Embun

Bagai titik-titik embun setelah fajar. Peluhku membasahi raga, menggenangi seluruh sukma
Siapa yang dapat menyangka
Embun setelah fajar, yang penuh perjuangan melewati gelapnya malam harus menghilang dipagi hari saat sang surya memanasi bumi Sang Penguasa Alam

Dan,

Siapa yang dapat mengira, peluh yang lahir dari perjuangan akan kepedulian, kesabaran, kasih sayang, dan cinta. Harus menghilang dibalut lembaran-lembaran tipis.

Biarlah,

Segala titik-titik itu memudar bersama memudarnya bias sang surya dipagi yang penuh makna agar tiada dusta dalam kata untuk kedua kalinya.

Biarlah peluh itu menghilang,
Menghilang bersama hilangnya lembaran-Lembaran tipis. Agar kembali peluh yang penuh kasih
Untuk kedua kalinya,

Karena dari keduanya itu
Tak ada kuasa padaku untuk semuanya.

Bagai titik-titik embun setelah fajar, hadir dengan damai dan menghilang perlahan, tanpa jejak
Penuh akan perjuangan, namun hanya menjadi sebuah kata dalam bicara, Lebih dari itu, hanya sebatas perjalanan akan suatu makna.

Bagai titik-titik embun setelah fajar, peluhku membasahi raga, menggenangi sukma. Mencari makna dalam kata, untuk kata dalam asa, mengurai asa dalam bicara, mendapat bicara dalam makna.

View on Path

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s