Layang-layang

“Sadarilah.,

layang-layang bisa terbang tinggi karena melawan angin,

bukan terbang mengikuti angin.”

29 April 2014

Sore ini, kala awan yang berarak menari-nari menutupi matahari, secara tidak sengaja saya terseret jauh oleh angin masa lalu. Pikiran saya tiba-tiba mengembara mencari secuil kenangan yang sempat memudar di sudut hati. Tentang sebuah kesenangan, suka cita, dan rasa kanak-kanak yang membuat saya tersenyum tipis.

Ya, sore ini, entah mengapa saya tersihir oleh pesona layang-layang yang dimainkan oleh jemari mungil anak-anak di sekitar rumah. Sudah bertahun-tahun lamanya, saya tidak pernah menjamah layang-layang yang sempat membuat kulit saya hitam legam bak arang. Tetapi kini, rasa ingin memainkannya kembali tiba-tiba menerobos masuk ke alam raga saya. Lekuk tari sang layang-layang di cakrawala yang dimainkan lincah oleh anak-anak tersebut telah membangunkan sisi “kekanak-kanakan” saya yang telah lama ‘tertidur’.

30 April 2014

Di senja yang sama, saya mulai menyulam keinginan saya kemarin menjadi kenyataan. Dengan berbekal layang-layang yang saya temukan di atap rumah, serta benang yang dibeli secara sengaja sebelumnya, membuat saya bersemangat untuk kembali merajut sebuah kisah tentang kebiasaan kecil saya dahulu.

Perlahan tapi pasti, angin telah menerbangkan layang-layang yang saya punyai, jauh tinggi meretas langit senja. Tariannya di atas sana, membuat saya teringat tentang masa-masa dahulu ketika SD. Betapa kala matahari siang begitu menyengat, saya malah asyik menarik-narik benang yang membuat layang-layang saya kian melambung. Ah., masa yang menyenangkan!

………

Ehm., layang-layang

Sejenak, terlintas di benak saya bahwa kehidupan ini tidak jauh beda dengan apa yang dialami oleh layang-layang. Ada kalanya layang-layang yang kita miliki putus karena ulah layang-layang yang lain, itulah kegagalan. Di sisi yang lain, ada saatnya kita berhasil mengalahkan layang-layang yang lain di ‘medan pertempuran’, itulah yang kita namakan kemenangan.

Ya, manusia laksana layang-layang dan angin beserta kawanannya adalah “ujian” bagi si ‘layang-layang’. Terlebih yang menarik adalah, bahwa layang-layang bisa terbang tinggi karena melawan angin, bukan terbang mengikuti angin. Begitu pun bagi manusia, bukan?

Ujian yang datang silih berganti bagi manusia dimaksudkan agar manusia tersebut mampu mencapai derajat yang lebih tinggi. Ujian kekayaan, kemiskinan, tahta atau jabatan, rupa, serta ujian apapun itu tercipta agar kita mampu menjadi “manusia” yang dewasa secara raga maupun jiwa. Bahkan jika ujian tersebut dalam bentuk cinta sekalipun,

………….

Percakapan Ibu dan Anak:

“Jika cinta membuat luka, bolehkah aku tidak mengenalnya, Bu?”

“Tidak Nak, sebab itu jalan manusia.”

“Bolehkah aku menghindari sakitnya?”

“Tidak Nak. Tantanglah rasa sakitnya seperti layang-layang menantang angin. Dengan menantang angin layang-layang bisa terbang meninggi, lebih tinggi dari yang lain.”

………….

Indah bukan? Ya, begitulah kasih sayang Allah bagi manusia. Jika Dia cinta, maka Dia akan menguji kesungguhan hamba-Nya. Saya jadi teringat dengan pesan seorang teman,

“Allah menguji keikhlasan kita dalam kesendirian. Allah memberikan kedewasaan saat masalah berdatangan. Allah melatih ketegaran kita dalam setiap cobaan. Semakin sulit masalah, maka semakin terbuka pintu kemudahan. Sebagaimana semakin gelap malam, cahaya pagi semakin memancarkan sinarnya.”

Begitulah, bila kita ingin sukses, maka kita harus siap dan berani menghadapi tantangan, ujian, dan cobaan yang menerpa. Segala ujian, cobaan, hambatan, serta masalah yang kita hadapi saat ini hanya sebatas air dalam gelas, maka ubahlah pikiran itu seluas samudera. Dan percayalah, Allah tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya.

Berusaha, berdoa, dan bersabarlah dalam menghadapi setiap rintangan yang ada, niscaya kebahagiaan itu sedikit demi sedikit akan tersulam indah dalam bingkai kehidupan. Memang, sabar dalam menghadapi cobaan itu sulit, tetapi hilangnya kesabaran itu lebih sulit lagi akibatnya. Biarkanlah jiwa-jiwa sabar menjadi penyejuk di tengah segala duka. Hingga kelak akan terjawab: “Mengapa perjuangan itu pahit?”,”Karena surga itu manis”.🙂

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?”Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.”

(Al-Baqarah: 214)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s