Kopi

Coffee

Aku mencium aroma mimpi di kopimu, seperti aku cium leher perempuan yang tak setia. Aku lalu reguk penghabisan itu, seperti doa, yang terkubur bersama lolongan — kubah pun tercipta dari madah buta, perihal langit yang jauh, sejauh aku telah melayari tubuhmu. Tapi di kopi itu, aku melihat jelaga yang sama, hitam yang pernah kau pesan di sebuah pagi, lalu kau jadikan selimut pada malamnya ; aku menyebutnya dengan bintang rapuh, tapi kau selalu tersulut dengan kegelapan akut nan berpeluh

ah, jika di secangkir itu aku bisa mengukir lekukmu yang kikuk, aku akan menanamkan waktu di cerukmu : sebagaimana angin yang menulis dingin di antara kita, lalu kita selalu terjungkal ke meja yang sama, lalu bertemu untuk berpisah. Jika setia adalah kata, aku ingin menghancurkannya di pusara pusaranku, lalu kita berenang ke tepian, sambil bercakap tentang ingatan-ingatan sorga, di sebuah purwa, meski aku tahu ingatan itu selalu memesan siksa ke lubukku, lalu membuatku berpaling dari palungmu

di kopi ini, dulu, aku pernah memeram mimpi, seperti aku memeram dengusmu di dadaku yang berapi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s