Wakaf

Bismillahirohmanirohim

 

Entah kenapa saya selalu ingat laki-laki itu. Laki-laki hebat yang memberi saya sebuah pelajaran berharga. Laki – laki luar biasa yang bisa mengubah cara saya berpikir.  Pertemuan saya dengannya pada suatu sore diawal bulan ramadhan lalu. Saat itu sekitar jam 4 sore sepulang bekerja saya mampir ke sebuah mini market untuk membeli beberapa barang  keperluan mandi dan mencuci untuk satu bulan. Setelah menemukan semua barang yang saya cari, kemudian saya menghampiri meja kasir untuk membayar semua barang yang saya beli. Sambil menunggu kasir menghitung barang belanjaan, saya membuka dompet untuk memeriksa apa uang yang saya punya cukup untuk membayar semuanya atau tidak.

Tiba – tiba terlihat seorang laki-laki tua berpakaian lusuh berjalan mendekati saya, saya melihat fisiknya kurang sempurna karena itu jalannya sedikit pincang dan  terseret-seret. dibahunya tersandang tas dari karung bekas tepung yang sudah kumal, sementara tangan kanannya memegang sebuah gayung berwana hijau. Saya berfikir ini pasti pengemis yang ingin meminta sedikit sedekah untuk sekedar membeli makanan berbuka puasa. Tiba-tiba saya panik karena dalam dompet saya tidak ada uang kecil, yang  ada hanya  beberapa uang lima puluh ribuan untuk membayar barang belanjaan. Dalam hati saya berharap uang yang saya punya lebih dari harga belanjaan tadi agar saya bisa memberi uang sisanya untuk laki-laki tua itu.

Glekkk…..,Saya kaget bukan main karena ternyata laki-laki tua bukan mau meminta sedekah dari saya atau dari kasir mini market yang ada di hadapan saya, tapi dia mendekati kotak amal pembangunan mesjid yang ada disamping tempat saya berdiri. Satu persatu uang logam yang ada dalam gayung hijaunya dimasukkan dalam kotak amal itu hingga terdengar bunyi gemerincing. Saya bisa melihat setiap uang logam yang jatuh dalam kotak amal yang terbuat kaca transparan. Setelah semua isi gayungya berpindah kedalam kotak amal, kemudian laki-laki tua itupun beranjak pergi.

Untuk sejenak saya hanya bisa terdiam, rasa tak percaya memenuhi pikiran saya yang hobi menganalitik. Bagaimana mugkin seoarang laki-laki tua peminta-minta yang hidupnya karena belas kasihan orang lain tapi masih bisa menyumbangkan semua uang yang dia punya untuk pembangunan masjid?. Bagaimana untuk makannya sendiri ? padahal beberapa jam lagi akan tiba waktu untuk berbuka puasa. Tentu tidak akan ada yang melarang jika laki-laki tua itu mempergunakan uang tersebut untuk sekedar membeli makanan. padahal pada saat yang sama orang lain juga sedang sibuk-sibuknya membeli makanan berbuka, seperti cendol atau es bandung dengan warnanya yang merah muda untuk mengusir rasa haus yang sudah seharian mendera atau mungkin membeli sebungkus dua bungkus pecel atau gado-gado sambil kemudian tak sabar menunggui meja makan sambil menelan ludah karena begitu laparnya.

Tapi ada apa dengan laki – laki tua itu?. Entahlah,,,,. Mungkin dia sedang berniaga dengan Allah, menukar beberapa keping uang logam tersebut dengan makanan syurga yang dijanjikan Allah. Sehingga dia memberikan yang terbaik yang dia punya untuk dinafkahkan di jalan Allah walaupun itu hanya beberapa keping uang recehan yang didapatnya dengan mengemis.

Astagfirullah…., saya benar- benar seperti ditampar. betapa sesungguhnya saya tidak ada apa-apanya dibanding laki-laki tua itu. Saya yang secara fisik masih kuat dan normal saja tidak lebih baik darinya.. Apalagi saya juga Alhamdulillah diamanahkan rizki yang jauh lebih baik dari laki-laki tua itu tapi kenapa begitu berat rasanya saya memberi sesuatu kepada orang lain?. Betapa saya ini sungguh -sungguh pelit, selama ini saya hanya memberi kepada keluarga saya saja, walaupun beramal untuk orang lain hanya dengan uang recehan saja. Padahal  sedekah itulah yang akan jadi penolong saat  menghadap Allah nanti, lalu bagaimanakah saya berfikir bisa ” membeli syurga” hanya dengan recehan yang nilainya hanya bisa dipakai untuk ke WC umum???????

Pernah seorang kawan menyelutuk ” sungguh aneh, Saat kita berada di rumah makan  uang lima puluh ribu terasa sangat sedikit. tapi saat kita berada di mesjid dan ingin beramal uang lima pulih ribu itu terasa begitu banyak sehingga terasa sangat berat untuk dikeluarkan “.

Sungguh benar kata – kata kawan saya itu, betapa kita begitu gampang mengeluarkan uang kita untuk hal -hal kurang bermanfaat. Terkadang kita lebih memilih menimbun kekayaan karena kita takut miskin, padahal rizki kita sudah dijamin oleh Allah dan dengan cara bersedekah rizki itu akan bertambah.

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Al Baqarah 261)

Sesungguhnya hamba berlindung pada-Mu Ya Allah dari sifat kikir yang menyengsarakan hati.

اللهم إني أعوذ بك من الهم والحزن، والعجز والكسل، والبخل والجبن، وضلع الدين، وغلبة الرجال

artinya :Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari rasa gelisah dan sedih, dari lemah dan malas, dari kikir dan pengecut, dari dibeban hutang  dan penindasan orang.

 

Terima kasih Ya Allah, Engkau telah mengingatkan hamba lewat laki -laki tua itu, Karena hamba yakin pertemuan dengannya bukan hanya kebetulan tapi karena Engkau telah mengatur skenario – skenario terindah yang penuh makna agar hamba bisa terus belajar. Pertemuan dengan laki-laki tua yang kumal itu lebih bermakna dari pada pertemuan dengan Bidadari yang secara  fisik Cantik tapi hatinya telah mati. Namun sayangnya sampai saat ini saya tidak pernah melihatnya lagi, Entah dimana saat ini laki-laki tua itu berada. Betapa ingin saya mengucapkan terima kasih, karena laki-laki tua itu  hari ini saya bisa merasakan kebahagian yang luar biasa saat memberi melebihi rasa bahagia saat menerima sesuatu dari orang lain.

Dan Akhirnya setelah kejadian itu, saya cuma bisa memberikan yang terbaik dari saya. Istana yang saya bangun hampir 4 tahun ( walaupun belum selesai ) saya wakafkan beserta tanahnya untuk Rumah Yatim Piatu. Sesungguhnya Takdir Allah itu sungguh luar biasa dan tak ada satu hal pun yang kebetulan di muka bumi ini karena semua telah diatur dengan indah oleh Allah Sang Pencipta langit dan bumi.

Wallahu a’lam bish shawab

IMG-20130509-00043

2013-06-23 16.00.02

Alhamdulillah, sekarang dalam proses finishing.

Posted from WordPress for Android

 

One thought on “Wakaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s