Once Upon a Time

Indonesia.svg

Pada suatu zaman, bangsa Indonesia dihormati dunia Internasional. Indonesia menjadi panutan bagi masyarakat Asia Afrika serta Dunia Ketiga. Pada zaman lain, Indonesia menjadi “saudara tua” masyarakat di kawasan Asia Pasifik. Setiap ada pimpinan kawasan dilantik menjadi kepala pemerintahan, Jakarta merupakan tempat “Wajib” pertama yang dikunjungi untuk meminta doa restu. Paul Keating, mantan Perdana Menteri Australia, menyebut Jakarta sebagai “tempat berguru”.

Pada masa lalu, Presiden Amerika Serikat Jhon F Kennedy mengunjungi Jakarta membawa bekal perasaan Minder, deg-degan, merasa kalah pamor bila bertemu Bung Karno. Pada masa berikutnya Presiden Amerika Bill Clinton datang ke Jakarta dengan kepala nunduk menghormati, mencopot sepatu ketika masuk Masjid Istiqlal. Bill Clinton menganggap Pak Harto sebagai “sesepuh” yang patut dihormati.

Dua zaman indah penuh kebanggaan itu sudah berlalu. Pada masa kini, bangsa dan masyarakat indonesia menjelma menjadi terhina. Negeri-negeri kecil tetangga kita, beramai-ramai melecehkan Republik tercinta. Para TKW maupun TKI seolah jadi sapi perahan, objek pelecehan seksual, bahan hinaan serta sansak tinju para tauke. Bahkan isteri seorang Diplomat Indonesia di negara tetangga, sempat (hampir) ditahan aparat setempat dengan dalih “TKI ILLEGAL”.

Sungguh Ironis !!!! Negeri sebesar ini, punya penduduk nomor 4 (empat) terbesar di dunia, memiliki 17.504 pulau, 300 etnis, 300 bahasa, bersuhu tropis dengan alam gemah ripah loh jinawi, kenapa bisa dilecehkan dunia? kenapa rakyat Indonesia hidup miskin?

SIAPA YANG SALAH?

Sebagai bangsa yang besar, kita tidak boleh saling menyalahkan. Seluruh bangsa ; merupakan satu saudara. kita butuh kesatuan sebagai “SATU BANGSA” .

Untuk membangun kualitas bangsa agar dihormati dunia, perlu dibenahi hal yang sangat mendasar yaitu aspek MENTALITAS. Keperibadian bangsa ini harus dirombak secara frontal. Selama ini bangsa kita tumbuh bermental Inlander, dibelit rasa rendah diri yang berlebihan, terkena syndrome inferior complex, Ngabdi pada orang asing, tapi senang menekan dan menginjak-injak saudara sendiri. Secara umum, kita tidak punya nyali bersaing ditingkat global. Hanya sedikit anak bangsa yang berani menantang dunia. Bangsa ini mudah dikibuli, gampang diadu domba, terutama oleh para bule dari barat sana.

yuk mulai saat ini, kita sebagai anak-anak negeri ini mulai merubah sikap, “dari diri sendiri, dari hal yang kecil” tanamkan sikap cinta bangsa. Agar dimasa yang akan datang, Indonesia berkibar lagi dimata Dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s