Cinta itu tentang Waktu

Barangkali, ini bukan soal waktu yang pulang atau kembali menuju hatimu. Ini soal waktu yang sering mempertanyakan siap atau tidak diriku menjadikanmu separuh dari perjalanan hidupku. Kau tahu, takdir selalu berbicara indah di sepanjang perjalanan kita tentang hari ini. Membaca lebih banyak nama pada urutan-urutan sepi yang tiba-tiba saja kita alirkan pada serangkaian rasa di ujung perjalanan kita hari ini. Atau kita akan kembali pulang, menikmati lebih banyak kabar tentang cinta yang katamu masih soal waktu. Namun, entah kapan aku bisa merealisasikan semuanya di ujung perjalanan dan bibirmu yang kian getas menyulam jari jemari rindu untuk dikabarkan pada maksud paling maksud di ujung jejak kita nantinya.

Barangkali, ini bukan soal kita melepas atau merelakan. Ini hanya soal waktu yang selalu menunggu kita untuk kembali tepat di beranda halaman rumah kita sendiri. Ini soal rindu yang katamu tertahan karena sebaris kata bernama ijab dan qabul belum jua terucap. Namun, ini bukan soal kapan atau pada. Ini hanya soal kapan aku datang menuju rumahmu yang ramai itu untuk benar-benar menjadikan dirimu separuh dari perjalanan takdirku. Menjadi makmum dalam setiap perjalanan shalatku, menjadi pemetik air mataku dan pengusap peluh keringatku. Ini hanya soal waktu yang akan kita realisasikan bersama dalam serangkaian cinta di ujung perjalanan kita nantinya.

Barangkali, ini bukan soal bercanda atau serius. Ini hanya soal waktu yang akan menjawab segalanya pada baris-baris paling abadi. Saling menghayati ketika tanda-tanda kebesaran-Nya telah nampak di sepanjang rasa yang bekerja begitu indah, lalu kita akan mencoba merealisasikannya bersama dalam sebuah ikatan. Ini bukan soal kapan aku menyatakan rasa kepadamu, ini bukan soal sampai kapan engkau menungguku dalam doa-doa indah yang mengantarmu untuk membawaku pulang menuju tanah kelahiranmu dan membawamu pulang menuju tanah kelahiranku dengan mengubah statusmu menjadi separuh dari tulang rusukku.

Barangkali, ini bukan soal ikhlas atau tak rela. Ini hanya soal waktu yang selalu mengajarkan kita tentang arti dari sebuah kesabaran. Yang sering kita salah tafsirkan dengan cara kita sendiri. Kita mungkin akan pulang dalam diam. Membaca lebih banyak isyarat pada setiap kelembutan yang mengajakmu untuk saling menetapkan bukan memantapkan. Karena, seperti katamu mantap itu hanya soal waktu dan kapan kau bisa menjalaninya. Dan disini, aku hanya bisa pulang mengeja sebagian senja di ujung perjalanan takdir kita sendiri. Menjelma menjadi riwayat-riwayat paling asing tentang rasa yang menjelma jauh lebih indah untuk kita uraikan pada masing-masing takdir kita sendiri sebagai seorang anak manusia yang katanya saling cinta.

Barangkali, ini bukan soal janjiku untuk pulang menuju rumahmu. Membaca lebih banyak ingin dan pintamu ketika hari bahagia itu mungkin akan dijelang. Membicarakan serangkaian prosesi adat yang turun temurun kau patuhi dan harus diselenggarakan bilamana ikatan bernama cinta itu hendak dipersatukan dalam satu rangkaian ibadah menuju ridha dan rela-Nya. Ini hanya soal restu yang kelak akan tercurah dari sepasang suami istri yang telah berpuluh-puluh tahun mengabadikan perjalanan rumah tangga mereka dalam bangunan sakinah, mawaddah dan warrahmah. Ini tentang harap dan asa mereka yang telah memberikan kita semacam surat sakti untuk mengarungi bahtera yang dulu pernah mereka arungi bersama.

Barangkali, ini bukan soal mahar yang nanti akan aku bayarkan bilamana ijab dan qabul telah kuucapkan di depan lelaki paling hebat dan perkasa di sepanjang perjalanan hidupmu. Ini hanya soal waktu yang selalu berbicara tentang bisa atau tidak pada diriku sebagai imam dalam perjalanan hidupmu nanti. Ini hanya soal kita yang akan pulang mengeja segala rindu pada masing-masing ingatan yang mulai kita lupakan bersama. Namun, ini soal doa yang sering kau rapalkan bilamana engkau bosan dengan menunggu yang kau kabarkan di serangkaian doamu. Namun, ini soal aku yang baru kumengerti bahwa disini aku tengah ditunggu olehmu untuk melaksanakan sejumlah risalah abadi sebagai imam kehidupanmu kelak.

Barangkali, ini bukan soal kapan dan dimana aku bisa melunasi janjiku kepadamu. Janji untuk mengucapkan ikrar paling suci yang menurut risalah Baginda Nabi, bila aku mengujarkan itu dengan lantang di hadapan ayah ibumu, maka doa-doa para malaikat akan tercurah indah kepada kita. Mereka akan mendoakan kita sebagaimana doa para tetamu yang datang ke rumah kita sebagai undangan yang kelak merapal doa barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a baina kuma fii khair.

Barangkali, ini memang tentang kita. Tentang rasa yang bosan menunggu untuk menyempurnakan setengah Dien yang telah digariskannya atas perjalanan kita. Ini hanya soal bagaimana membangun sebuah bangunan kokoh bernama rumah tangga yang dilandaskan syariat dan ketetapan-Nya. Ini adalah soal mewujudkan sakinah, mawaddah, dan warrahmah di sepanjang perjalanan kita untuk menunaikan ibadah kepada-Nya. Ini mungkin hanya soal menunggu yang seringkali kita lupakan bahwa disini pun ada yang kita tunggu untuk segera diwujudkan bersama.

Kita mungkin akan pulang pada ujaran tentang menunggu, ditunggu dan waktu yang terus berjalan ke depan bukan ke belakang.

6 thoughts on “Cinta itu tentang Waktu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s