Luka

Luka berjalan pergi. Dari muka rumah bercat putih dan megah yang tak kunjung muncul penghuninya untuk menemuinya. Pembantu di rumah itu tadi mengatakan nyonya majikannya sedang di kamar entah melakukan apa. Tetapi setengah jam berlalu untuk Luka duduk menanti, nyonya rumah itu tak kunjung tampak. Nyonya rumah, yang temannya sendiri.

Luka tahu bahwa mungkin saja temannya itu sedang sibuk. Tetapi kepekaan dirinya saat ini dan aturan yang dia miliki tentang cara menghormati tamu yang datang telah membuatnya merasa ditolak. Semenjak kecil, Luka diajarkan oleh ibunya untuk meninggalkan semua yang sedang dikerjakannya ketika tamu menanti di muka rumah. Tamu seperti raja yang harus dihormati kehadirannya, kalaupun tidak untuk disembah. Jika tamu dibiarkan menanti terlalu lama, akan menjadi pertanda tak tertulis bagi tamu itu bahwa sang pemilik rumah tidak menyukai kehadirannya. Maka begitulah Luka pergi dari sana.

Ia berjalan terus berteman keringat dan ramainya benak tentang segala sesuatu. Jarak rumah tadi dengan jalan raya memang sungguh jauh. Tetapi Luka lebih senang berjalan pelan dan mengacuhkan para tukang ojek yang menawarkan jasanya. Dengan matahari dan sedikit angin, dia cuma berharap apa yang dilakukannya mampu membuat galau hatinya pergi. Berlabuh dalam lautan kalimat dan lukisan yang hanya dilihat mata batinnya sendiri. Hitungan lembaran yang tak seberapa di kantongnya juga menjadi alasan penguat meski masih mencukupi untuk sekedar mengganti bensin motor para pengojek tadi.

Di ujung jalan, Luka berhenti dan menghembuskan nafas panjang. Matanya lurus, tapi sebaiknya jangan ada yang bertanya tentang apa yang dilihatnya saat itu. Tak ada apa-apa. Kosong. Luka justru sedang memandang ke dalam hati dan benaknya sendiri. Bertanya sendiri, tentang tujuan kakinya kemudian. Juga tentang keinginan hatinya.

Pandangan orang dari sudut pandangnya sendirilah yang membuatnya tak mau berlama-lama mematung disana. Yah, Luka memang manusia yang merasa harus membuat nyaman orang lain meski belum tentu tuntutan itu selalu ditujukan kepadanya. Maka, pengojek yang kesekianlah yang mendapat rejeki lembaran dari sakunya. Ke sebuah tempat.

Bersandar di sebuah pohon dan terlindung dari mata-mata yang ingin tahu tentang maksud keberadaannya disana. Diambilnya telepon genggamnya dan memandangi layar yang tak menunjukkan satu pun panggilan untuknya. Bahkan dari sang teman pemilik rumah yang baru saja didatangi lalu ditinggalkannya tanpa sempat ada pertukaran mata apalagi kata. ” Dia bahkan tidak merasa kehilangan tamu”, bisiknya sendiri entah pada makhluk mana di sekitarnya.

Ada sesuatu rasa tak nyaman mencekat tenggorokannya dan membuat udara tak bebas mengalir disana. Entah bagaimana paru-parunya bertahan dalam keadaan itu. Matanya perih karena menolak kodratnya yang ingin meluapkan hempasan gelombang hibah dari dada yang terlalu sesak. Buat Luka, kesulitannya dengan lembaran menipis dan berjuta halangan untuk mendapatkan pekerjaan bukanlah sesuatu yang ingin dirutuki siang malam. Semuanya hanya ujian seperti juga tiap menit dalam kehidupan manusia lain. Bahkan tertawa pun juga sebuah ujian untuk mengetahui kemampuan manusia menghentikan tawa itu sendiri. Hanya soal waktu untuk sampai pada akhir pergulatan mengatasi persoalan. Tetapi wajah teman yang berpaling darinya, adalah sesuatu yang berbeda dan membuat semua ujian yang dihadapinya seperti ditulis dalam tinta tebal.

Tak ada maksud Luka mengemis dan menadahkan tangan pada sang pemilik rumah itu. Luka hanya mencatat orang itu sebagai teman karibnya, dimana dia kira bisa menitipkan beberapa goresan catatan kehidupannya agar tak menumpuk dan membuatnya menjadi bebal. Atau gila. Ya, Luka hanya ingin bercerita. Tetapi pintu itu tertutup sejak huruf pertama yang sempat Luka ucapkan beberapa minggu lalu. Dia paham, harta karibnya mungkin terlalu berharga baginya. Sedangkan Luka juga tak mengingininya. Dia hanya membutuhkan telinga yang mampu mendengar.

Luka menghembuskan nafasnya, lebih berat dari biasa. Diam dan menunduk.
“Manusia, adalah makhluk paling kreatif yang pernah ada. Dia bahkan mampu menciptakan prasangka yang sebetulnya tak ada”, diulang-ulangnya kalimat itu dalam hatinya.
Matahari mulai memerah tubuhnya ketika Luka berdiri dan tersenyum dalam airmata yang tak terbendung. Luka tak punya jawaban untuk banyak pertanyaan. Tetapi dia punya gaung dalam benaknya yang terus bersuara,” …aku merasa berat dengan persoalanku ketika tak ada hati dan telinga untukku…..maka inilah ujianku yang sebenarnya…”

Dan Luka berjalan lagi. Pulang. Dia tidak lagi mencari arah dimana ada telinga tersedia baginya. Luka hanyalah Luka yang harus menjalani dunia dengan apa adanya…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s