Sebuah Cerpen : 5 Nasehat

Qum, bangunlah! bangunlah! 

Aku terbangun dengan kepala pusing. Barusan seperti ada yang meneriaki namaku, suaranya lembut tapi tegas. Ternyata hanya mimpi.

Aku melirik jam beker, sudah hampir adzan shubuh. Aku harus bergegas ke masjid. Ini perjalananku yang pertama. Aku harus menepati janji kepada Ustadz Rizal yang memberi nasihat kepadaku kemarin. Terutama janji kepada diriku sendiri.  Ya, meski aku tidak terlalu paham akan maksudnya, tapi aku sudah bulat menyanggupinya tanpa banyak tanya. Baiklah setelah shalat shubuh nanti, aku akan jelaskan lebih lanjut. Tentang alasanku yang tidak seperti biasanya sudah bangun di jam sepagi ini. Dan kenapa harus bergegas ke masjid.

Setelah shalat shubuh, aku mengedarkan pandangan ke sekeliling masjid. Masih ada beberapa jamaah yang beritikaf. Mataku menatap seorang pak tua yang sedang menggilirkan biji tasbihnya di dekat mimbar. Aku harus memastikan dulu apa pak tua itu yang dimaksud oleh Ustadz Rizal kemarin, kalau dari ciri-cirinya memang sudah tepat. Rambutnya sudah hampir putih semua, memakai peci berwarna putih. Berpakaian serba putih. Dengan beberapa helai janggut putih di dagunya. Barangkali memang beliau pak tua yang dimaksud. Seseorang yang akan memberikan nasihat pertamanya kepadaku.

Dengan sikap sesopan mungkin aku menghampiri pak tua. Ragu-ragu menyapanya, takut mengganggu dzikirnya.

“Assalamu’alaikum Pak Haji. Maaf mengganggu dzikirnya.”

Pak tua itu hanya menoleh sebentar sambil mengangguk pelan menjawab salamku. Kemudian kembali fokus melantunkan dzikirnya.

“Tolong berikan saya satu nasihat Pak Haji.” Kataku mengutarakan maksudku.

Kembali pak tua menoleh sebentar tanpa bicara apa-apa.

Aku salah tingkah, jelas sekali kalau kehadiranku sudah mengganggunya. Memperbaiki posisi duduk. Tetap menunggu sepotong nasihat itu. Bagaimana pun aku harus mendapatkannya agar bisa meneruskan perjalananku yang kedua. Itu pesan Ustadz Rizal kemarin.

“Perbaharui Syahadatmu!” Ujar pak tua sambil berdiri. Suaranya lembut tapi tegas. Lalu melangkah ke luar masjid.

Kedua alisku menyatu. Perbaharui syahadat? Bukankah aku terlahir sebagai seorang muslim? Bukankah ketika shalat shubuh tadi aku juga membaca syahadat ketika duduk di antara dua sujud? Aku menyusul pak tua itu, langkahnya cepat sekali untuk seorang yang usianya sudah senja.

“Maaf Pak Haji, saya belum terlalu paham.”

“Perbaharui Syahadatmu anak muda. Perbaharui Syahadatmu sebelum azal memenggal lehermu.”

Aku terpaku, merinding mendengarnya. Suara pak tua itu semakin tegas penuh penekanan.

***

Sepanjang perjalanan pulang dari masjid tadi, aku terus-menerus melapadzkan dua kalimah syahadat. Sesekali diselingi oleh artinya. Aku masih tidak paham maksud nasihat pak tua tadi. Tiba-tiba saja aku jadi lebih banyak memikirkan kematian. Bagaimana jika perjalanan ini belum selesai azal lebih dulu datang? Aku merinding.

Hari ini aku sengaja tidak pergi ke kantor, dan meminta sekertarisku untuk mengurus semuanya yang diperlukan di kantor. Baiklah sambil menuju ke masjid berikutnya, perjalananku yang kedua. Dan letak masjidnya sangat jauh, aku akan menceritakan asal-muasal perjalanan ini. Sekaligus menceritakan siapa diriku yang sebenarnya.

Namaku Qum. Aku terlahir dari keluarga yang berkecukupan materi. Perusahaan ayahku banyak memiliki cabang hampir di seluruh kota. Sejak kecil aku sudah dididik dengan baik agar bisa melanjutkan bisnisnya. Dibekali dengan pendidikan yang tinggi dan terbaik. Sayangnya tidak untuk hal yang menyangkut pengamalan agama. Hingga aku berhasil tumbuh sesuai dengan keinginan ayahku. Kini aku yang memegang kendali perusahaan-perusahaan itu. Dan berkat usahaku bisnis keluarga ini semakin berkembang.

Tapi akhir-akhir ini aku merasa belumlah mendapatkan apa-apa. Banyaknya harta ini membuatku merasa miskin, bukan miskin materi tapi sesuatu yang lain. Yang aku tidak mengerti apa sesuatu itu. Jiwaku seperti kosong, selalu gelisah. Hal itu membuatku tidak bisa tidur setiap malam. Hingga tidak sengaja aku bertemu dengan Ustadz Rizal ketika ia mengisi kutbah jumat di masjid dekat kantorku. Sebenarnya ia adalah kawan lamaku ketika masa kuliah dulu. Aku utarakan masalahku ini kepadanya.

“Maaf nih sebelumnya, Antum kapan terakhir bangun shalat Shubuh?” ustadz Rizal bertanya degan tidak bermaksud menyinggung.

“Saya sudah lupa Ustadz. Saya selalu kesiangan karena pulang dari kantor larut terus.” Jujur memang begitu adanya. Untuk urusan shalat jangankan Shubuh, empat waktu yang lain saja kadang selalu dikerjakan hampir diakhir waktu karena kesibukan.

“Begini saja, kapan antum ada waktu sehari penuh kosong? Nah kalau ada coba antum sekali-kali sehari itu usahakan shalat di masjid tepat waktu. Kalau perlu bergerilya dari waktu ke waktu shalat berikutnya, ke masjid-masjid yang lain. Biar suasana masjidnya dapat. Insya Allah jiwa antum akan lebih tenang. Dan kalau bisa di hari itu antum puasa sunah.” Tutur Ustadz Rizal memberi solusi.

Aku pun langsung membatalkan semua meetingku esok harinya. Mencoba saran dari kawan lamaku itu. Sebelum pamit, ustadz Rizal sempat berpesan untuk menemui seseorang yang berciri-ciri yang sudah aku sebutkan tadi.

“Pintalah satu nasihat kepadanya.” 

Aku mengangguk dengan semua usulan itu. Seperti itulah asal-muasal perjalananku hari ini.

Tidak terasa waktu sudah hampir Dzuhur, sebentar lagi mobilku sudah memasuki pelataran masjid yang menjadi tujuanku berikutnya. Suara adzan menggema, ketika hendak mengambil wudhu tiba-tiba sekretarisku menelpon. Melaporkan ini itu yang sedang terjadi di kantor. Aku sempat marah-marah kepadanya, mengurus hal sepele saja tidak bisa. Jengkel sekali rasanya, kantor baru ditinggal sehari saja sudah ada yang tidak beres.

Hampir saja aku ketinggalan rakaat pertama, aku beres berwudhu -yang sekenanya- tepat ketika imam mengumandangkan takbiratul ihram. Tiba-tiba alisku berkerut ketika menyadari siapa yang menjadi imam masjid besar ini. Pak tua yang tadi shubuh aku temui di masjid dekat rumah. Dengan memakai ciri-ciri yang sesuai dengan gambaran Ustadz Rizal. Pikiranku pun tidak fokus selama shalat. Memikirkan urusan kantor. Bertanya-tanya dalam hati siapa sebenarnya pak tua ini. kenapa bisa ada di masjid yang berkilo-kilo jauhnya dari rumahku. Sengaja aku memilih masjid ini agar sampai tepat waktu shalat.

***

Seusai shalat, ketika satu persatu jamaah sudah meninggalkan masjid. Aku menghampiri pak tua yang sedang bersandar pada dinding masjid. Ia sudah menyadari kehadiranku dengan wajahnya yang tetap serius tapi teduh.

“Pak haji, mohon beri satu nasihat lagi.” Kataku tanpa basa-basi.

Pak tua itu menatap wajahku sejenak. “Ambil Wudhu, dirikan shalat.” Nadanya tegas seperti memerintah.

“Saya masih punya wudhu Pak Haji. Dan Alhamdulillah saya sudah shalat, ikut berjamaah tadi.” Kataku menjelaskan, barangkali pak tua ini tidak melihat aku dibarisan shaf terakhir tadi.

“Anak muda. Ambillah Wudhu dan segera dirikan shalat.” Ia malah mengulangi perkataannya dengan nada yang lebih lembut.

Refleks saja aku mengangguk dan berdiri hendak mengambil wudhu. Mungkin itulah nasihat kedua yang harus aku lakukan. Sesuai pesan Ustadz Rizal, dengarkan saja nasihatnya, jangan banyak tanya dan lakukan yang benar.

Aku pun menunaikan shalat dzuhur sendiri. Hitung-hitung memperbaiki shalatku sebelumnya yang benar-benar tidak fokus tadi. Atau jangan-jangan memang benar wudhuku tadi tidak sempurna?

***

Selesai shalat aku memperhatikan sekitar, pak tua itu masih ada ternyata. Sedang membaca Al-Qur’an. Aku tidak ingin mengganggunya kali ini. Lagi pula ini belum waktunya Ashar. Baiklah sambil menunggu waktu Ashar yang masih dua jam lagi aku memilih berbaring. Aku putuskan tidak menuju masjid berikutnya, aku akan bertahan di masjid ini hingga Ashar. Setelah mendapat nasihat ketiga tentunya.

Aku pun menelpon sekretarisku memastikan pekerjaannya sesuai dengan yang aku intruksikan tadi.

***

Hampir saja aku ketiduran di atas sajadah, sayup-sayup kembali aku mendengar namaku dipanggil Qum! Bangunlah, bangunlah. Bertepatan dengan muadzin melantunkan hayya ‘alasshalah. Aku beranjak mau mengambil air wudhu lagi. Kali ini tidak dengan sekenanya. Aku cari pak tua sudah tidak ada. Mungkin lagi siap-siap di ruang DKM untuk menjadi imam shalat Ashar.

Tapi ternyata ia bukan imamnya. Pak tua berdiri tepat di sampingku, sama-sama menjadi makmum. Setidaknya aku lega ia masih ada di masjid ini. Jadi aku tinggal minta nasihat lagi.

***

“Bersihkan harta benda. Tunaikan hak-hak orang lain.”

Itu nasihat pak tua yang ketiga. Seperti biasa pertama-tama ia menyampaikan dengan nada yang tegas. Tapi kali ini aku tidak bertanya lagi, aku langsung mengangguk. Mengerti arah pembicaraan nasihat itu. Benar sekali aku sudah lama tidak meminta sekretarisku untuk menyiapkan berkas pembayaran zakat penghasilan.

Setelah mengucapkan terima kasih, aku pamit hendak ke masjid berikutnya. Jalanannya cukup macet aku harus bergegas. Tidak lupa ketika diperjalanan aku menelpon sekretarisku untuk secepat mungkin menyiapkan pembayaran zakat penghasilan. Sesuatu yang sangat luput sekali dari perhatianku.

***

Hujan tiba-tiba turun, aku sampai di masjid ke tiga untuk yang ke empat kalinya menjemput nasihat itu. Setengah jam lebih awal dari waktu shalat Maghrib. Niatnya mau mencari makanan kecil untuk buka puasa. Aku benar-benar terkejut ketika hendak membeli air mineral, ternyata yang melayani seseorang yang seharian ini sering sekali aku temui. Pak tua dengan orang dan ciri-ciri yang sama persis. Aku melongo. Sejak kapan ia sudah berada di sini? Bukannya aku yang lebih dulu berangkat dari masjid tadi? Hingga nasihat ke empat itu aku peroleh tanpa meminta.

“Berpuasalah anak muda.”

“I… Insya Allah Pak Haji. Hari ini saya berpuasa.” Kataku terbata-bata masih dengan sisa keterkejutan.

Pak Tua malah tertawa mendengar jawabanku. “Jangan berlindung dengan nama Allah untuk menutupi keburukanmu anak muda. Sejatinya kau tidak sedang berpuasa. Kau hanya menahan lapar dan dahaga.”

Aku mengerutkan dahi. Jelas-jelas hari ini aku puasa. Meski memang tidak sempat sahur. Tapi aku tidak lupa berniat. Aku menggeleng benar-benar tidak mengerti maksud pak tua ini.

“Kau tidak berpuasa dari menahan hawa nafsu. Tidak pandai menahan emosi dan kesombongan diri. Bagaimana pula kau sebut itu berpuasa?”

Pak Tua menutup warungnya dan meninggalkanku yang masih melongo mencoba mencerna kata-katanya. Hingga shalat Maghrib sudah selesai aku masih memikirkan perkataan pak tua itu. Apa benar seharian ini aku hanya menahan lapar dan dahaga? Memang benar aku tadi sempat marah-marah kepada bawahanku. Sempat merasa sombong kalau aku bisa dengan mudah mengatasi itu sendirian jika ada di kantor. Lalu sebenarnya siapa pak tua ini? kenapa seharian ini aku bertemu dengannya? rasa-rasanya aku perlu menemui ustadz Rizal secepatnya. Setelah aku mendapatkan nasihat yang terakhir. Setelah shalat Isya.

Senyumanku berkembang ketika mengetahui Ustadz Rizal lah yang mengimami shalat Isya. Setelah selesai aku buru-buru menghampirinya. Ingin menanyakan banyak hal.

Aku disambut dengan baik. Ternyata Ustadz Rizal memang sengaja menungguku di masjid ini. Katanya ia mengetahui keberadaanku dari sekretarisku setelah menelpon ke kantor. Aku langsung saja menceritakan perjalananku hari ini dari mulai bangun tidur sampai bertemu dengannya. Lengkap dengan nasihat-nasihat yang aku peroleh.

“Sudah tak perlu dicari lagi orangnya sudah pamit pergi. Nasihat yang terakhir biar ana yang menjelaskan.” Katanya ketika mengetahui aku mencari sosok pak tua itu.

Aku ingin sekali menanyakan siapa sebenarnya pak tua itu. Tapi Ustadz Rizal keburu menjelaskan panjang lebar.

“Kalau antum perhatikan lebih dalam sebenarnya nasihat-nasihat yang antum peroleh hari ini tidak lain adalah rukun islam yang lima. Syahadat. Shalat. Zakat. Puasa. Tentu saja antum bisa menyimpulkan sendiri apa nasihat yang kelima itu. Sekarang pertanyaannya adalah, sudah pernah kah antum menyempatkan diri berziarah ke makam Rasulullah? Menunaikan ibadah haji? Bukankah antum mampu menempuh perjalanan itu dari segi biaya?”

Aku menelan ludah. Aku lebih banyak ke tempat-tempat lain untuk perjalanan dinas maupun liburan. Betapa aku tidak pernah merencanakan perjalanan rukun islam yang ke lima itu.

“Kalau menurut ana, sebenarnya masalah antum itu sederhana. Jiwa antum merasa kosong karena antum terlalu sibuk dengan urusan dunia. Sedangkan rohani pun perlu dikasih makan. Perlu diperhatikan. Ana berharap perjalanan antum hari ini dari masjid ke masjid sedikit banyak ada asupan untuk rohani antum. Untuk jiwa antum. Dan mudah-mudahan itu bisa membuat antum jadi lebih tenang.”

Aku masih saja terpaku tidak terlalu memperhatikan penjelasan Ustadz Rizal. Ada sesuatu yang lebih mengusik hatiku. Betapa aku memang merasa sangat jauh dariNya. Merasa miskin keberanian untuk menghadapNya kelak. 

Qum! Bangunlah! Bangunlah!

Perbaharui syahadatmu…..! perbaharui syahadatmu…..! 

Suara itu bersahut-sahutan di pikiranku. Seketika aku ingin bersujud. Menangis sejadi-jadinya.

 

fin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s