Enam Purnama

nenek

Di tengah kidung angin pada sepertiga malam, tak pernah lekang dari ingatanku, tatkala di atas sepasang bangku itu, dia mulai menyulam helaian-helaian kisah untukku perihal Kakek yang semasa hidupnya begitu bertanggung jawab dan pemberani. Dan juga dia yang gemar mendongeng tentang Maling Kundang yang dikutuk oleh ibunya karena kedurhakaanya ataupun tentang si kancil yang cerdik. Semuanya masih segar di ingatanku, sekalipun dia telah ceritakan itu 25 tahun yang silam. Ketika aku masih acapkali berpura-pura sakit tak ingin ikut belajar. Ketika aku masih sering bertelanjang kaki menenteng sandal jepit di atas tanah-tanah becek bekas hujan yang semuanya aku lakukan karena ingin datang ke suatu tempat yang akhirnya aku ketahui bernama sekolah.

Malam itu, kami kembali bercengkerama di atas sepasang bangku, di depan sebuah meja kayu yang rapuh termakan rayap. Seperti biasa, dia tak lupa menyuguhkan teh hangat dan beberapa potong singkong untuk kami nikmati bersama, bernostalgia di depan perapian-perapian kecil dengan kepulan asap hitam membumbung, meliuk-liuk dan lenyap membaur dengan hitamnya malam.

Ternyata bangku-bangku itu masih sama seperti dulu. Barang satu-satunya peninggalan Kakek yang telah begitu banyak mendengar cerita anak manusia di dalam gubuk reyot bersekat anyaman daun nyiur, yang tingginya tak cukup semeter dari permukaan tanah.

Di kala ia mulai bercerita, aku selalu menggenggam tangannya yang kasar, menyusuri tiap ruas permukaan kulitnya yang semakin kusam dan tipis termakan usia. Inilah ritual-ritual sederhana yang sering kami lakukan di penghujung malam. Di bawah desir angin yang membelai dedaunan kenari di atas gubuk kami. Sementara binatang-binatang di luar sana, pun turut diam terlarut dalam ritual itu.

Itulah malam terakhir kami bercerita berdua di atas sepasang bangku itu, karena esoknya, di kala fajar menyingsing di batas cakrawala, mencipta embun menggenang di helai-helai daun talas, di kala cahaya mentari menyembul menembus celah-celah dinding gubuk kami, saat itu pula aku akan kembali berpisah dengannya, mengejar mimpi-mimpiku yang telah terlanjur aku gantungkan jauh di bawah gumpalan polusi, di tengah hingar bingar klakson kendaraan.

Malam itu, di usiaku yang telah tumbuh semakin dewasa, dia tak lagi bercerita padaku akan kecerdikan kancil ataupun Maling Kundang yang durhaka. Dia hanya diam dan mendengarkan aku berkisah, tentang orang-orang yang telah mengubah dunia hingga menjadi seperti sekarang ini. Tentang anak-anak bangsa ini yang hanya bermodalkan pena, tapi mampu mencipta karya yang sangat menggugah.

“Suatu saat aku ingin menjadi seperti mereka, Nenek”

Dia terseyum sampai giginya yang telah banyak mengoropos terlihat jelas. Dia menatapku tajam, menyusuri tiap relung sukmaku.

“berusahalah, berdoa dan kemudian serahkan semuanya kepada Allah”

Jawabnya singkat, tapi cukup membuatku bergetar dan merenung sangat lama. Dia membelai rambutku dengan segenap kelembutan. Kelembutan yang masih sama seperti yang aku rasakan 25 tahun silam, ketika aku masih sering menangis dan dengan penuh kasih sayang dia membelaiku sampai aku terdiam di dalam dekapannya.

Bagiku, dia adalah malaikat tak bersayap yang Tuhan utus untuk menjagaku. Yang tak pernah sedikitpun kudengar bibirnya mengeluh, ataupun melihat air mata yang mengalir di pipinya. Yang ada hanyalah ketegaran dan ketabahan khas seorang wanita yang biasa aku panggil Nenek. Kata pertama yang bisa aku lafalkan dalam hidupku.

Pernah suatu ketika, sewaktu aku masih kecil yang hanya tahu bermain dengan gemerisik-gemerisik air di pinggiran hilir, atau berlari-lari merentangkan tangan, berpacu dengan angin mengejar sepasang layangan yang akhirnya kutemui tersangkut di puncak pohon kapuk, kudapati Nenek sedang meneteskan air mata di depan tungku dapur sambil menyalakan tumpukan kulit dan batuk kelapa dengan menggunakan potongan bambu kecil. Walaupun dia lagi-lagi tersenyum dan berusaha meyakinkan aku bahwa ia tak menangis, tapi hatiku mengatakan bahwa Nenek benar-benar menangis kala itu. Apalagi dari sorot cahaya perapian, kulihat lebam di pipinya dan sedikit bengkak.

“sudahlah nak, Nenek tidak apa-apa. Lebih baik kamu ambil air wudhu, gelar sajadah dan shalatlah. Jangan lupa bermunajat kepada Allah agar diberi rezeky yang banyak” begitulah dia selalu mengingatkanku.

Ahh… Dia masih tetap menjadi wanita terkuat yang pernah aku kenal. dia yang menjaga, dan merawatku sampai ku tumbuh besar dan tinggi melebihi tingginya sendiri. Aku yakin, dunia dan seluruh isinya tak akan pernah mampu membalas kasih sayangnya. Kasih sayang dan cinta yang sabda alam sekalipun tak akan pernah mampu mengubah arahnya.

“jadi kapan lagi kamu akan menemui Nenek nak ?”

“Insya Allah enam bulan lagi Nek aku akan menyelesaikan kuliahku dan kembali kesini menemani Nenek selamanya”

“ternyata masih lama nak. Nenek takut suatu saat akan sakit karena sangat merindukanmu”

Aku terdiam melihat matanya yang menatap kosong. Andai saja Nenek tahu bahwa aku ingin sekali dia pergi bersamaku, agar dia pun bisa menjadi saksi bahwa surya yang melukis panorama senja dengan semburat jingga itu adalah surya yang sama yang kami sambut dengan doa setiap pagi yang cahayanya menyembul di balik dedaunan kenari beraroma subuh. Tapi aku tahu bahwa Nenek akan lebih sehat jika tetap berada di sini, maka biarlah aku yang akan kembali menemui Nenek di purnama keenam sesuai janjiku.

**

Malam ini, di naungan purnama yang senantiasa berkilau indah sekalipun berada di balik gumpalan awan, aku kembali untuk memenuhi janji-janjiku padanya. Janji-janji yang telah aku sematkan di celah-celah sekat anyaman daun nyiur gubuk kami, dan pula ku gantungkan di helai-helai daun pohon kenari, enam bulan silam.

Tak bisa aku bayangkan bagaimana ekspresi kegembiraan Nenek andai melihat aku yang telah lama dirindukannya melebihi kerinduanku padanya, telah berdiri mematung di belakangnya, dengan menenteng ransel bututku dan berbisik dari balik punggungnya, “Nenek …aku telah kembali. Dan akan bersamamu di sini selamanya”. Dan dengan mata berbinar cerah, dia berbalik, memelukku seperti biasa dan berkata, “Nenek sangat merindukan kedatanganmu nak”

Tapi malam itu, aku tak melihat sosok Nenek di dapur. Juga tak di kebun samping rumah. Tak ada. Bahkan lampu minyak yang dulu senantiasa menerangi rumah ini pun tak kelihatan cahayanya. Langkah kakiku terhenti, tatkala mataku tertuju pada ruang yang hanya bersekat kain bekas yang lusuh yang kami sebut kamar. Dan samar-samar, aku melihat sosok yang terbaring di sana. Sosok tak asing lagi yang sangat aku rindukannya kelembutannya. Nenek …

Mungkin Nenek kelelahan setelah bekerja keras seharian. Sehingga dia pun tak menyadari bahwa Allah baru saja mengundangnya datang ke rumahNya, di penghujung adzan. Hatiku tak ingin mengusiknya. Tapi biarlah. Nenek pasti tidak akan merasa terganggu sama sekali kalau dia tahu bahwa cucunyalah yang datang mengusik tidurnya.

Beberapa kali aku menggoyang-goyangkan tubuhnya. Memanggilnya dari dekat telinganya. Berharap dia bisa mendengarku. Namun dia tak meresponku sama sekali. Bergerak pun tidak. Ku tatap wajahnya dalam-dalam. Wajah yang tetap bersahaja sama seperti dulu. Tapi mengapa tangannya menjadi dingin ? apakah Nenek sakit ? Aku memanggilnya sekali lagi, tapi tetap tak ada jawaban. Hanya kesunyian yang merasukiku. Sampai akhirnya aku pun tahu dan sadar.

Sosok yang terbaring di hadapanku ini adalah sosok Wanita yang sangat aku rindukan. Wanita yang sangat tabah dan tegar. Wanita yang tak pernah aku dengar suara kerasnya. Dan juga Wanita yang sekarang masih menyunggingkan sedikit senyum di bibirnya walaupun ku dapati sudah tak bernyawa. Nenek telah pergi malam itu. Meninggal.

Aku menangis. Ketegaran sebesar apapun malam itu tak mampu melarang air mataku untuk tidak tumpah di depan jasad tak bernyawa yang sangat aku rindukan. Aku menyesal tak bisa melarang Izroil untuk menunda kepergian Nenekku karena aku telah berjanji akan datang padanya di purnama ke enam malam ini. Dan pula, aku belum sempat mencium tangannya dan mengucapkan terima kasih padanya atas segala doa dan kasih sayangnya yang tak ternilai dengan apapun.

Nenek,..apakah enam purnama bagimu terlalu panjang untuk menunggu. Bukankah sebelum kakiku menuruni tangga terakhir surga kecil kita ini, aku telah bersumpah bahwa aku pasti akan kembali untuk menemui mu. Dan pun itu aku lakukan, sebelum bayangku menghilang di ujung desa, bahwa aku pasti kembali. Dan kini, aku telah kembali, untuk memenuhi janjiku.

Bukankah Nenek ingin sekali melihat lembaran kertas yang bernama ijazah ? Bukankah Nenek ingin sekali meletakkan fotoku dengan toga kebesaran di setiap sisi dinding rumah kita agar semua orang tahu, bahwa itu adalah foto cucu kesayangan nya ? dan juga bukankah Nenek ingin melihat foto seorang wanita yang suatu hari ku harap Nenek bisa memanggil cicit kepada putra putrinya ? Tak inginkah Nenek melihatnya sekali saja..?

**

Di bawah tangisan langit, ku terpekur sendiri di depan gundukan tanah merah bertabur seroja. Nenek …maafkan aku. Untuk kali ini aku tak bisa memenuhi permintaan mu untuk tidak menangisi jasad yang meninggal. Karena engkau pernah berkata, bahwa meninggalnya seseorang juga karena kecintaan Allah kepadanya. Semoga di alam sana, Allah memberi Nenek sepasang sayap, sehingga Nenek pun bisa datang menemuiku di kala merindukanku. Biarlah kita bercakap-cakap sesaat di atas sepasang bangku itu, dengan ditemani singkong rebus dan teh hangat buatanku seperti yang biasa kita lakukan. Selamat jalan malaikatku yang tak bersayap……

-fin-

**

Didedikasikan untuk Almarhummah Nenek ku tersayang

Inah Binti Tasipan

kakek - nenek

Dinginnya malam ini tak sebanding dinginnya ketika engkau meninggalkanku
Sepinya hati ini tak sebanding dengan kepergianmu
Jiwa ini sangat kosong ketika engkau meninggalkanku
Hati ini letih ketika harus merindukanmu
 
Nenek, disini aku merindukanmu
Merindukan setiap senyumanmu
Merindukan setiap pelukanmu
 
Nek, aku masih ingat senyuman-senyumanmu
Aku masih ingat rupa wajahmu
Meskipun engkau tak pernah hadir di mimpi indahku
Karena aku tak akan melupakanmu sampai akhir hayatku
 
Aku ingat disaat detik-detik kepergianmu
Aku benar-benar terharu
Engkau yang tak pernah ingin jauh dariku
Hal yang membuat aku sadar betapa engkau sangat menyayangiku
 
Nenek, do’aku selalu menyertaimu
Menuntun seiap langkahmu
 
Nenek, ku persembahkan puisi ini untuk mu
Sekedar ingin engkau tahu
Aku juga begitu menyayangimu
Lebih dari aku menyayangi diri ini

2 thoughts on “Enam Purnama

  1. Even with my poor on-line translator this is beautiful. Thank you. Bear

    The chill of night is not worth the chill when you left me
    Empty heart is comparable with kepergianmu
    This soul is empty when you left me
    This heart is jaded when having to miss you

    Grandma, here I miss you
    Missed any senyumanmu
    Missed any pelukanmu

    Nek, I still remember the smile-senyumanmu
    I still remember the way your face
    Even though you were ever present in the dream indahku
    Because I will not forget you till the end hayatku

    I remember when seconds kepergianmu
    I’m really thrilled
    You never want to far away from me
    Things that make me realize how you are very menyayangiku

    Grandma, do’aku is always with you
    Guide your steps seiap

    Grandma, I dedicate this poem to mu
    Just want you to know
    I also love you so
    More than I love this self

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s