Mengajak Menikah Adalah Da’wah*

Nikah

Beberapa waktu lalu saya mendapat keluhan dari seorang akhwat yang menamai diri sebagai aktivis da’wah. Namun, dalam waktu yang bersamaan ia mengakui bahwa dirinya sedang menjalin hubungan tanpa status dengan seorang ikhwan yang sebenarnya sama-sama paham bahwa perbuatan mereka salah. “Aku udah ngajak dia buat nikah berkali-kali, tapi dia tetap tidak mau dan selalu mengajukan berbagai alasan,” keluh itu saya dengar sambil menyaksikan wajahnya yang amat murung dan berurai air mata.

Simpulan yang saya dapat dari keluhan akhwat ini adalah terkikisnya niat da’wah dari ajakannya untuk menikah. Bukankan mengajak orang lain untuk menjaga diri dan kehormatannya adalah da’wah? Bukankah mengajak orang lain melaksanakan sunah adalah da’wah?

Siapapun dia yang kita hadapi segala bentuk kebaikan yang kita ajak dan tawarkan nikmatilah sebagai aktivitas da’wah. Kadang kita tidak sadar mengajak kebaikan atau berda’wah kepada keluarga: ayah, ibu, kakak, adik, dan orang-orang yang kita sayangi memiliki tantangan tersendiri. Mungkin akhwat yang mengeluh tadi seharusnya mengategorikan da’wahnya kepada sang teman dekat sebagai jenis da’wah macam ini. Orang yang dekat dengan kita tentu tahu banyak keburukan-keburukan kita. Mereka mengetahui detail kita. Oleh sebab itu, terkadang kita kehilangan jurus untuk menularkan kebaikan kepada mereka atau bahkan menjadikan kedekatan sebagai barier atas kesuksesan da’wah.

Padahal, tunggu dulu! Bukankah kita juga tahu detail objek da’wah kita -yang notabene sangat dekat-? Bukankah kita amat mengetahui kebaikan-kebaikan apa yang diharapkan oleh objek da’wah kita? Bukankah kita genap tahu apa yang tidak disukainya?

Yang perlu dilakukan adalah memosisikan kebaikan yang sedang kita tularkan kepada mereka sebagai da’wah, bukan sebagai keinginan pribadi yang memaksa -walaupun salah satu devinisi da’wah adalah paksaan-. Permintaan atau ajakan untuk melaksanakan kebajikan ini tentu tidak lantas membuat kita berujar, “kamu sadar nggak sih, aku sedang menda’wahi kamu tau!”

Bukan itu yang saya maksud. Ketika kita memaknai ajakan kebaikan kepada orang yang kita sayangi sebagai aktivitas da’wah, maka hati kita akan lebih legowo dan ikhlas ketika ajakan itu tidak disambut positif. Kita akan lebih bisa menerima kenyataan karena sadar betul bahwa da’wah memiliki karakter: jalannya panjang, penuh rintangan, dan hanya sedikit orang yang bertahan di dalamnya.

Jika kita memaknai ajakan kepada orang yang kita sayangi sebagai da’wah, kita akan dapat mengategorikan mad’u jenis apa mereka. Dalam da’wah ada tiga jenis mad’u:

1. Mad’u yang bersegera kepada kebaikan. Mereka inilah golongan yang menyambut seruan da’wah. Mereka inilah yang mendapat karunia yang sangat besar. Seruan kepada mereka adalah untuk tetap konsisten berada di jalannya, saling menasehati dalam kebaikan, amar ma’ruf dan nahi mungkar.

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya dan hari Kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya,” QS. An Nisa: 136.

2. Mad’u yang pertengahan, ragu-ragu, antara menerima dan menolak. Kadang menerima sebagian terkadang menolak bagian yang lain. Berdakwah kepada golongan ini adalah dengan cara menghilangkan keragu-raguan, meneguhkan hati mereka pada keimanan kepada Allah swt.

“Katakanlah: Hai hamba-hamba Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” QS. Az Zumar: 53.

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaithon, mereka ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.”

3. Mad’u yang menganiaya diri sendiri, yakni yang menolak ajakan da’wah dan menjauhkan dirinya dari ajakan tersebut. Berdakwah terhadap golongan ini tidak lain adalah dengan mengingatkan mereka kepada kematian dan hari kiamat serta mengajak mereka untuk bertaubat.

Ada pada bagian mana objek da’wah kita? Tentu kita dapat mengategorikannya sendiri. Apabila akhwat tadi telah memosisikan ajakannya untuk menikah sebagai da’wah, tentu ia akan tahu bagaimana penyikapannya. Apabila teman dekatnya termasuk mad’u jenis pertama ia akan lebih mudah mengajak dan merasionalisasikan ajakannya. Ia dapat menjelaskan bahwa menikah adalah sunah. Pada urusan ini Rosulullah SAW menyebutnya dengan jelas, dari Annas bin Malik, sungguh Nabi SAW, telah mengucapkan puji dan syukurnya kepada Allah dan beliau bersabda, “namun aku sendiri shalat, tidur, puasa, berbuka dan beristri. Barangsiapa membenci sunahku (tata kehidupanku) bukan golonganku,” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Berbicara tentang sunah berarti berbicara tentang setengah agama ini. Bukankah Rosulullah SAW sebelum wafat berwasiat bahwa kita harus berpegang teguh pada Alquran dan sunah? Maksud saya, melaksanakan sunah juga merupakan prioritas dalam melaksanakan dien ini. Pelaksanaan dan keyakinan bahwa melasanakannya sama dengan melaksanakan dienul Islam adalah aqidah. Orang yang tidak memprioritaskan sunah setelah datang kepadanya hal-hal yang sudah melayakkannya melakukan hal sunah tersebut aqidahnya harus dipertanyakan.

Belum lagi jika akhwat tadi menyampaikan kepada teman dekatnya ayat tentang mendekati zina, “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesunggunhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu yang jalan buruk,” ( Q.S. Al Isra 32). Tentulah teman dekatnya paham betul tentang larangan pada ayat ini.

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang ayat ini: “Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam rangka melarang hamba-hamba-Nya dari perbuatan zina dan larangan mendekatinya, yaitu larangan mendekati sebab-sebab dan pendorong-pendorongnya.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 5/55).

Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini di dalam tafsirnya, “Larangan mendekati zina lebih mengena ketimbang larangan melakukan perbuatan zina, karena larangan mendekati zina mencakup larangan terhadap semua perkara yang dapat mengantarkan kepada perbuatan tersebut. Barangsiapa yang mendekati daerah larangan, ia dikhawatirkan akan terjerumus kepadanya, terlebih lagi dalam masalah zina yang kebanyakan hawa nafsu sangat kuat dorongannya untuk melakukan zina,” (Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal.457).

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang kalimat “sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji”, “Maksudnya adalah dosa yang sangat besar.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 5/55).

Asy-Syaikh As-Sa’di berkata, “Allah subhanahu wata’ala menyifati perbuatan ini dan mencelanya karena ia fahisyah adalah perbuatan keji. Maksudnya adalah dosa yang sangat keji ditinjau dari kacamata syariat, akal sehat, dan fitrah manusia yang masih suci. Hal ini dikarenakan (perbuatan zina) mengandung unsur melampaui batas terhadap hak Allah dan melampaui batas terhadap kehormatan wanita, keluarganya dan suaminya. Dan juga pada perbuatan zina mengandung kerusakan moral, tidak jelasnya nasab (keturunan), dan kerusakan-kerusakan yang lainnya yang ditimbulkan oleh perbuatan tersebut,” (Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal.457).

Al-Imam Ath-Thabari rahimahullah mengatakan, “Dan zina merupakan sejelek-jelek jalan, karena ia adalah jalannya orang-orang yang suka bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala, dan melanggar perintah-Nya. Maka jadilah ia s
ejelek-jelek jalan yang menyeret pelakunya kedalam neraka Jahannam.” (Tafsir Ath-Thabari, 17/438).

Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullah menafsirkan lafazh ayat (yang artinya) “suatu jalan yang buruk” dengan perkataannya, “Yaitu jalannya orang-orang yang berani menempuh dosa besar ini.” (Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 457).

Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah menyatakan bahwa Allah subhanahu wata’ala mengabarkan tentang akibat perbuatan tersebut. Bahwasannya perbuatan tersebut adalah sejelek-jelek jalan. Karena yang demikian itu dapat mengantarkan kepada kebinasaan, kehinaan, dan kerendahan di dunia serta mengantarkan kepada adzab dan kehinaan di akhirat, (Lihat Al-Jawab Al- Kafi, hal. 206).

Penjelasan tersebut cukuplah dapat meyakinkan mad’u jenis pertama untuk menyegerakan pernikahan karena bagi mad’u jenis ini, mengekalkan keistiqomahan melaksanakan aturan Allah SWT menjadi prioritas. Oleh sebab itu, akan mudah mengajaknya kepada kebaikan.

Jika teman dekat akhwat ini adalah mad’u jenis kedua yang masih ragu-ragu, Maka tugasnya adalah menguatkan keyakinannya. Jika kondisi keuangan dan kemapanan membuatnya ragu untuk melasanakan sunah, maka akhwat ini perlu menjelaskan firman Allah SWT:

“Barang siapa yang beramal sholih baik laki-laki atau wanita dia adalah mukmin, maka sungguh Kami akan balas dia dengan kehidupan yang toyyibah dan benar-benar Kami akan berikan pahala yang paling baik untuk mereka dengan sebab apa-apa yang dahulu mereka kerjakan,” (QS. An Nahl : 97).

Bukankah menikah adalah rizki? Saya jadi teringat seorang teman di kantor mengatakan “Jodoh adalah rizki. Apabila kita menemukannya dengan cepat, maka itu sudah rizki kita berarti.” Dalam perkara menikah ini, Allah SWT sudah menjelaskan dengan sangat detail dalam ayat berikut:

“Dan nikahkanlah oleh kalian orang-orang yang sendirian dari kalian dan orang-orang yang sholih dari hamba sahaya kalian, seandainya mereka faqir, Allah akan mencukupi mereka dengan keutamaanNya,” (QS An Nur : 32). Cukuplah ayat ini menjadi penambah keyakinan mad’u kita. Apabila ayat-ayat ini tidak menambah keyakinannya, berarti ada sesuatu yang salah pada keimanannya terhadap ayat Alquran. Oleh sebab itu, cukuplah kita memindahkan katergori mad’u kita menjadi mad’u jenis ketiga.

Menyikapi masalah kawan saya yang akhwat ini, jika teman dekatnya memang termasuk mad’u golongan ketiga, saya lebih menyarankan dia untuk meninggalkan teman dekatnya. Ia lebih baik menjaga dirinya dan lebih bersabar dengan menyibukkan diri melaksanakan hal-hal sunah.

Allah SWT berfirman, “Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji. Sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik,” (An-nur: 26).

 

librari:

http://tomygnt.wordpress.com
http://hafizfirdaus.com.
http://www.assalafy.org

6 thoughts on “Mengajak Menikah Adalah Da’wah*

  1. Menurut ane bukn mslah ibadah/Dakwah gan..ini maslah kesiapan lahir dan batin 1 sama lain,tidak bisa dipaksakan, jika si ikhwan bnyak alsan utk di halalkan, Tinggalkan ! tunggu ikhwan yg benar2 siap. karna tanggung jawab ikhwan bkn hanya menikahi saja, tapi hrs mnyelamatkan anak gadis orang dr fitnah (menghalalkan) harus menafkahi, hrs mengambil gadis dr org tuanya dengn tanggung jwb yang besar, tentunya anda faham sebagai laki laki peran seorang suami itu seperti apa, ingat ketika wanita sudh dinikahi disitulah surga berada di suami,apa2 hrs atas izin suami, jika suami mngajarkan istrinya menuju neraka,maka bersama sama keneraka,tapi jika suami mngajrkan mnuju surga maka selamatlah keduanya..🙂
    Jawaban versi ane ya gan..🙂

    “Jodoh itu, mau nyarinya pake pacaran, HTSan, proposal, lamar langsung ke orangnya, datengin langsung ke orangtuanya, backstreet’an, samperin MRnya, hamilin dulu, curi-curi kesempatan, cari mak comblang, lewat sms’an, telponan, dunia maya, doa diam2, sebut namanya tiap tahajud, ketemu dijalan, ketemu diamanah, ketemu pas aksi, ketemu pas hari H ta’aruf, bahkan ketemu pas abis akad nikah dll, dapetnya bakal sama aja. Soanya itu udah tertulis di lauhul Mahfuzh.
    Pertanyaannya, mau dikasih sm ALLAH dg cara dilempar atw dikasih baik2. Toh dapetnya sama aja.”
    – Terinspirasi dr Ust. Salim A. Fillah

    So, tak usah khawatir.. tinggal pilih tegas! Pangkas habis atau genapkan stengah agama itu !

    Kalau jodoh ya bakal diperlancar, kalau tidak ya bakal dipertemukan dengan jodohnya. disaat yang tepat..
    Dalam hal ini, jangan bermain-main dan jangan berharap kepada manusia. simpel bukan?🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s