SEBERAPA TABAH, KESEDIHANKU MEMELUK KEBAHAGIAANMU

me

“Sunyi adalah rahim puisi; tempat kata-kata pergi dan kembali.”

Di sudut kamar, seorang laki-laki sibuk menuliskan kata-kata. Di sebuah kamar yang basah, seorang perempuan memeluk erat kesedihannya.

Laki-laki itu mengira, apa yang ditulisnya adalah jalan bahagia ; jalan yang menggairahkan hidupnya, jalan yang menentramkan kepedihannya.

Laki-laki itu terus menulis ; ia tuliskan kesedihannya, ia tuliskan cintanya ; hingga pena ditangannya tak mampu lagi mengeluarkan airmata.

Ia tak pedulikan lagi, lampu-lampu kamar yg telah lama mati. Baginya, kegelapan adalah cahaya bagi kesedihan.

Di sebuah kamar, sebelum laki-laki itu menuntaskan bait terakhir puisinya, seorang wanita menangis mengemasi perasaannya; perasaan-perasaan yang tak mampu lagi menidurkan kesedihan.

 

cry

“Takdirku, mencintaimu. Takdirmu, melupakanku. Takdir cinta; biarlah milik airmata.”

Wanita itu mencoba membangunkan semua mimpi, ia coba tidurkan segala sunyi, berharap dalam hati ; puisi yang dinanti tak lagi menyakiti.

Ia memejam, berharap langit malam tak menitikkan kesedihan. Luka, sesulit itukah engkau ditidurkan?

 

“Detik waktu, ialah detak aku mencintaimu. Detak waktu, ialah detik engkau melupakanku”

Akhirnya, dengan tabah laki-laki itu menyelesaikan bait terakhir puisinya “aku selalu mencintaimu, kapan pun engkau mau”.

Pada waktu sama, dengan khusyuk, wanita itu berdoa; “aku akan melupakanmu, sekuat ingatanku mencintaimu.”

Laki-laki itu bahagia dalam puisinya, wanita itu bahagia dalam doa-doanya. Cinta, adakah yg lebih tabah dari airmata?

Barangkali, kebahagiaan dan kesedihan, adalah seberapa tabah kita mampu mengingat dan melupakan.

9 thoughts on “SEBERAPA TABAH, KESEDIHANKU MEMELUK KEBAHAGIAANMU

  1. Allah mungkin hanya sedang menyimpan bahagia mu itu,
    hingga tiba saat dan waktu yang sepatutnya.
    DIA bukan sedang menahannya.
    DIA cuma mahu melindungi bahagia yang sedang kau cari.

    “Allah lebih tahu apa yang layak kita dapat, apa yang kita berhak dapat, apa yang berhak kita miliki dan apa yang berhak kita rasai.”🙂 InsyaAllah..

    Like

  2. Saya suka permainan kata, seperti detik – detak, lupa – ingat, sedih – bahagia, terangkai menjadi kalimat puitis penuh makna, yang menyadarkan bahwa ternyata antara kebahagiaan dan kesedihan hanya terpisah oleh untaian benang yang teramat tipis. .

    Like

  3. Dia bersembahyang, kerana dia menulis, cinta mempunyai pelbagai bentuk transformasi, jadi terima kasih romantis untuk berkongsi, saya seronok.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s