Jalang

Di rumah puisi yang sederhana, bocah kata hanya tinggal sendiri. hidupnya yatim piatu, diasuh oleh pohon tua yang ramah, yang tinggal di belakang rumah. setelah dewasa, kata itu menjadi sajak liar dan jalang. hobinya mabuk kopi dan memperkosa sepi, di ujung gang sunyi. Diumur duapuluhlima, sajak ditemui maut. ia menantang sambil mengacungkan pedang. “kita duel, siapa yang lebih dulu mati ?!” benar-benar jalang.

Duel berakhir. sajak mati terhunus pedangnya sendiri. mayatnya dikubur di bawah pohon tua, belakang rumah puisi. air mata menjadi tabur bunga berkabung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s