Aku tak mengerti.”

“Keluarlah dari ke-akuanmu bagaikan seekor ular keluar dari selongsong tubuhnya. Segala kebajikan terletak pada memerangi ke-dirian dalam setiap hal dan keadaan yang bathil. Maka jika ada kesalahan, tundukkanlah ke-dirianmu hingga kau terbebas dari keterikatan, ketergantungan, dan keterbelengguan manusia lain. Rindukanlah sebuah perjumpaan atau liqa’ dengan-Nya pada pendapa sutra yang dinaungi rahmat hidayah-Nya. Jangan berkedip bila memandang nur-Nya. Contohlah tatkala nabi kita shalat, dari kalbu beliau terdengar gemuruh bak air mendidih di dalam ketel, karena intensitas ketakutan yang timbul dari penglihatan atau ma’rifat beliau akan Kekuasaan dan Kebesaran-Nya…”

“Bersabarlah dalam dzikir. Tegarkan kesabaran itu. Semoga kau menang dan beruntung. Kau harus mati dalam hidup, hidup dalam mati. Bila matang dzikirmu, kau berada dalam keadaan mati yang hidup, hidup yang mati. Rohmu sudah menembus kedamaian alam yang abadi. Tiada jarak atau hijab antara rohmu dan nur agung Ilahi. Itulah esensi tertinggi dari sebuah dzikir.”

Aku masih mendengarkan. Jemariku juga masih memetik bijih-bijih tasbih.

“Dan ingat-ingatlah, bila nanti kau sudah menemukan nur hakikat diri… berlindunglah kepada Allah dari kebutaan sesudah memiliki bashirah, dari keterpisahan sesudah mendapat petunjuk, dan dari kekufuran sesudah beriman…”

Aku menunduk. Aku tidak kuasa memandang, apalagi menatapnya. Maka pejaman mataku. Aku terus berdzikir, tanpa henti-hentinya.

Tiba-tiba kurasakan getaran tenaga gaib, bagai stroom listrik, menyentuh persis mengenai ubun-ubunku. Ia menyusup terus…. Dan menyebar ke seluruh bagian tubuh. Aku bagai mendapat tenaga baru. Sejuk dan nyaman. Cless…. Membasuh hati dan jantung. Cless… Clessss…

Namun getaran itu pun perlahan mulai berkurang. Bahkan ia berubah, menghangat. Hangat dan makin hangat… dan panas! Ya, sekujur tubuhku kemudia terasa panas. Aku bergidik-gidik ngeri atau menggeliat ringan. Aku mendesah dan mendesis-desis menahan hawa itu.

Sejuk lagi. Alhamdulillah. Panas lagi. Oh, Masya Allah. Sejuk lagi. Dingin. Sejuk. Hangat. Hangat. Hangat.

Hawa hangat itu belum lagi hilang. Kiai sudah memberi isyarat usainya dzikir. Aku belum mendapat apa-apa, lemah kehabisan tenaga. Tatkala kupandangi sekeliling, kudapati, sebagian besar teman-temanku sudah ketiduran pulas.****

6 thoughts on “Sebuah Cerpen tentang Ma’rifat ; Dzikir

    • Terima Kasih Pak atas komentarnya
      Cerpen itu trcipta setelah sy membaca beberapa buku tentang ma’rifat.. Buku2 yg dahsyat,trlalu dalam untuk dipahami atau mungkin otak sy yg trlalu dangkal untuk bisa paham.
      Cerpen itu sy buat menurut kadar pemahaman sy. Mudah2an yg membaca bisa mengerti. Untuk ke arah pemahaman, sy sarankan untuk membaca buku2 tentang ma’rifat dan seorang pembimbing yg paham betul apa itu ma’rifat.
      Jujur saja, jika setengah2 kita belajar tentang ma’rifat, bisa2 kita jd stress.

      Like

      • Betul Kang Acep, sebelum mempelajari ilmu ma’rifat kita memang harus sudah memiliki dasar-dasar yang kuat. Saya kadang ngobrol juga dengan teman yang sedang berusaha mendalami ilmu itu, baru sekedar ngobrol. Minimal jadi tahu sedikit (luarnya), sehingga bisa berjaga-jaga bila suatu saat ingin membaca buku-buku tentang ma’rifat. Maksudnya, bila sudah hampir stres terus berhenti melanjutnya gitu, he…he..

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s