Darah

blood
Seperti kereta,
Aku berkendara di antara rumput-rumput merah, Keterasinganku yang hitam melumat nafasku ; Iblis.
Taufan begitu bergemuruh. Mengabarkan luka dan sejarah yang terpahat di menara, tapi di mana bisa kutemui segala pelayaran tanpa menunggu terminal dalam buaian waktu? Lalu tubuh putih yang pucat mengirimkan doa, seperti tuhan yang kesepian dan langit yang mengguyurkan sedih pada mata pisauku ; Darah.

Kusebut darah
Dalam impian kesekian. Ketika gemuruh cahaya menampar lumpur sawabku, Kabut-kabut berdentum lalu kurubah arah perahu, Kurebut farji dari perut bumi : aku laki-laki

Tapi siapa yang bisa memastikan di setiap teminal, pemenang pertempuran seperti abad yang berlari dan gerimis mendaki, memamerkan segala kesedihan dengan air mata, padahal amarah menjelma kunci utama ; Pembuka surga.

Mungkin daun-daun gugur tapi ia gugur bukan untukku. Ketika alam telah mendendangkan kematian, maka segala kepala menjelma belukar, segala harapan menjelma ular dan kurebut cahaya dari segala puting jaman. Mungkin dalam puting beliung, semacam periuk Raksasa Kutasbihkan kesombonganku, Kuremas segala sisi manusia dari darah, daging dan impian, Lalu kulaknati kelemahanku seperti serigala.

Ketika ku berkendara, taring-taringku berjuntaian seperti akar beringin melilit hawa, tubuh telanjangnya dan memperkosanya di sebuah altar tempat yang segala nista tersebar. Di sana, ada raja, di sana jaman telah menyerahkan dirinya. Lalu duniaku, dunia anak-anak yang bisu bermain kereta dari pasir mengendarainya dari bukit-bukit, mengulum waktu – Dalam waktu ; Menyampaikan kabar terakhir dari batu bahwa dunia ada, karena darah tumpah.

O sang jagat, berilah tubuhku kehendakmu. Berikan belati yang menancap di kutub-kutubmu, aku akan berkendara dengan kereta bintang-bintang, memperkosa setiap perempuan dan merobek setiap garba dengan gigi teringku.

Aku akan mengembalikan segala yang nista ; Seperti tubuhku, tubuh dunia, tubuh segala yang bernafas dengan udara ; Udara yang penuh api. Lalu setiap rumput yang mengering seperti kemarau. Ia gemeretak di setiap ubunku, di setiap sahwatku. Ia merindukan segala hujan dari mulut langit dan segala yang gugur dalam kekeringan. Menjalin darah dalam puisi, lalu mencampakan risalah di kali ; Sebab setiap yang bernama kesucian hanya tempat untuk menistakan dunia.

Mungkin keretaku yang rapuh akan tersepuh dahan-dahan matahari, Kurebut segala ilham dari sengkarut waktu, tubuhku dan segala pengorbanan di alamku. Kucobai kemanusiaanku dengan gaib seperti tubuhku yang raib, ketika segala impianku membentur dinding kosong. Seperti wahyu, aku berlari, tanpa tali temali, tanpa sayap-sayap.
Kuundang jibril dengan ketelanjanganku Lalu waktu seperti lingakaran-lingkaran penuh, matahari yang purnama, Gerhana seperti penantian dan gelap dalam bayang.

Tapi adakah segala yang bermuara pada cahaya akan datang?
Suatu hari ketika segala pasti dan yang berubah hanya sementara

Kupuja kekekalanku
Kekekalan jiwaku
Kekekalan kekalahanku
Jika kelak, ku bertemu dengan seribu galaksi
Kusebut ia neraka,

Lalu kulabuh segala yang tersisa dalam api, sebab segala yang berwarna merah
Hanya mencerminkan sebuah gairah ; Gairah busuk!

Mungkin harus ku undang kembali adam dalam awal mula, ketika ia masih buta pada arti sejarah lalu segala menjadi asing, aritmatika demikian sederhana sebab yang ada bukan hanya cakrawala

“hawa, lihatlah segala muara, delta
dan segala pelabuhan yang disandarkan di bahumu
Engkau tak butuh nabi. Nabimu adalah bumi,”

Seperti waktu, jejak-jejak itu semakin berat, Keretaku semakin sarat. Pasir hitam menutupi dadaku, cawan gelap mengubur lukaku Lalu kugambarkan segalanya dalam segenggam ingatan dan kutuliskan dalam separoh khayalan bahwa aku ada ; Karena aku pernah berdosa.

Saksikanlah !!!!
Tubuhku penuh luka
Tapi luka itu bukan milikku semata
Dunia demikian bebal
Dan kubebankan segala kebebalan pada sang kala

Tapi siapa bisa memilih ?

Seperti kereta, aku berkendara.
Rumput-rumput kering kemarau dan dingin mengulang segala penciptaan ; Kelahiranku, kematianku dan mimpiku kuabadikan dalam duka ; Duka yang memanjang, memanjang dan mengubur segala ketelanjangan. Telah kucari sebuah terminal, dan aku tak ingin menemukannya. Aku hanya ingin menyaksikan darah menetes dari luka yang tak akan pernah sembuh ; Sepanjang sejarah.

Sebut aku kafilah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s