Purnama

Full_moon_tonight

bertautan berkali, mati sendiri akhirnya
pucuk-pucuk mimpi dan sunyi
menggelembung kekal seperti balon udara siap terbang berkelana udara utara
ia berjalan kembali

bersakit meski
mati pula nantinya
geregetan melihat rona pelangi suka mempermainkan hati
di ujung perjumpaan
oleh sebab ketiadaan ia menghilangkan jejak-jejak yang sempat tertaut

beranda hampir musnah sekali
ketika mengingat bayang itu mencabik luka
temaram semakin gelap dan tersamarkan oleh nyali
ketakutan dan kekawatiran menjadi hidangannya
udara semakin keruh oleh kata-kata
tulisan dan nama-nama yang terpampang pada buku-buku tebal berhalaman api
tertekan oleh maut yang mengintai
derap darah yang membercak kentara
sendirian ia akan mengarungi halaman-halaman sunyi
mencoba hal-hal yang belum terpikirkan dan termimpikan olehnya
sebab udara kian jauh bila tak harus bersua
oh, kotak ini terkunci rapat sekali

sudah cukup perjumpaan ini
wajahmu pasi hai purnama
masih ada sisa waktu dan napas dalam perjalanan nanti
boleh aku berpamitan sejenak, merampungkan hening rindu dan kata-kata
sisa malam berangkatlah mencari sekerat daging yang terpisah dari jiwa
dan anggur-anggur memabukkan jati diri
o, malam dingin begini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s