Nasehat Seorang Sahabat

Nasehat

Dear Acep

Saat dirimu membaca surat elektronikku ini, jangan pernah berpikir bahwa ini sebuah nasehat. Sebab aku belum terlalu tua untuk bisa menulis sebuah nasehat yang bijak. Anggap saja aku tengah berbagi masa lalu padamu. Sesuatu yang tidak penting bagimu, namun dengan mengetahuinya, kau akan lebih matang memilih jalan.
Ketika kau mencintai jarak. Sesuatu yang sesungguhnya begitu asing. Sesuatu yang kau harap bisa membawamu pada arti bahagia, mungkin juga akan membawamu pada wilayah yang lain. Dengan mencintai jarak, maka kau harus bersiap kecewa, bersiap patah hati dan terluka. Aku tidak sedang menakut-nakuti. Namun selalu ada yang mengintai dari jarak yang tak mungkin bisa kita lipat.

Aku tak tahu, sejauh mana kau mencintainya. Atau dia mencintaimu. Aku hanya mengenal jarak jauh sebelum kau mengenalnya. Aku tahu bagaimana rasanya rindu dendam memahami waktu, mencoba bersiasat dengan tepat, menebak-nebak, sedang apa sesungguhnya dia. Aku tahu bagaimana rasanya berdamai dengan sebuah situasi, sebuah kondisi yang seringkali membuat kita ingin mati tapi tak ingin bunuh diri.

Tidak ada yang salah dengan jarak, jika kamu mengenalnya lebih dari kamu mengenal saudaramu. Namun jika kamu mengenalnya hanya sebagai bayang dari kisah remang-remang. Bersiaplah untuk angkat jangkar. Berlayarlah kembali. Hadapi lautmu sendiri. Carilah pulau yang mampu kau rengkuh. Agar perahumu bisa benar-benar berlabuh. Utuh. Agar kelak, kau benar-benar bisa merasakan hangat airmatanya, indah senyumnya, dan dadamu bisa bergetar karenanya. Jangan bertahan pada wilayah yang kamu sendiri tak mengenalinya.

Dalam gelap sekali pun, akan selalu ada cahaya yang menuntunmu. Maka, tegaklah berdiri sebagai laki-laki. Tinggalkan dunia bayangmu itu. Lalu tatap harimu yang penuh matahari…
Aku akan selalu ada, saat kau perlu tempat bercerita.

Salam
Saepuddin

4 thoughts on “Nasehat Seorang Sahabat

  1. dear Acep,
    Would it be okay with you and your friend, Saepuddin, if I used his line from above: “But if you know him only as the shadow –the tale is dimly lit ” as a jumping point for a poem? I will give credit to Saepuddin of course and write his name on my blog as the author of that line. What do you think?
    Jane

    Like

  2. Dear Acep,
    I read the wise words of your friend, Saepuddin…I wished that I had had his counsel in my years…you are so blessed…
    Part of the translation read:
    “There is nothing wrong with the distance, if you know him better than you know your brother. But if you know him only as the shadow of the tale is dimly lit. Get ready to lift anchor. Sail back. Lautmu own face. Look for the island that can embrace you. So that your boat can really anchored. Intact. So that one day, you really can feel the warm tears, beautiful smile, and hence can vibrate your chest. Do not persist in areas that you do not recognize yourself.”
    There is so much TRUTH in these words!
    Thank you for visiting my blog, Acep! I tried putting my email in to follow you, but it will NOT accept it! I do not understand WHY. But when you visit me, I will try to return the favor! I hope your month of Ramadan is blessed with goodness and many gifts!
    Sincerely,
    Jane

    Like

    • thank you sir for your words, as my friend , your words also mean to me.

      btw, the translate not work so well,
      not “HIM ” but “HER ”

      my friend talk about a girl that i love, but she is far accross the sea. so, my friend wrote that letter in email.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s