Separuh Agama

nikah

Barangkali memang sebuah keniscayaan bahwa manusia tercipta dengan naluri rindu. Sebuah entitas kodrat yang mampu meletakan rasa pada subjektivitas yang paradoks. Rindu telah melahirkan berjuta absurditas yang kompleks. Bagaimana mungkin dua entitas yang berbeda bisa muncul secara bersamaan Bahagia sekaligus Gelisah. Senang sekaligus khawatir. Ini logika rindu. Ya ini, ini masih tentang Rindu

Lalu apa yang bisa kita sarikan dari relasi aksiologis antara rindu dengan Separuh Agama? Untuk menjawabnya, marilah sejenak kita melakukan refleksi terhadap salah satu hadits Nabi tentang term “separuh agama” ini.

Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya: “Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi”. (HR: Thabrani dan Hakim).

Substansi etis yang hendak disampaikan hadits di atas sepertinya bermuara pada penanaman modalitas iman yang dicapai melalui hubungan pernikahan. Nikah, secara literal berarti al-dhammu wa al-jam’u, yakni bersatu dan berkumpul. Bersatunya dua insan dalam sebuah frame yang melegalkan bentuk hubungan “lahir-batin” itulah yang dimaksud dengan nikah secara terminologis-legal-formal hukum Islam. Implikasinya, setiap ‘hasrat’ yang muncul dalam konteks pernikahan yang sah selalu bernilai pahala. Sesungging senyum yang direkahkan seorang istri adalah ibadah. Segenggam nafkah halal yang diberikan suami adalah ibadah. Bahkan rayuan di antara keduanya adalah ibadah.

Jika demikian, sangat mudah untuk mendapatkan separuh agama,bukan? Lantas, bagimanakah dengan separuhnya lagi? Di sinilah krusialitas narasi kerinduan yang ditanamkan dalam ladang keluarga yang hendak menikah menemukan pijakan relevansinya. Bahwa sebuah festival pernikahan saja tidak cukup untuk mendongkrak spirit pasangan mempelai tanpa dibarengi keikhlasan dan kepasrahan total. Logikanya sangat sederhana; bagaimana mungkin akan terbangun mahkota keluarga yang harmonis dan penuh canda tawa bila masing-masing pasangan, hidup dengan “dunianya sendiri”? Bagimana mungkin akan terwujud rumah impian “baiti jannati”, bila masing-masing pasangan tak pernah memelihara ‘rasa’? Sebab,tidak menutup kemungkinan masih banyak Siti Nurbaya terlahir di abad milenimum ini.

Dari analisa di atas, spirit kerinduan merupakan ruh yang mampu menegakkan pilar-pilar pernikahan benar-benar menjadi separuh agama, bukan sekedar ritual formal yang kering makna. Pernikahan adalah gerbang awal yang mampu membangun peradaban keluarga menjadi kebun surga.

‘Alaa kuli haal, betapa banyak ayat Qur’an dan hadits Nabi yang menjelaskan signifikansi menyempurnakan separuh agama ini. Saya pribadi, meski belum menikah, lebih bisa mengatakan bahwa mereka yang sudah menikah akan punya ladang amal yang jauh lebih besar dari yang belum menikah. Menikah adalah ibadah. Bahkan pada titik yang lebih ‘ekstrem’, ada tulisan seorang ustad yang menerangkan bahwa berhubungan badan dengan istri itu adalah kenikmatan surga yang diberikan sebagai persekot di dunia ini bagi manusia. Sobat boleh setuju atau tidak, silahkan.

Loh ibadah nikmat kok nggak dijalani. Begitu seloroh sang Ustad…🙂

 

Posted from WordPress for Android

4 thoughts on “Separuh Agama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s