Kitab Kehidupan

al-quran

Dalam kolong waktu yang kian penat membawa luka tertatih-tatih merambah sudut-sudut senyap gulita, insan tua coba mencari lembar-lembar kitab berserakan di antara celah langit dan persada yang kian menua yang bisa berbisik lewat huruf-hurufnya

: Simak, simaklah, pesan lebah yang telah rela tawarkan sesarang madu dan tembang pelipur lara
: Baca, bacalah, hikmah pesan ilalang bergoyang yang senantiasa rela berdoa siang dan malam.

Diseretnya kaki rentanya yang telah terkikis masa sambil menggendong sebakul sajak daun kerontang yang lama meronta terkurung gedung-gedung raksasa dan terpanggang oleh jilatan udara penuh jelaga ; lalu dipungutnya selembar lagi dari kitab

: Lihat, lihatlah, keramahan tak lagi menyapa dengan setali bunga anggrek atau mawar.

Ditatapnya langit dan gulungan mendung pekat menanti jawaban yang gelegarnya luruh dalam bisu dan tertelan derit mesin, knalpot, pun jerit massa

: Dengar, dengarlah, mengapa kini tubuhku yang layu tega kau lumuri darah kau hujani belati dan parang hingga buncah-buncah luka lama kian anyir menganga?

Terseok-seok ia memanggul teka-teki kian berkarat dalam sudut-sudut hati yang tak henti teriris-iris

: O, kemana lagi hendak kutemukan lembar kitab suci yang kepadamu menerangkan suara Ilahi yang bertebaran di antara gelisah bumi dan rintih-tangis langit?

“Bukan Aku yang kini enggan mencintai tapi kau telah lupakan luruhnya embun pagi ; Bukan Aku yang tidak sudi mengakrabi tapi kau telah memahat jarak selaksa lebih.”

Meski ia sadar bukan sebagai Sisyphus atau Rummi, dikumpulkannya lembar demi lembar kitab abadi yang dipungutnya dari cawan-cawan fakir miskin.  Lalu, dengan napas tersengal, dipanjatkannya doa sekeping

: Kapan, kapankah, ya Rabbi, ya Pembaca hati Kau abadikan tembang ibu yang melipurku semasa bayi?

“Ah, doamu hanya buih-buih yang kian mengelabu mengusir kepiting pantai dan burung-burung rantau hingga tembang merdu pun tak lagi sudi sejuki hatimu.”

Napasnya kian tersengal, terhimpit ruang menyempit yang diciptakannya dengan pagar duri tanpa tepi ; lalu, dengan suara berat, bergumam ia dengan lirih

: O, anakku, catatlah ini adalah suatu pencarian butir-butir sari tersisa di jalanan yang berduri, sebuah kitab yang bisa bertutur bagai insan bijak yang mengundang ku menyimak suara emasnya. Tertambat oleh aliran kejernihan madu nurani dan dari wujud keutuhannya kutemukan jati-diri

— ada atas tiada dan manusiawi atas hewani—
yang bakal mengekal bukan hanya dalam memori.

: O, anakku, ingat, ingatlah ini adalah saksi perjanjian atas arus laut yang sudah lama lupakan riak-riaknya ; sedang aku terapung-apung menggapai sebuah kitab
yang terhantam badai hingga terpental entah kemana sambil melukiskan amanat makna di wajah fatamorgana.
: Aku hendak melanglang bersama angin senja menyusupi sekian lorong-lorong kesunyian nurani di tengah-tengah sandiwara ruang dan waktu basi dan coba menyingkap tabir si benar dan si bathil, memaklumkan kesungguhan atas kepura-puraan yang membelaimu dengan kasih damai, mungkin — bagai Romeo mencumbui Juliet dengan samudera cinta.

Kini ia melangkah lunglai dalam desah napas hambar seakan ia melonglong panjang terhimpit setungku bara, hingga suaranya membubung tinggi bersama kepul asap

: O, anakku, buka, bukalah lebar mata bathinmu untuk saksikan debu-debu peradaban lembayung dan memahatkannya dalam prasasti sajak-sajakmu
sebab aku, oh, aku tak lagi kuasa atas laksa waktu..

2 thoughts on “Kitab Kehidupan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s