Tuan Rumah Yang Sopan dan Tamu Yang Pengertian

tamu

Bertamu? Siapa sih yang tidak pernah bertamu? Siapa juga yang tidak pernah menjadi tamu ataupun menerima tamu? Rasanya biasa saja kalau kita membicarakan tentang materi bertamu. Tidak ada yang istimewa. Bertamu, ya hanya itu-itu saja. Ada tuan rumah dan tamunya tentu saja.

Namun, siapa sangka dibalik itu semua ada keutamaan-keutamaannya pun ada juga rambu-rambunya. Sampai-sampai mengenai bertamu ini rasulullah berpesan kepada kita dalam sebuah haditsnya. Kata Rasul :

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tentang bertamu ini, Allah juga mengabadikan sebuah kisah yang sepantasnya kita jadikan teladan di dalam Al-Quran. Allah berfirman :

Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaamun.” Ibrahim menjawab: “Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal.” Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk. Lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata: “Silahkan anda makan.” (QS. Adz Dzaariyaat : 24-27)

Indah bukan? Begitu istimewa dan sarat dengan keteladanan kisah di atas. Meski Nabi Ibrahim tidak mengenal tamu-tamunya. Beliau tetap memuliakan mereka, menghormati dan menghargai mereka sebagai seorang tamu sebagaimana mestinya, bahkan mereka dijamu dengan daging anak sapi gemuk yang dibakar –atau bahasa kerennya sekarang barbeque– oleh beliau. Hmm, siapa yang tidak mau diberi hidangan barbeque?

Nah, ini dia rambu-rambu yang saya sebutkan di atas tadi. Pertama, untuk tuan rumah. Dalam memuliakan tamu, Islam telah mengajarkan beberapa rambu-rambu dalam menerima tamu berikut ini :

1. Menerima tamu dengan wajah yang cerah. Selain merupakan sedekah, senyum dan wajah yang cerah adalah suguhan terbaik bagi tamu. Jauh lebih baik dari minuman manis yang disajikan dengan muka masam.

2. Menggunakan tutur kata yang santun. Tutur kata yang sopan akan membuat tamu merasa segan. Membuat tamu akan semakin merasa dihargai dan dihormati.

3. Memberikan sajian yang baik. Bisa jadi sajian yang kita anggap biasa-biasa saja justru menjadi sebab terbukanya pintu berkah dan rezeki kita.

4. Menyegerakan hidangan untuk tamu. Siapapun tamu yang datang, sesederhana apapun hidangan yang kita punya, menyegerakan menghidangkan kepada tamu adalah keutamaan memuliakan tamu. Apabila kita sedang diberi rezeki memiliki makanan yang enak, dianjurkan agar menghidangkan secukupnya saja. Jangan lupa menyisihkan untuk keluarga/anak-anak. Hal ini dimaksudkan agar mereka tidak menunggu-nunggu sisa makanan tamu.

5. Ruang tamu yang rapi. Sebagai seorang muslim sudah sepantasnya kita mencintai kebersihan, termasuk juga kebersihan dan kerapian ruang tamu. Seringkali kita menyepelekan tamu yang datang kerumah kita. Karena merasa tamunya orang biasa-biasa saja, kita membiarkan ruang tamu kita apa adanya. Dan biasanya kita hanya mengatakan, “Maaf, berantakan”. Padahal semua orang sama, mereka memiliki perasaan dan akan memberikan penilaian.

6. Tidak tergesa-gesa mengangkat makanan sebelum benar-benar selesai.

7. Menjaga anak-anak agar tidak mengganggu. Terutama yang memeliki anak kecil di rumah, pasti sering merasakan hal seperti ini.

 

Yang kedua, rambu-rambu untuk tamu. Selain mengajarkan rambu-rambu dalam menerima tamu, Islam juga mengajarkan rambu-rambu saat bertamu, antara lain :

 

1. Meminta ijin untuk masuk rumah. Islam mengajarkan bahwa batasan ijin –mengucapkan salam dan mengetuk pintu– adalah tiga kali. Meski ada tanda-tanda tuan rumah ada di rumah, jika setelah tiga kali tidak ada jawaban, hendaknya kita pulang.

“Jika salah seorang meminta ijin (masuk rumah) tiga kali dan tidak diijinkan, maka pulanglah” (Muttafaqun ‘alaihi).

2. Tidak boleh dilakukan oleh seorang tamu saat meminta ijin adalah dilarang mengintip, atau melongok-longok melalui lubang pintu atau jendela. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim Rasul Saw telah mengijinkan tuan rumah untuk mecolok mata si pengintip saking buruknya kelakuannya.

3. Jika ditanya siapa oleh tuan rumah, jawablah dengan nama atau julukan yang ia mengenalnya.

4. Memilih waktu yang tepat untuk bertamu. Sebaiknya kita tidak bertamu pada waktu-waktu makan, istirahat, atau jika waktu sudah larut malam, karena akan mengganggu kenyamanan tuan rumah.

5. Saat dijamu, diberi pilihan menu, hendaknya kita memilih yang paling ringan. Dan apapun hidangan yang disajikan, kita harus menampakkan kegembiraan. Tak perlu memuji, tapi juga jangan sampai mencela atau membanding-bandingkan hingga menyakiti. Dan jangan lupa mendoakan agar hidangan yang disajikan diberi keberkahan dengan membaca

Allahumma bariklahum fiimaa rozaktahum, waghfirlahum warhamhum (Ya Allah berilah berkah apa yang engkau rezekikan pada mereka, ampunilah dan kasihilah mereka)

Semoga kita bisa menjadi tuan rumah yang sopan dan tamu yang pengertian. Wallahu’alam.

One thought on “Tuan Rumah Yang Sopan dan Tamu Yang Pengertian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s