Tebing Kehidupan

tebing kehidupan

aku pikir, saat kita mendaki sebuah tebing
saat kita mendakinya
sendirian akan terasa letih. sendirian dgn semua rintangan
coba kalo kita terdiri dari beberapa tim. mungkin akan cepat
sampai puncak. ahh hiduppp…!!!

mungkin karena tak ada lagi pendar
pelangi dan rindang taman bunga dalam dada kita,
bahkan anak anak sungai yang kita angankan sebagai
biduk rindu yang setia mengalirkan surat cinta, maka
cuaca pun berubah. kita kehilangan tafsir untuk
memaknai luka, juga tawa yang merambat diantara
lekukan jemari rapuh yang kehilangan penyangga..

lantas kita hendak kemana dengan semua yang
sudah tak bisa lagi kita harapkan?
kau dan aku. berdua melintasi huru hara,
padahal kita menginginkan sapa juga tawa

selalu ada harapan dalam ruang ruang
bathin yang masih setia menggenggam cinta, kekasih.
seperti pekat gerhana yang tak pernah menyelimuti
jarak pandang kita sedemikian sempurna tanpa janji
cahaya bulan ditengah musim yang berangkat bimbang..

tapi aku letih, sayang!
sedang airmata tak bisa mewakilkan lagi
seluruh rasa. aku tak bisa sekedar membuat umpama
bahwa setelah gelap habislah terang
tak mungkin, jika kita tidak membuat cahaya
sendiri dari lilin-lilin doa yang teruntai setiap malam

kau dan aku. semuanya. adalah anak anak
waktu yang gamang melintasi belantara yang disesaki
akar akar menjalar dengan ribuan duri runcing yang
menghunus jantung kita tanpa selembar peta yang
menghibahkan sedikit imaji tentang akhir dari
perjalanan menuju bukit cahaya. tapi cinta adalah
nyanyian abadi yang membisikkan selalu panggilan
bunda diseberang keluhmu dan keluhku yang tak lagi
mampu melidahkan segala luka. bunda, dimana hangat
peluknya menunggu dengan dua puting payudara
yang senantiasa terbuka..

dan kita akan terus bermimpi berlari
menuju dekapannya yang hangat yang mampu membuyarkan
seluruh resah juga keluh meski dengan bermimpi
akan menambah lagi luka

demikianlah, kekasih. pada akhirnya
amis nanah dan perih aimata adalah leleh kotoran dari
selendang rindu dan cinta yang mesti disucikan
menjelang kehadiranmu dipengakuan bunda. dalam cahaya
dan terang sempurna..

sayang, berdoalah untukku
untuk perjalanan yang akan kita larung
bahwa seluruh luka akan menjelma cahaya
meski kita tak lagi punya apa-apa
selain airmata

doaku dan doamu akan selalu mengepak,
kekasih. seperti camar yang tak mengeluhkan letih
diatas gelombang hidup yang menghantamkan bergulung
badai kepedihan. ia akan melanglang, menembus pintu
pintu langit dengan airmata yang berharap; bahwa suatu
hari, taman taman cahaya akan menyambut seluruh
genangan luka kita.

4 thoughts on “Tebing Kehidupan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s