Kerinduanku

Kubiarkan cahaya bintang memilikimu
Kubiarkan angin yang pucat dan tak habis-habisnya
Gelisah, tiba-tiba menjelma isyarat, merebutmu
Entah kapan kau bisa ku tangkap.
 
(nokturno – sapardi djoko damono)

***

kerinduan
 

Di malam sepertiga awal juni ini, kau kembali menjamah imajiku lewat puisi sapardi. Seperti ingin kau banalkan rindu ini menjadi adiksi. Begitu kejam kah kau hingga ingin memenjarakan ku sampai mati?

Ingin kubunuh tunas rindu yang tumbuh tiap pagi. Tapi aku tak ingin takdir kita bersemi dalam nujuman sapardi, dengan “ dihapuskan nya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu dijalan itu “. Hujan bulan juni, selalu menyemai aksentuasi nyeri pada munajat juni ini. Adakah jejak-jejakku terhapus dipekarangan hatimu?

Mestinya tiap adiksi adalah luka yang tak kekal. Sebab akan ada yang tanggal pada waktu yang tak kunjung kita kenal. “ kenapa perjumpaan kita harus disepertiga jalan ini? “. Ah, kau terlalu tabah menyimpan rahasia diam, dengan “ dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu”. Masih kah kau ingin menyimpan rindu dilaci hatimu?

Tapi aku ingin seperti hati sapardi yang selembar daun. Jadi, “ biarkan aku sejenak berbaring disini : ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput. Sesaat adalah abadi, sebelum kau sapu tamanmu setiap pagi ”. akupun tahu, merampasmu di sepertiga jalan adalah kesesaatan yang abadi. Maka, masihkah kau ingin menyapu taman hatimu?

Barangkali hanya riuh percakapan yang bisa kita kenang : semak yang membelukar di hutan maya, pesan yang memanjang di ujung malam. Bukankah pernah ku sampaikan kepadamu bahwa sajak ku adalah isyarat yang tersesat sebelum akhirnya tiba hanya untuk mengabarkan ; aku menua, pun barangkali telah tiada?

Cinta adalah getar sukma yang ingin kau ikat kuat-kuat. Dan mungkin takkan kudapat. Ya, takkan kudapat. Aku hanya menemui mu sampai gang tua di pertigaan jalan itu. Tapi, aku akan merebutmu kembali, meski “ entah kapan kau bisa ku tangkap “. Karena hidup tak pernah sia-sia. Dan aku tak pernah lupa, “ betapa parah cinta kita mabuk berjalan diantara jerit bunga-bunga rekah “.

 

Salam Rindu

Djingga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s