Mendaki Ramadhan

ramadhan

Hari Pertama

perbekalan ternyata tak cukup hidangan sebelum imsak. telah kubuang hal-hal yang tak berarti dari dalam ranselku. kureguk air kesabaran sebelum adzan subuh berkumandang, kukemas tenda keikhlasan, senter kerendahan hati, ponco dan jaket ketenangan

detik-detik melaju, aku masih berjalan pada dataran. melewati pohon yang tengah ranum berkah, rimbun rahmat, tapi kerikil semakin bertebaran

dzikir dan tadarus setia menemani langkahku di hari pertama mendaki tebing ramadhan.

*

Hari Kedua

senyummu pada siang yang gersang telah mengantarkan ribuan semut dalam
batinku berdzikir, menyebut Nama yang satu. rangkaian doa dari puisi para sufi
terbang, melewati lembah-lembah sunyi, padang-padang tandus, ladang dan ilalang
tapi langkahku terlalu tergesa, lupa mengeja ayatMu yang dikirim angin juga rimba

di penghujung hari, ketika senja telah bermukim. sebuah doa pendek terlantun
mengiringi seteguk air pada gerbang kemenangan

Tuhan, terimalah perjalananku pada hari kedua mendaki tebing ramadhanMu.

*

Hari Ketiga

Jalanan mulai terjal, matahari menelanku siang ini. ada peristirahatan tanpa rencana.
mengeja hurufMu ternyata sulit. aku ragu pada persimpangan jalan itu. peta yang kubawa tak bisa mengantarku tiba-tiba. tangantangan kesabaranku masih terus menggapai-gapai

Tuhan, aku berdarah dihari ketiga, mataku rabun, kepalaku terantuk batu. aku musafir yang menyeret luka sepanjang perjalanan. dan matahari tak memberiku waktu, aku terus menyeret luka, menempuh perjalanan dengan kaki pincang, aku terkapar pada senja yang kelam

tuhan, aku telah sampai di senjamu dengan luka yang memanjang.

*

Hari Keempat

langkahku masih terseok, tapi seteguk keikhlasan pada pagi buta telah membangkitkan kaki kalajengkingku, menapaki tebing yang semakin hari semakin terjal
awanMu begitu biru siang ini, ribuan sungai dihinggapi burung sebagai istirah pertama. dan rasa sakit hilang diterbangkan sayap-sayap suci pada langitMu. seperti kehilangan yang membahagiakan dan kebahagiaan yang menghilangkan duka

rinduMu dihantarkan angin, mengabarkan seribu satu kisah tentang perjuangan melewati badai dan gelombang. maka sambut cintaku dalam perjalanan ini, sebab satu lagi kisah akan dibangun atas nama kesucian

inilah cintaku!
tunggulah di gerbang kemenangan, aku akan meminang fitrahMu.

*

🙂 Bersambung🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s