SECANGKIR KOPI

kopi,luka,hmmm

kepadamulah aku berlari, menyematkan rindu
dari kisah langit yang lembayung dikotamu jam lima pagi.
sekian kecemasan kutinggalkan dalam buku.

aku memburu. aku melaju

lalu ada yang menguncup ketika keretaku
berguncang dalam lintasan jarak, dimana
hujan melabuhkan ingatan pada wajahmu;
cinta, selamanya telah berdentang, jauh sebelum
peluit menghilang, meninggalkan malam yang
terperangkap ditugu kotaku

aku terlena sepanjang deru angin, hingga
kutemukan senyummu diantara bayang-bayang
matahari yang bersandar didinding gerbang.

begitu indah, begitu basah.

membasuh kenangan demi kenangan
dari torehan prasangka
dan tanda tanya

tapi siapakah mencuri senja hingga sunyi
terbangun didalam kepala?

kulihat hujan menderas pada secangkir kopi
yang bersitatap dengan bukit-bukit
dibelakang punggungmu

menghanyutkan percakapan kita
dalam getar hening jabat tangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s