CERPEN ; KETIKA BUNGA MEREKAH DIPADANG SAHARA

desert

 

Aku punya pandangan lain tentang laki-laki pada awalnya.

 “Dimana-mana laki-laki memang sama. Bajingan!” itu yang di ucapkan temanku saat dia merasa kekasihnya mengkhianati. Tapi saat itu, aku cukup banyak argumen untuk membantahnya.

“Tidak semua laki-laki seperti itu. Itu hanyalah yang kau temui. Tapi di luar sana, masih banyak laki-laki yang lebih baik,” kataku.

“kau sih belum mengalami nasib sepertiku. Coba kalau sudah, kau pun akan berpandangan sama sepertiku,” katanya lagi.

Dia memang sedang merasakan sakit yang teramat sangat. Bagaimana tidak sakit, melihat kekasih bermesraan dengan sahabatnya sendiri di depan mata kepalanya.

“kau jangan memukul rata semua laki-laki! Aku yakin, dari sepuluh laki-laki paling 1/3 yang seperti kekasihmu itu!” Aku membantahnya lagi.

“Gila!” dia mebelalakan matanya, “justru dari 100 laki-laki paling banter hanya ada satu laki-laki yang baik dan patut kita cintai sepenuh hati,” dia hampir-hampir berteriak.

Aku memang menutup mata. Sering aku menyaksikan kegilaan laki-laki ketika dia menjadikan perempuan sebagai objek penderita. Aku banyak melihat bagaimana seorang laki-laki sedang mengkurang ajari perempuannya. Tapi itu tak merubah pandanganku tentang laki-laki. Bagaimanapun, sampai detik ini aku tak pernah mendapat perlakuan yang “aheng” dari semua laki-laki teman dekatku.
Jadi, kupikir kesalahan ada pada perempuan. Mereka tak bisa menghargai kedudukan laki-laki, hingga dia merasa gerah di dampingi seorang perempuan.

Itu pandanganku dua tahun yang lalu. Kini?

Kini mataku terbuka lebar-lebar. Aku bisa memandang lebih jernih. Pandanganku dulu memang ditutup kabut. Kabut yang tebal oleh sikap manis teman laki-lakiku. Kedok mereka sudah terbuka sekarang. Dua tahun lamanya aku menelan kepahitan dari makhluk yang namanya laki-laki.

Pertama-tama, Ben. Dia kekasih pertama dalam hidupku. Hubungan kami sudah cukup lama, hampir satu tahun. Tapi, tiba-tiba kedoknya terbuka saat ulang tahunku tiba. saat itu, dia membawaku jauh dari rumah. Aku tentu senang bisa menghabisakan hari bersamanya. ”hadiah ulang tahun yang istimewa” pikirku saat itu.
Tapi kebahagianku berakhir ketika dia tiba-tiba menyergap tubuhku dan menjatuhkanku ke lantai. Kami bergumul. Dia bergumul karena nafsu binatangnya, sedang aku bergumul untuk menjaga kesucianku. Aku berhasil lari dari iblis itu dengan loncat dari jendela.

Kekasih keduaku bernama Val. Dia seorang mahasiswa yang percaya mistik. Aku tertarik padanya karena imajinasinya yang liar dan membara tentang dunia lain di luar dunia kita saat ini. Tiga bulan hubunganku dengannya berjalan mulus. Sampai muncul sifat aslinya. Ya. Dia tertarik dengan perempuan lain yang lebih menarik. Aku tak mungkin mencegahnya. Tokh itu hak dia sebagai manusia. Akhirnya kulepaskan dia dengan mencoba untuk tulus. Tulus???

Choki lain lagi. Dia lebih gila dari kedua laki-laki sebelum ini. Jujur saja, mulanya aku tak menaruh hati sedikitpun padanya, tapi kerja kerasnya membuatku simpatik. Setiap hari, dia setia mengirimkan sebuah puisi, coklat dan setangkai mawar. Berawal dari sana, ada semacam magnet yang menjadikan aku tertarik ke kutubnya. Sebulan memang waktu yang singkat untuk sebuah hubungan. Tapi, memang itulah laki-laki. Dia cepat merasa bosan. Aku di tendangnya jauh, ketika sedikit saja kesalahan aku perbuat.

“Tak ada kata maaf bagimu!” katanya, saat ia tahu aku tengah didekati seorang laki-laki lain.

Pelan-pelan tapi pasti, tertanam semacam keyakinan dalam diriku, bahwa tak ada laki-laki yang tulus mencintai seorang perempuan selain ibu mereka sendiri.

Selain Choki masih ada Mavic, Metan, Milan, Jogie, Akva dan beberapa nama yang hanya melintas sejenak dalam hidupku tapi menyisakan torehan luka yang cukup besar.

**

 

Dua tahun setelah hidupku tanpa mahluk yang bernama laki-laki. Mata hatiku terbuka sudah. Hidup bahagia tak harus dengan laki-laki bukan???
Kini, ketika kerinduan akan laki-laki menyergapku. Aku mencoba untuk mengalahkannya. Saatnya memutar kendali. Aku tak harus bergantung pada nasib. Dulu, aku memang mengalir mengikuti arus. Kemanapun nasib membawaku kesanalah aku lari. Tapi untuk saat ini, akulah penentu nasib bagi diriku sendiri.

Setelah dua tahun berlalu, aku mampu menemukan laki-laki yang kuanggap bisa mewujudkan impian bersama ke arah masa depan. Tak Lagi mengalir, tapi inilah saatnya mewujudkan impian.
Seluruh keluargaku bahagia saat aku memberitahu bahwa seseorang akan melamarku malam ini. Ya, keluargaku yang selama dua tahun terakhir ini tak pernah lagi mendapati tamu laki-laki untukku merasa khawatir, aku terus larut dalam kesedihan. Kulihat, wajah mereka berseri-seri membayangkan anak tunggalnya bahagia. Aku bahagia melihat kebahagian mereka.

“Jam berapa arjunamu itu datang, Nduk?” Bapak bertanya, masih dengan tembakau ditangannya.

“Mungkin jam tujuh atau delapan, Pak.”

“Kok mungkin sih?” Ibu menyahut dari dapur. Dia tengah menyiapkan panganan untuk nanti malam bersama si Mbok.

“Iya, kan Ibu tahu sendiri, jalanan jam segitu mana ada yang lancar. Dimana-mana macet, Bu!” Aku menjelaskan..

“O, iya. Siapa nama Arjunamu itu ?” Nada suara Ibu lebih lantang, Ibu sepertinya takut aku sudah masuk ke kamar.

“Erghian, Bu.” Aku menjawab sambil berlalu menuju kamar.

**

Jam menunjukan 07:15 WIB saat terdengar ketukan dari pintu. Ibu dan Bapak yang sudah gelisah dari tadi berdiri bersamaan. Mereka saling bertatapan.

“Biar Bapakmu yang buka,” Ibu berkata saat melihatku hendak berjalan menuju pintu.

“Tak usah, Bu. Biar aku saja. Ibu dan Bapak tunggu aja disini.” Aku cepat menimpali. Mereka duduk kembali.

Aku membuka pintu. Disana sebuah wajah sudah menatapku dengan senyumnya yang begitu kharismatik. Aku pun tersenyum. Kugenggam tangannya. Setelah menutup pintu, aku bergandengan tangan menuju ruang tamu. Dimana kedua orang tuaku duduk menanti.

Langkah kami berhenti di depan mereka berdua. Mereka serentak berdiri. Mata mereka melongo, saat menatap Erghian yang berdiri tegap di sampingku. Mereka masih melongo saat aku berbicara memperkenalkannya.

“Ibu, Bapak. Ini lho Mas Erghian. Dia datang untuk melamarku,” kataku mantap. Aku sempat melirik dengan sudut mataku kearahnya, dia tersenyum. Senyum yang masih kharismatik.

“Malam Pak, Bu. Kenalkan nama saya Erghiana Maryani. Saya kekasih Wulan! Saya datang…” belum selesai Erghian berbicara, tiba-tiba Bapak berteriak.

“APA MAKSUD SEMUA INI, WULAN!!!!” Bapak berteriak dengan mukanya yang merah padam karena menahan amarah.

“Tidak ada maksud lain, Pak! Aku mencintainya dan dia mencintaiku. Aku memilihnya bukan karena aku tak mampu untuk mendapatkan yang lebih baik. Aku memilihnya karena aku ingin memilihnya. Lalu kami akan menikah dan bahagia!”

Aku tengadah, menentang wajah Bapak yang bersemu merah. Ibu kulihat hanya melongo saja.
Erghian memelukku. Aku merapat ketubuhnya, kami berhadapan. Saling menatap. Dia menatapku penuh rindu. Dia menyergap bibirku dengan bibirnya. Kami berciuman di depan mereka.
Ibu terjatuh tiba-tiba. Ia pingsan. Masih kudengar ucapan terakhirnya dengan suaranya yang parau,

 

“Tapi dia perempuan, Wulan”

 

fin

***

 

diikut sertakan di BOMCERPEN

5 thoughts on “CERPEN ; KETIKA BUNGA MEREKAH DIPADANG SAHARA

  1. ketika kepedihan dijadikan landasan berpikir beginilah jadinya….. perasaan tanpa otoritas wahyu menjadi liar menabrak batas-batas… semoga Allah melindungi kita semua dari yang demikian

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s