Ruang tanpa sekat

the room

Ruang tanpa sekat.

Ada tawa mengguyur melalui selangkang beratap anyaman angin. Getar bernyali mengarah jauh dari nafas kamar. Jauh dari bingar tak tik mesin dan tak tuk sepatu. Ruang lembab dengan kelambu liur penada penat. Dinding telinga hanya mendengar tepukan nyamuk. Tak ada aba-aba. Seperti menambal kain percah agar tak berlalu meratap angin. Disampingku, hawa tak bernama meremas landai putingku. Seakan memberi tanda rasa sebelum melayang untuk kesekian. Senggama sepintas yang sepi lekuk.

Jam mengetuk waktu tanpa kenal musim. Tawa menjuntai bait-bait puisi sebelum fajar. Sekat berongga, mengerak kisah beranak cucu hingga lembah menjamur misteri. Lidahku jatuh mengulum isi bibir yang seluas kamar. Liur menitik, titik. Rasa itu dekat, otak dan hati bukan kelamin yang mendekap bayangan rimba. Roboh menunggu dikoyak bahasa seakan melompat-lompat seperti ada api. Pernah nafsu berkata ; ‘butuh semalam membangkitkanmu, dan akan kembali terulang…’

Kamar, nafas dan lidahku menggagaskan cerita tubuh sepi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s