Ruang Batinku

don't go

Suratku kali ini khusus kutulis untukmu, harus kukatakan kembali padamu, kekasihku. Agar engkau tahu, apa yang tengah terjadi di sini, dalam batinku, dalam jiwaku. Agar engkau memahami, aku adalah aku. Bukan dia atau siapapun.

Sayang, Aku tak pernah menyimpan satu nama pun dalam diri, pun juga namamu. Ruang batinku telah menjelma persinggahan sementara bagi nama-nama yang menginginkan peristirahatan sejenak dalam perjalanannya bergulat dengan dunia yang melelahkan, dengan hiruk-pikuk kota yang membosankan. Pintu batinku akan selalu terbuka, bagi siapapun yang mengetuknya.

Kekasihku, dari ribuan nama yang telah dengan ikhlas singgah dalam ruang batinku, tak ada seorang pun yang benar-benar menginginkan akhir dari hidupnya habis dalam ruangan itu. Mereka satu demi satu pergi, meninggalkanku. Mungkin melanjutkan pengelanaannya, mungkin juga mencari persinggahan yang lebih damai. Sebab ruang batinku mulai gaduh semenjak burung-burung kecemasan itu sering mampir di jendela dan atap.

Sayang, aku telah menjelma dermaga. Orang-orang bisa dengan bebas menepi, lantas dengan sukacita berlalu, meneruskan kembali pelayarannya.

Kekasihku, aku tak pernah menjadikan engkau dadu. Aku bukan seorang pemain yang ulung. Yang bisa menang dalam pertaruhan 1:1000. Engkau adalah pejalan diantara ribuan pejalan yang pernah singgah di sini, dalam ruang batinku. Dan aku, harus siap kapan saja melepas kepergianmu. Jika engkau sudah merasa bosan tinggal di sini.

Hatiku tidak sesuci lelaki-lelaki padang pasir yang berdiam di oasis-oasis. Aku sempat kagum pada mereka. Mereka yang hanya mengizinkan satu nama saja untuk singgah dalam jiwanya, lantas melepas kepergian satu nama itu, dan merindukannya sepanjang waktu. Meski pada akhirnya, satu nama itu tak jua kembali. Tapi mereka tetap setia menanti.

Sayang, aku tak bisa seperti mereka. Aku berani mempersilakan seribu nama untuk singgah, lantas melepaskan kepergiannya, tapi aku tak berani merindukan seribu nama itu untuk kembali. Aku memang pengecut, kekasihku. Dan aku harus membayar mahal atas rasa kepengecutanku.

Jika engkau telah bosan berdiam di sini, aku tak bisa menahan kepergianmu itu. aku tak bisa melarangmu untuk meneruskan kembali perjalanan, mencari makna dan arti lain tentang airmata, sepi dan kerinduan. Aku hanya bisa melepasmu dengan senyuman getir, dengan ribuan perasaan yang selalu menjelma, saat aku harus melepas nama-nama lain itu untuk pergi. Meninggalkanku kembali sendiri, hanya sendiri. Sebab tak ada satu nama pun yang mau menetap di sini, dalam ruang batinku.

Tapi aku pun takkan berani melarang engkau, jika engkau tak ingin pergi dari sini. Jika itu terjadi, maka akan kututup pintu untuk nama lain. Agar engkau yang selamanya kudekap. Ah, mungkin aku tengah bermimpi atau semacam halusinasi? Sebab tak pernah ada nama yang pernah dengan sungguh-sungguh menginginkan tinggal selamanya di ruang yang begini sempit. Hanya ruang batinku. Teramat sempit bagi pejalan yang terbiasa menikmati keluasan mayapada.

Sayang, tentukan lah pilihan mu.

please dont go

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s