Pulang

Lil sisme and my little sister

 

Mungkin,

sudah saatnya kita kembali kerumah masing-masing untuk memahami jiwa yang tak pernah kita temukan sebelumnya. Memahami tangis dan gelisah, memahami bahasa diam juga senda gurau.

ternyata hidup bukanlah pertunjukan semalam suntuk diatas panggung atau pentas keliling kota, lintas pulau atau keliling dunia.

Sudah saatnya kita kembali untuk membenahi kamar yang lama kita tinggalkan, membenahi foto-foto, kertas-kertas usang dan cermin
yang tak henti-hentinya berkata “keparat, kau sakit jiwa!”.  Perlu sedikit waktu untuk merenungkan perjalanan kita kemarin, merenungkan setiap peristiwa, percakapan, dan tindakan-tindakan yang kadang tak masuk akal.

Dan dirumah masing-masinglah kita akan mendapatkan kesejukan juga makna dari sebuah pengembaraan, seperti jiwa-jiwa menuju keabadian.

Ayolah kawan, kembalilah ke rumah masing-masing agar kita sadari betapa besar arti sebuah kehangatan keluarga, ambilah secerik kertas dan tulislah puisi sebanyak mungkin sambil menghargai bahasa dan kesunyian yang memang tak lazim.

Mungkin, suatu saat nanti akan kita ledakan bom waktu itu besama-sama.

4 thoughts on “Pulang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s