Langit

langit

Sebagai langit yang terbentang luas, aku bebas melihat apa saja ke bawah. Betapa menyenangkan sekali memantau aktivitas makhluk hidup dari atas ini -terutama tingkah polah manusia. Allah dengan segala kuasanya mentakdirkan aku bisa menggantung tanpa tiang dan menyaksikan apa-apa yang terjadi di bumi. Untuk itu aku sangat bersyukur.

Ketika menyaksikan tingkah polah manusia beraktivitas di bumi, terkadang aku tersenyum, -kondisi cuaca berarti sedang biru berawan. Tertawa, -sedang tidak terik tidak pula mendung. Berduka, -sudah pasti gerimis, bahkan hujan lebat. Atau sebal sekali, -petir, guntur menggelegar ke sana kemari. Menyambar apa saja yang aku kehendaki.

Coba tebak bagaimana dengan keadaan wajahku hari ini? Sepagi tadi aku tersenyum, mendegar dua hati manusia sedang berdoa diam-diam. Membisikkan pesan-pesan permintaan kepada Allah untuk hal yang sama. Mereka minta dipertemukan. Bahkan yang laki-laki gigih sekali nada suara hatinya. Sedangkan yang perempuan sedikit resah. Cemas. Mungkin memang begitu, perempuan akan jauh lebih cemas menunggu jodohnya.

Aku pernah melihat keduanya tidak sengaja berpapasan. Yang perempuannya menundukkan pandangannya. Yang lelaki tidak berani menatap lama-lama. Lucu sekali melihat kelakukan mereka. Aku tidak tahu apakah Allah berbaik hati mentakdirkan mereka berdua bersatu. Aku hanya bisa membantu, membuat suasana agar lebih nyaman. Awan-awan kubiarkan berarak cerah ke sana kemari. Bagaimana pun doa yang baik akan selalu didukung langit.

Nah, sekarang mari kita pantau dua manusia tadi. Keduanya baru saja menunaikan shalat Dhuha. Si lelaki merebahkan badannya menatap langit-langit. Dan mulai berbisik-bisik. Hatinya mulai berkata-kata.

“Perihal mencarimu, aku berusaha memaksimalkan waktu yang kupunya. Tidak hanya terfokus untuk menemukanmu. Aku pergunakan waktu yang ada untuk sekalian mempelajari, mengamati, memahami banyak hal. Mencoba tantangan baru dalam setiap kesempatan sepanjang perjalanan pencarian. Sebab aku tidak ingin waktuku habis sia-sia hanya untuk mencari tanpa menambah bekal pada diri sendiri. Dan ketika ternyata takdir berkata lain, kau tak jua berhasil aku temukan. Semoga saja aku tidak terlalu berkecil hati. Boleh jadi ada hal lain yang lebih menarik perhatian, yang aku temukan. Sekalipun tidak, aku sudah lebih dari cukup menambah pengalaman, pemahaman hidup. Bahwa tidak selamanya misi pencarian akan berakhir dengan apa yang diinginkan, mungkin saja akan mendapat yang sebenarnya lebih dibutuhkan.”

Aku menyunggingkan senyum, sudah seharusnya begitu. Banyak manusia lain hanya sibuk mencari apa yang mereka inginkan, tanpa berusaha lebih dulu memperbaiki diri. Akhirnya mereka hanya sibuk mencari, habis sudah masa waktunya, tidak juga menemukan yang ia inginkan. Padahal jika saja sambil memperbaiki banyak hal, mungkin diperjalanan mereka menemukan sesuatu yang sebenarnya lebih dibutuhkan.

Aku dukung manusia satu ini, untuk itu awan-awanku bertambah cerah untuknya. Mari kita pantau si perempuan yang ia sukai diam-diam. Perempuan itu masih melipat kain mukenanya. Sama, sambil berbisik-bisik menunduk. Hatinya berkata-kata.

“Perihal menunggumu, aku tetap menghargai waktu. Memupuk kesabaran dengan sembari mempersiapkan, memperbaiki, menata banyak hal. Agar ketika kamu datang dengan senyuman, kamu akan tinggal dengan lebih nyaman. Sekalipun takdir berkata lain, pada akhirnya bukan kamu yang datang, tak mengapa. Siapa tahu ada orang lain yang dikirim Tuhan untuk menggantikanmu. Ia yang lebih pantas menghargai kesabaranku menunggu, ia yang lebih berhak menikmati kenyamanan tempatnya yang baru. Bersamaku.”

Aduhai, ideal sekali ini pemahaman keduanya. Cocok-cocok. Aku tertawa senang mendengarnya. Hei, sudah seharusnya begitu. Sebagai perempuan yang hatinya lebih lembut, yang pertahanannya lebih mudah rapuh, sudah seharusnya lebih kreatif dalam menunggu. Menyiapkan banyak hal. Agar jika tidak sesuai harapan sudah punya obat penawarnya. Benar-benar, bukankah hati seorang perempuan memiliki ego yang lebih susah menerima keadaan? Nah, hanya hati yang tangguhlah, hati yang memiliki pemahaman baik itu yang punya penawarnya sendiri. Hati yang tidak gampang cengeng. Aku salut, sangat salut. Aku tertawa mendengar penuturan hati perempuan ini. Ah, suasana yang tidak mendung juga tidak terik memang kadang lebih menenangkan.

Aku jadi lebih bersemangat mendengar kata hati mereka. Ini seru. Ya Allah ya Rabb, Engkau Maha Mendengar sekecil apapun bisikkan hati manusia. Tidakkah Engkau berkenan menyatukan keinginan keduanya?

“Duhai waktu yang telah menguji ketabahanmu, sungguh kelak aku akan berterima kasih. Karena waktu setia menghiburmu menanti kedatanganku. Duhai engkau hati yang telah teruji, doakan aku agar aku bisa mengganti waktu luangmu untuk sabar menungguku, dengan senantiasa meluangkan waktu untukmu, merajut kebahagiaan yang sama-sama kita tuju. Meski itu tidak sepadan dengan pengorbananmu untuk tetap percaya bahwa aku memang akan datang menujumu.”

Lihat-lihat, Oh Tuhanku. Lihat kata-kata hati mereka. Kata hati lelaki itu begitu penuh penghargaan. Begitu berharap dalam kesungguhan.

“Kamu tak perlu giat menjadi apa. Tak perlu mengusahakan membawa apa. Berusaha saja untuk tetap menyentuh hatiku. Jika sudah begitu, tentu saja kamu datang dengan apa adanya pun, kamu sudah lebih dari cukup untuk membahagiakan aku.”

Dan lihat-lihat, Maha KuasaMu Tuhan. Jika saja mereka bisa melihat doa-doa mereka sedang saling bersahut-sahutan di langit. Saling mendukung satu sama lain mengetuk kasih sayangNya. Niscaya hati mereka jauh lebih tenang. Tidak ada lagi hati yang begitu resah mencari. Tidak ada lagi hati yang bermuram resah menunggu.

Tapi bagaimana pun aku tahu skenarioMu lebih indah ya Rabb. Beruntung sekali aku ditakdirkan menjadi langit yang bisa menyaksikan itu semua. Melihat tali kasih itu tumbuh bersimpul. Aku akan tetap menjadi saksi untuk mereka berdua. Dua hati yang begitu percaya akan takdirnya, akan jodohnya dengan meminta langsung kepada pemilik alam semesta. Hingga cinta mereka merekah sempurna

Rasa-rasanya sepanjang hari ini wajahku akan cerah. Ah semoga saja. Asal jangan melihat ada yang bergandengan tangan saja. Jelas-jelas belum ada izinNya. Aku tersenyum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s