Layang-layang, Pelangi, dan Bidadari

Sayup-sayup semarak suara kotek ayam di belakang rumah menyambut terbukanya kelopak mata Astra. Serta-merta matahari kuning menyapa bola matanya melalui celah jendela kaca di dekat ranjangnya. Astra langsung beranjak turun dari ranjang kayunya. Pikirannya sedang disuguhi oleh banyak layang-layang yang mengapung di angkasa. Dibiarkannya selimut tergeletak di kasur. Selembar sarung bantal teronggok di pojok, terlepas dari bantalnya. Sudut seprei keluar dari tindihan kasur.

“Hei, Astra, mau ke mana?” tegur neneknya yang sedang menggoreng tahu ketika Astra berjalan tergesa-gesa menuju kamar mandi yang berdekatan dengan dapur. “Masih pagi. Jangan main dulu, biarpun libur panjang. Nanti nenek lapor kakek lho!”

Aaaah, gerutu batin Astra. Ia memperlambat langkahnya lantaran kecewa. Keinginannya bergabung bersama kawan-kawan main di kampungnya untuk bermain layang-layang pun pupus selagi masa liburan panjang baru mulai hari ini dikecapnya. Padahal kemarin atau hari pertama liburan seusai pembagian raport, kawan-kawannya sudah bebas bermain. Ia kecewa, kenapa kakek-neneknya tidak seperti orangtua kawan-kawannya yang membebaskan kawan-kawannya bermain.

“Tempat tidur sudah kamu beresi, belum? Masak tiap pagi harus nenek peringatkan? Kamu sudah naik kelas V, bukan bayi lagi. Nanti kalo kakek tiba-tiba memeriksa kamarmu dan tempat tidur masih semerawut, baru tahu rasa kena jewer lagi! Juga meja belajarmu, harus dirapikan. Jangan berantakan begitu. Buku pelajaran kelasmu simpan di rak. Jangan sampai berceceran tidak karuan. Kalo nanti kakekmu pulang, melihat barang-barang itu belum kamu bereskan, awas, bisa-bisa kamu…”

“Iya, Nek, sebentar. Astra mau pipis dulu,” sahutnya cepat. Ia kuatir kakeknya mendengar dan kemudian benar-benar menjewernya karena mengetahui Astra akan segera bermain dengan kawan-kawannya. Masih sangat membekas hukuman cetot kakeknya di pahanya beberapa hari silam sewaktu kakeknya mengetahui Astra baru pulang dari berenang di sungai bersama kawan-kawannya. Ia sering tidak percaya kalau kakek atau neneknya mengatakan bahwa di sungai banyak ular, ada buaya, ada lumpur yang mematikan, ada banjir bandang, dan lain-lain. Setahunya, berenang di sungai bersama kawan-kawan sungguh mengasyikkan. Buaya, ular besar, lumpur maut, banjir bandang dan lain-itu tak pernah dijumpainya. Tapi keasyikan itu harus dibayar dengan hukuman cetot di pahanya. Untung saja tidak dibarengi dengan tempelengan. Biasanya kakeknya lebih dulu melayangkan telapak tangan ke kepala Astra (Astra merasakan seperti terkena benturan keras dari papan setebal tiga sentimeter).

“Selesai membereskan tempat tidur, kamu jangan main dulu. Singkong untuk makan ayam belum diparut. Cucian-cucian yang belum kering di ember, kamu jemur lagi. Oh iya, lantai belum disapu. nenek mau kepasar dulu.”

“Cihui! Mudah-mudahan habis beres-beres ranjang ibu belum pulang.” pikir Astra.

***

layanglayang

Langit lapang, cakrawala cemerlang. Tak ternoda secuil pun oleh bongkahan mendung. Matahari belum meninggi. Burung tiyung bersiul di antara dedaunan pohon rambai. Sebagian anak-anak laki-laki di kampungnya Astra berkumpul di halaman belakang rumah Nek Jarmi yang dipayungi oleh beberapa pohon cempedak, melinjo, jambu bol, jengkol dan petai. Astra pun berada di sana, bergabung dengan kegiatan kawan-kawannya dalam rangka musim layang-layang. Ia sedang menumbuk pecahan bola lampu di dalam kaleng susu atas suruhan seorang kawannya yang tengah mempersiapkan tungku dari batu bata. Ancaman neneknya tadi pagi sudah hilang dari ingatannya.

Cuaca cerah hari ini tampaknya akan memberi kesempatan pada mereka untuk bisa bermain layang-layang sepuas hati. Sekelompok anak-anak sedang meraut bambu-bambu agak kering yang baru saja mereka ambil di kebun Uwak Dul. Beberapa potong yang sudah jadi dengan ukuran panjang-tipis umumnya layang-layang, mereka timbang. Setelah seimbang, mereka ikat. Pada ujung-ujung kerangka bambu mereka satukan dengan seutas benang jahit. Kemudian mereka tempelkan pada selembar kertas minyak.

Sementara sekelompok anak lainnya, termasuk Astra, sedang membuat membuat benang gelasan Beberapa anak memasak ramuan di atas tungku batu bata. Ramuan yang terdiri dari tepung kanji, serbuk beling bola lampu, dan air secukupnya itu tampak mendidih. Satu anak terus mengaduk ramuan dalam kaleng susu itu. Satunya lagi bersiap memasukkan segelondong benang. Di dekat mereka, dua anak sedang memasang campuran benang dan ramuan itu pada batang-batang sekitarnya. Keduanya berjalan di batang-batang yang telah mereka pilih untuk merentangkan benang-benang yang telah bercampur ramuan agar segera kering ditiup angin dan disinari matahari. Di bawah beberapa pohon lainnya tiga gelondong benang sudah kering, siap digulung dan digunakan.

“Eh, lihat sana!” seru Astra seraya menunjuk ke arah sudut langit.

Serentak mereka menoleh ke arah telunjuk Astra. Beberapa layang-layang sudah berkibar di langit. Tidak seperti hari pertama kemarin, yang pada pagi sampai tengah hari mendung menggulung langit dan hujan menghalangi-halangi penerbangan layang-layang, hingga langit dan angin menyisakan ruang selama empat jam sebelum bulatan matahari memerah.

“Anak-anak kampung Gelap sudah nantang!”

“Wah, layang-layang sialan itu mengolokku! Kemarin sore dua layang-layangku ditebasnya. Sialan! Awas ya!”

“Sabar aja, Wan. Orang sabar disayang Tuhan. Sebentar lagi gantian dia merana.”

“Rasakan kelak benang gelas kita!”

“Anak-anak kampung sebelah pasti kalah saing?”

“O ho, tentu dong, Astra. Kita membuat gelasan sendiri. Benang gelas bikinan pabrik seperti punya kita dan mereka kemarin, mana kuat. Aku tadi sudah nyoba. Benang gelasku kemarin kugesek dengan benang gelas bikinan kita yang sudah kering di sana itu. Belum berapa gesekan, benang gelas pabrik itu putus.”

“Iya, Astra. Benang gelas bikinan sendiri itu lebih tajam daripada yang dijual di toko. Kelak kamu lihat sendiri buktinya.”

***

Selama beberapa hari ini kebun uwak Ahi yang dipadati alang-alang dan sedikit pohon jeruk yang tak sudi lagi berbuah menjadi arena adu layang-layang mereka – anak-anak kampungnya Astra dan anak-anak kampung tetangga ada beberapa kelompok yang berlaga, dan ada pula yang bersiap-siap mengejar layang-layang yang putus, terutama layang-layang yang dibeli di toko. Jika pagi tidak dihukum hujan, mereka akan berlaga hingga lepas tengah hari. Astra pun sering hadir di sana, kendati hampir setiap pulang dari sana ia disambut tempelengan atau jeweran kakeknya.

Namun Astra tidak ikut berlaga, walaupun sejak awal musim ia telah membeli satu buah layang-layang di toko Akin. Layang-layang itu baginya berharga, sebab ia tidak mudah meminta duit kepada kakek-neneknya untuk sebuah barang mainan yang akan menggiringnya keluar rumah. Apalagi kalau mainan itu tidak kembali ke rumah bersamanya. Ia akan dimarahi habis-habisan, dianggap membuang-buang uang.

Dan, jika ada layang-layang kalah aduan, terlebih layang-layang bagus dari toko seharga ratusan rupiah, spontan anak-anak segera berlari sekuat tenaga sambil membawa patahan pohon panjang dengan sisa-sisa cabang di ujungnya, dan berebutan seolah berebut harta jatuh dari langit. Mereka menerobos semak-semak tanpa alas kaki. Beling, paku bekas, besi karat, tunggul ataupun duri sudah tak lagi dihiraukan.

Tetapi Astra tidak ikut mengejar layang-layang putus itu. Ia hanya menyaksikan. Sebab, pertama, ia selalu kalah berlari. Sebab berikutnya, resiko terkena beling, jatuh, kena tunggul atau terpelecok benda lainnya. Ia takut mengalami kecelakaan kecil lantas disusul hukuman perih dari kakeknya. Sebab lainnya, ia pernah dicurangi oleh seorang kawannya ketika ia hampir berhasil meraih sebuah layang-layang putus yang benangnya tersangkut pada kayu Astra. Mereka sempat adu mulut sebentar sebelum kemudian kakak kawannya datang untuk membantu mengeroyok Astra. Disamping itu ia takut berkelahi. Karena, kalau sampai diketahui kakeknya, ia pasti mendapat hukuman. Dan, jika menang pun, perkelahian akan berbuntut panjang. Bukan saja beberapa kawannya suka main keroyok, melainkan pula perkelahian akan berlanjut pada hari berikutnya. Akhirnya Astra membiarkan layang-layang itu direbut kawannya.

***

pelangi bidadari

Lepas tengah hari setelah hujan reda. Angin tetap mengalir. Meskipun sekarang masih pertengahan musim kemarau, di daerah tinggal Astra. hujan selalu turun tiap minggu. Minimal seminggu dua kali. Cuaca selalu tidak jelas. Namun saat hujan reda, anak-anak kampung tidak terlihat di kebun uwak Ahi. Mungkin mereka tengah bersiap-siap. Atau barangkali sedang asyik bermain kapal-kapalan di selokan depan rumah seorang kawannya yang hanya mengalir sesudah hujan.

Astra sendirian di kebun itu. Ia ingin menerbangkan layang-layangnya. Tak lupa layang-layangnya diberinya ekor pada bagian sisi-sisi dan bawahnya, yang berarti bukan untuk aduan. Ia mulai mengulur benang untuk membiarkan layang-layangnya terbawa arus angin, lalu menarik-narik benangnya agar tekanan arus angin kian menaikkan layang-layangnya. Layang-layangnya menanjak ke angkasa yang berlatar sebuah pelangi.

Semula Astra hanya menikmati layang-layangnya sendirian merenangi angkasa. Ekor warna-warni melambai-lambai dan meliuk-liuk berlatar pelangi. Ia senang sekali melihat perpaduan warna itu. Namun sesuatu mulai mengusik pandangannya. Pelangi di balik layang-layangnya tampak lebih indah daripada yang pernah dilihatnya selama ini. Warna-warnanya tegas. Batas tepi lengkungnya jelas. Wujudnya tampak sangat lembut.

Lambat-laun obyek penglihatan Astra bergeser. Keindahan tarian layang-layangnya ternyata kalah indah dibanding pelangi yang melatarbelakangi layang-layangnya. Dekorasi alam itu merampas konsentrasinya. Sungguh menakjubkan. Astra terkesima. Dibiarkannya layang-layangnya menari-nari di angkasa tanpa tarik-ulur jemarinya.

Menit-menit berlalu. Beberapa burung liar sesekali melintasi angkasa. Astra terus terpana. Sesuatu pun terjadi. Sesuatu muncul dari dekorasi langit itu. Sesuatu itu bergerak perlahan. Astra tak berkedip. Sesuatu itu kian mewujud. Perlahan tapi pasti, hingga mata Astra menangkap sosok mirip perempuan. Rambutnya lurus sepanjang atas pinggang. Gaunnya berwarna putih, halus dan lentur seakan dari bahan sutera pilihan. Sesekali angin mengibaskan rambut dan gaunnya. Sosok itu semakin jelas wujudnya, dan tampak tengah menyusuri pelangi seolah berjalan di sebuah jembatan. Barangkali memang jembatan.

Mungkin itu bidadari seperti kata orang-orang, gumamnya.

Astaga! Astra tersentak ketika sosok itu berhenti, lalu melambai ke arahnya seakan sedang menyapanya. Hatinya sangat bersukacita mendapat sapaan semacam itu. Di luar kesadarannya ia membalas lambaian itu. Rupa sosok itu pun sudah nyata. Perempuan seusia kakak sulung kawannya dengan tatapan bersahabat dan berhiaskan senyuman ramah. Dirasakannya tatapan itu istimewa. Tidak seperti neneknya yang suka mengomel, kakeknya yang laksana malaikat maut, kawan-kawan sekolahnya yang suka mengejeknya, dan kawan-kawan kampungnya yang suka bertindak kasar padanya tapi berlindung di balik badan tegap kakak mereka.

Sosok yang disebutnya “bidadari” itu melambai lagi, dibarengi tatapan mata yang seakan mengajaknya bersalaman.

“Hei, bolehkah aku ke sana?”

Bidadari itu mengangguk tanpa menyudahi senyuman.

***

Tiga hari ini, entah kenapa, hujan turun berturut-turut dari pagi hingga lepas tengah hari. Astra merasa lebih senang begitu, karena ia bisa enak tidur siang, lalu bertemu lagi dengan sahabat barunya dan tidak terganggu oleh kawan-kawannya yang lebih suka bermain layang-layang di saat cuaca benar-benar cerah semenjak pagi hari.

Selepas siang layar langit kembali terang. Beberapa bongkahan awan kelabu tertinggal. Nenek masih menikmati sedapnya tidur siang. Kakeknya belum pulang dari sawah. Astra terjaga dari tidur siangnya. Dalam pikirannya kini muncul pelangi dan sosok bidadari. Ia ingin ke kebun uwak Ahi dan berjumpa lagi dengan bidadari itu. Ingatannya pada pelangi dan bidadari itu bagaikan sedang memanggilnya. Juga kerinduan telah tumbuh. Rindu pada persahabatan, keramahan, dan kelembutan.

Astra mengambil layang-layang yang disimpannya di bawah kasur. Kemudian ia keluar kamar dan tetap berjingkat-jingkat melintasi kamar-kamar. Ia kuatir kepergok akan keluar rumah; bisa gagal rencananya. Keinginannya sudah membulat.

Plak!

Tiba-tiba suara daun pintu menampar dinding ruang keluar karena ditendang angin. Jantung Astra terasa copot. Waduh, jangan-jangan nenek bangun, pikirnya. Tapi keinginannya membengkak. Jika tiba-tiba dihadang, niscaya dadanya meledak dan mengeluarkan segala isi batinnya yang penuh kecewa, duka, dan luka.

Setelah ia berhasil tiba di teras depan, secepatnya ia berlari ke samping rumah yang hanya berpagar tanaman daun mangkok-mangkok. Ia berlari kencang, melompati pagar tanaman, masuk ke tanah tetangga, dan seterusnya hingga ke kebun uwak Ahi. Di kebun milik juragan tahu itu Astra berdiri sembari mendongak. Angin cukup kencang dan arahnya tetap. Seekor burung elang menggerayangi angkasa. Pelangi sudah terbentang. Bidadari itu sedang menunggunya. Astra tidak sabar lagi. Segera dinaikkannya layang-layangnya. Ia berlari-lari melawan arah angin untuk mengangkasakan layang-layangnya. Pergerakan angin memudahkan usahanya. Layang-layangnya semakin naik. Terus, terus dan semakin tinggi.

Pada ketinggian layang-layang sepanjang benang seutuhnya hingga tinggal simpul ikatan pada kaleng, Oji menoleh ke kanan-kiri. Dicarinya pepohonan kecil di dekatnya untuk menggantinya memegang kaleng benang layang-layang. Sebatang kedebik telah menanti. Astra berjalan cepat ke arahnya. Rantingnya langsung dipatahkannya, kemudian kaleng benang layang-layang diselipkannya di situ.

Layang-layang terus berkibar di langit akibat tiupan angin yang agak kencang. Benang menjulur tegang. Kini saatnya, gumam Astra. Ia mengambil ancang-ancang. Lantas, ia mulai naik ke benang. Perlahan tapi pasti dan penuh keyakinan diri ia meniti benang menuju ke langit bak seorang akrobatik. Bidadari itu tersenyum seakan sedang memberi semangat padanya. Hati Astra kian mantap. Ia ingin lekas sampai di jembatan warna-warni itu, dan tinggal bersama bidadari di langit sana.

fin

Sebuah Cerpen : 5 Nasehat

Qum, bangunlah! bangunlah! 

Aku terbangun dengan kepala pusing. Barusan seperti ada yang meneriaki namaku, suaranya lembut tapi tegas. Ternyata hanya mimpi.

Aku melirik jam beker, sudah hampir adzan shubuh. Aku harus bergegas ke masjid. Ini perjalananku yang pertama. Aku harus menepati janji kepada Ustadz Rizal yang memberi nasihat kepadaku kemarin. Terutama janji kepada diriku sendiri.  Ya, meski aku tidak terlalu paham akan maksudnya, tapi aku sudah bulat menyanggupinya tanpa banyak tanya. Baiklah setelah shalat shubuh nanti, aku akan jelaskan lebih lanjut. Tentang alasanku yang tidak seperti biasanya sudah bangun di jam sepagi ini. Dan kenapa harus bergegas ke masjid.

Setelah shalat shubuh, aku mengedarkan pandangan ke sekeliling masjid. Masih ada beberapa jamaah yang beritikaf. Mataku menatap seorang pak tua yang sedang menggilirkan biji tasbihnya di dekat mimbar. Aku harus memastikan dulu apa pak tua itu yang dimaksud oleh Ustadz Rizal kemarin, kalau dari ciri-cirinya memang sudah tepat. Rambutnya sudah hampir putih semua, memakai peci berwarna putih. Berpakaian serba putih. Dengan beberapa helai janggut putih di dagunya. Barangkali memang beliau pak tua yang dimaksud. Seseorang yang akan memberikan nasihat pertamanya kepadaku.

Dengan sikap sesopan mungkin aku menghampiri pak tua. Ragu-ragu menyapanya, takut mengganggu dzikirnya.

“Assalamu’alaikum Pak Haji. Maaf mengganggu dzikirnya.”

Pak tua itu hanya menoleh sebentar sambil mengangguk pelan menjawab salamku. Kemudian kembali fokus melantunkan dzikirnya.

“Tolong berikan saya satu nasihat Pak Haji.” Kataku mengutarakan maksudku.

Kembali pak tua menoleh sebentar tanpa bicara apa-apa.

Aku salah tingkah, jelas sekali kalau kehadiranku sudah mengganggunya. Memperbaiki posisi duduk. Tetap menunggu sepotong nasihat itu. Bagaimana pun aku harus mendapatkannya agar bisa meneruskan perjalananku yang kedua. Itu pesan Ustadz Rizal kemarin.

“Perbaharui Syahadatmu!” Ujar pak tua sambil berdiri. Suaranya lembut tapi tegas. Lalu melangkah ke luar masjid.

Kedua alisku menyatu. Perbaharui syahadat? Bukankah aku terlahir sebagai seorang muslim? Bukankah ketika shalat shubuh tadi aku juga membaca syahadat ketika duduk di antara dua sujud? Aku menyusul pak tua itu, langkahnya cepat sekali untuk seorang yang usianya sudah senja.

“Maaf Pak Haji, saya belum terlalu paham.”

“Perbaharui Syahadatmu anak muda. Perbaharui Syahadatmu sebelum azal memenggal lehermu.”

Aku terpaku, merinding mendengarnya. Suara pak tua itu semakin tegas penuh penekanan.

***

Sepanjang perjalanan pulang dari masjid tadi, aku terus-menerus melapadzkan dua kalimah syahadat. Sesekali diselingi oleh artinya. Aku masih tidak paham maksud nasihat pak tua tadi. Tiba-tiba saja aku jadi lebih banyak memikirkan kematian. Bagaimana jika perjalanan ini belum selesai azal lebih dulu datang? Aku merinding.

Hari ini aku sengaja tidak pergi ke kantor, dan meminta sekertarisku untuk mengurus semuanya yang diperlukan di kantor. Baiklah sambil menuju ke masjid berikutnya, perjalananku yang kedua. Dan letak masjidnya sangat jauh, aku akan menceritakan asal-muasal perjalanan ini. Sekaligus menceritakan siapa diriku yang sebenarnya.

Namaku Qum. Aku terlahir dari keluarga yang berkecukupan materi. Perusahaan ayahku banyak memiliki cabang hampir di seluruh kota. Sejak kecil aku sudah dididik dengan baik agar bisa melanjutkan bisnisnya. Dibekali dengan pendidikan yang tinggi dan terbaik. Sayangnya tidak untuk hal yang menyangkut pengamalan agama. Hingga aku berhasil tumbuh sesuai dengan keinginan ayahku. Kini aku yang memegang kendali perusahaan-perusahaan itu. Dan berkat usahaku bisnis keluarga ini semakin berkembang.

Tapi akhir-akhir ini aku merasa belumlah mendapatkan apa-apa. Banyaknya harta ini membuatku merasa miskin, bukan miskin materi tapi sesuatu yang lain. Yang aku tidak mengerti apa sesuatu itu. Jiwaku seperti kosong, selalu gelisah. Hal itu membuatku tidak bisa tidur setiap malam. Hingga tidak sengaja aku bertemu dengan Ustadz Rizal ketika ia mengisi kutbah jumat di masjid dekat kantorku. Sebenarnya ia adalah kawan lamaku ketika masa kuliah dulu. Aku utarakan masalahku ini kepadanya.

“Maaf nih sebelumnya, Antum kapan terakhir bangun shalat Shubuh?” ustadz Rizal bertanya degan tidak bermaksud menyinggung.

“Saya sudah lupa Ustadz. Saya selalu kesiangan karena pulang dari kantor larut terus.” Jujur memang begitu adanya. Untuk urusan shalat jangankan Shubuh, empat waktu yang lain saja kadang selalu dikerjakan hampir diakhir waktu karena kesibukan.

“Begini saja, kapan antum ada waktu sehari penuh kosong? Nah kalau ada coba antum sekali-kali sehari itu usahakan shalat di masjid tepat waktu. Kalau perlu bergerilya dari waktu ke waktu shalat berikutnya, ke masjid-masjid yang lain. Biar suasana masjidnya dapat. Insya Allah jiwa antum akan lebih tenang. Dan kalau bisa di hari itu antum puasa sunah.” Tutur Ustadz Rizal memberi solusi.

Aku pun langsung membatalkan semua meetingku esok harinya. Mencoba saran dari kawan lamaku itu. Sebelum pamit, ustadz Rizal sempat berpesan untuk menemui seseorang yang berciri-ciri yang sudah aku sebutkan tadi.

“Pintalah satu nasihat kepadanya.” 

Aku mengangguk dengan semua usulan itu. Seperti itulah asal-muasal perjalananku hari ini.

Tidak terasa waktu sudah hampir Dzuhur, sebentar lagi mobilku sudah memasuki pelataran masjid yang menjadi tujuanku berikutnya. Suara adzan menggema, ketika hendak mengambil wudhu tiba-tiba sekretarisku menelpon. Melaporkan ini itu yang sedang terjadi di kantor. Aku sempat marah-marah kepadanya, mengurus hal sepele saja tidak bisa. Jengkel sekali rasanya, kantor baru ditinggal sehari saja sudah ada yang tidak beres.

Hampir saja aku ketinggalan rakaat pertama, aku beres berwudhu -yang sekenanya- tepat ketika imam mengumandangkan takbiratul ihram. Tiba-tiba alisku berkerut ketika menyadari siapa yang menjadi imam masjid besar ini. Pak tua yang tadi shubuh aku temui di masjid dekat rumah. Dengan memakai ciri-ciri yang sesuai dengan gambaran Ustadz Rizal. Pikiranku pun tidak fokus selama shalat. Memikirkan urusan kantor. Bertanya-tanya dalam hati siapa sebenarnya pak tua ini. kenapa bisa ada di masjid yang berkilo-kilo jauhnya dari rumahku. Sengaja aku memilih masjid ini agar sampai tepat waktu shalat.

***

Seusai shalat, ketika satu persatu jamaah sudah meninggalkan masjid. Aku menghampiri pak tua yang sedang bersandar pada dinding masjid. Ia sudah menyadari kehadiranku dengan wajahnya yang tetap serius tapi teduh.

“Pak haji, mohon beri satu nasihat lagi.” Kataku tanpa basa-basi.

Pak tua itu menatap wajahku sejenak. “Ambil Wudhu, dirikan shalat.” Nadanya tegas seperti memerintah.

“Saya masih punya wudhu Pak Haji. Dan Alhamdulillah saya sudah shalat, ikut berjamaah tadi.” Kataku menjelaskan, barangkali pak tua ini tidak melihat aku dibarisan shaf terakhir tadi.

“Anak muda. Ambillah Wudhu dan segera dirikan shalat.” Ia malah mengulangi perkataannya dengan nada yang lebih lembut.

Refleks saja aku mengangguk dan berdiri hendak mengambil wudhu. Mungkin itulah nasihat kedua yang harus aku lakukan. Sesuai pesan Ustadz Rizal, dengarkan saja nasihatnya, jangan banyak tanya dan lakukan yang benar.

Aku pun menunaikan shalat dzuhur sendiri. Hitung-hitung memperbaiki shalatku sebelumnya yang benar-benar tidak fokus tadi. Atau jangan-jangan memang benar wudhuku tadi tidak sempurna?

***

Selesai shalat aku memperhatikan sekitar, pak tua itu masih ada ternyata. Sedang membaca Al-Qur’an. Aku tidak ingin mengganggunya kali ini. Lagi pula ini belum waktunya Ashar. Baiklah sambil menunggu waktu Ashar yang masih dua jam lagi aku memilih berbaring. Aku putuskan tidak menuju masjid berikutnya, aku akan bertahan di masjid ini hingga Ashar. Setelah mendapat nasihat ketiga tentunya.

Aku pun menelpon sekretarisku memastikan pekerjaannya sesuai dengan yang aku intruksikan tadi.

***

Hampir saja aku ketiduran di atas sajadah, sayup-sayup kembali aku mendengar namaku dipanggil Qum! Bangunlah, bangunlah. Bertepatan dengan muadzin melantunkan hayya ‘alasshalah. Aku beranjak mau mengambil air wudhu lagi. Kali ini tidak dengan sekenanya. Aku cari pak tua sudah tidak ada. Mungkin lagi siap-siap di ruang DKM untuk menjadi imam shalat Ashar.

Tapi ternyata ia bukan imamnya. Pak tua berdiri tepat di sampingku, sama-sama menjadi makmum. Setidaknya aku lega ia masih ada di masjid ini. Jadi aku tinggal minta nasihat lagi.

***

“Bersihkan harta benda. Tunaikan hak-hak orang lain.”

Itu nasihat pak tua yang ketiga. Seperti biasa pertama-tama ia menyampaikan dengan nada yang tegas. Tapi kali ini aku tidak bertanya lagi, aku langsung mengangguk. Mengerti arah pembicaraan nasihat itu. Benar sekali aku sudah lama tidak meminta sekretarisku untuk menyiapkan berkas pembayaran zakat penghasilan.

Setelah mengucapkan terima kasih, aku pamit hendak ke masjid berikutnya. Jalanannya cukup macet aku harus bergegas. Tidak lupa ketika diperjalanan aku menelpon sekretarisku untuk secepat mungkin menyiapkan pembayaran zakat penghasilan. Sesuatu yang sangat luput sekali dari perhatianku.

***

Hujan tiba-tiba turun, aku sampai di masjid ke tiga untuk yang ke empat kalinya menjemput nasihat itu. Setengah jam lebih awal dari waktu shalat Maghrib. Niatnya mau mencari makanan kecil untuk buka puasa. Aku benar-benar terkejut ketika hendak membeli air mineral, ternyata yang melayani seseorang yang seharian ini sering sekali aku temui. Pak tua dengan orang dan ciri-ciri yang sama persis. Aku melongo. Sejak kapan ia sudah berada di sini? Bukannya aku yang lebih dulu berangkat dari masjid tadi? Hingga nasihat ke empat itu aku peroleh tanpa meminta.

“Berpuasalah anak muda.”

“I… Insya Allah Pak Haji. Hari ini saya berpuasa.” Kataku terbata-bata masih dengan sisa keterkejutan.

Pak Tua malah tertawa mendengar jawabanku. “Jangan berlindung dengan nama Allah untuk menutupi keburukanmu anak muda. Sejatinya kau tidak sedang berpuasa. Kau hanya menahan lapar dan dahaga.”

Aku mengerutkan dahi. Jelas-jelas hari ini aku puasa. Meski memang tidak sempat sahur. Tapi aku tidak lupa berniat. Aku menggeleng benar-benar tidak mengerti maksud pak tua ini.

“Kau tidak berpuasa dari menahan hawa nafsu. Tidak pandai menahan emosi dan kesombongan diri. Bagaimana pula kau sebut itu berpuasa?”

Pak Tua menutup warungnya dan meninggalkanku yang masih melongo mencoba mencerna kata-katanya. Hingga shalat Maghrib sudah selesai aku masih memikirkan perkataan pak tua itu. Apa benar seharian ini aku hanya menahan lapar dan dahaga? Memang benar aku tadi sempat marah-marah kepada bawahanku. Sempat merasa sombong kalau aku bisa dengan mudah mengatasi itu sendirian jika ada di kantor. Lalu sebenarnya siapa pak tua ini? kenapa seharian ini aku bertemu dengannya? rasa-rasanya aku perlu menemui ustadz Rizal secepatnya. Setelah aku mendapatkan nasihat yang terakhir. Setelah shalat Isya.

Senyumanku berkembang ketika mengetahui Ustadz Rizal lah yang mengimami shalat Isya. Setelah selesai aku buru-buru menghampirinya. Ingin menanyakan banyak hal.

Aku disambut dengan baik. Ternyata Ustadz Rizal memang sengaja menungguku di masjid ini. Katanya ia mengetahui keberadaanku dari sekretarisku setelah menelpon ke kantor. Aku langsung saja menceritakan perjalananku hari ini dari mulai bangun tidur sampai bertemu dengannya. Lengkap dengan nasihat-nasihat yang aku peroleh.

“Sudah tak perlu dicari lagi orangnya sudah pamit pergi. Nasihat yang terakhir biar ana yang menjelaskan.” Katanya ketika mengetahui aku mencari sosok pak tua itu.

Aku ingin sekali menanyakan siapa sebenarnya pak tua itu. Tapi Ustadz Rizal keburu menjelaskan panjang lebar.

“Kalau antum perhatikan lebih dalam sebenarnya nasihat-nasihat yang antum peroleh hari ini tidak lain adalah rukun islam yang lima. Syahadat. Shalat. Zakat. Puasa. Tentu saja antum bisa menyimpulkan sendiri apa nasihat yang kelima itu. Sekarang pertanyaannya adalah, sudah pernah kah antum menyempatkan diri berziarah ke makam Rasulullah? Menunaikan ibadah haji? Bukankah antum mampu menempuh perjalanan itu dari segi biaya?”

Aku menelan ludah. Aku lebih banyak ke tempat-tempat lain untuk perjalanan dinas maupun liburan. Betapa aku tidak pernah merencanakan perjalanan rukun islam yang ke lima itu.

“Kalau menurut ana, sebenarnya masalah antum itu sederhana. Jiwa antum merasa kosong karena antum terlalu sibuk dengan urusan dunia. Sedangkan rohani pun perlu dikasih makan. Perlu diperhatikan. Ana berharap perjalanan antum hari ini dari masjid ke masjid sedikit banyak ada asupan untuk rohani antum. Untuk jiwa antum. Dan mudah-mudahan itu bisa membuat antum jadi lebih tenang.”

Aku masih saja terpaku tidak terlalu memperhatikan penjelasan Ustadz Rizal. Ada sesuatu yang lebih mengusik hatiku. Betapa aku memang merasa sangat jauh dariNya. Merasa miskin keberanian untuk menghadapNya kelak. 

Qum! Bangunlah! Bangunlah!

Perbaharui syahadatmu…..! perbaharui syahadatmu…..! 

Suara itu bersahut-sahutan di pikiranku. Seketika aku ingin bersujud. Menangis sejadi-jadinya.

 

fin

CURI ?

Aku berasal dari sebuah kampung di pinggir suatu kota yang tak pernah disambangi salju satu kali pun. Kampungku pun tak pernah dilanda banjir satu kali pun. Yang selalu ada ialah kemarau di hati kami. Serius!!!!. Kalau kau hendak menanyakan apa nama kampungku, mudah. Asli!!! Kalau kau baca ceritaku ini, kau bisa tahu di mana kampungku.

Dibanding kawan-kawanku, aku sebenarnya tidak tertarik bermain keluar-masuk kebun milik entah siapa. Kakekku yang pensiunan polisi jaman penjajah dan Nenekku yang seorang Ibu rumah tangga pun tak pernah seenaknya keluar-masuk kebun orang di sekitar rumah kami. Kalau pun terpaksa lewat sebuah jalan kecil yang membelah ilalang, Kakek-Nenekku selalu akan beramah tamah dengan si pemilik kebun yang rumahnya tidak jauh dari kebun itu. Paling tidak, Kakek-Nenekku akan bilang, “Permisi. Maaf, numpang lewat.”

Kawan-kawanku tidak begitu. Tapi aku coba ikut kawan-kawan kampung. Aku juga belum mengerti apa itu solidaritas dan kompromi. Istilah entah apakah. Ya apa boleh buat. Aku dan kawan-kawanku langsung saja lewat. Aku dan kawan-kawanku tidak peduli kebun punya siapa, siapa pemiliknya, di mana pemiliknya. Kalau ada pemiliknya pun, kawan-kawan tidak hirau. Anggap saja ada patung di kebun untuk menakuti-nakuti anak-anak kampung. Apalagi kalau si pemilik kebun sudah menaikkan tangan yang berujung parang. (Kami selalu menganggap si pemilik kebun itu adalah orang jahat, kejam, tak punya rasa persahabatan dengan kami. Bila orang itu marah, kami akan mengadu ke orangtua)

Dan, kami akan datang lagi di hari lain. Kami tidak peduli matahari sudah di mana. Kami hanya peduli pada sebatang pohon jambu air yang buahnya sedang lebat dan putih-putih pulen. Putih-putih yang menyeruak di antara hijau-hijau. Kali ini kami mau menyenangkan hasrat tualang kecil kami, anak laki-laki. Ini laki-laki! Suara kami bergetar.

“Ayo ke kebun Pak Ali si sipit.”

“Ayo.”

Aku pun ikut karena kawan-kawanku tidak ada yang di rumah. Kawan sebayaku tidak ada selain mereka. Kami berjalan seperti berbaris membelah hamparan ilalang. Ada bekas belahan. Belahan yang dihasilkan oleh jejak-jejak kaki beberapa tetua di kampung kami yang membunuhi anak-anak ilalang. Kami ikut melakukannya hampir setiap hari setelah seragam putih-merah kami tanggalkan ke dalam tas atau kami lipat di buku catatan.

Sebatang pohon jambu air sudah menanti. Benar, buahnya lebat. Putih-putih pulen. Rupanya kawan-kawanku tidak bohong (Kawan-kawan selalu bilang “sumpah demi Tuhan” sambil menyodorkan tangan dengan jemari mekar. Bohong itu dosa. Aku pasti percaya). Mata kawan-kawanku berbinar-binar. Aku ngiler. Kepala kami berputar ke segala penjuru kebun. Awas kalau ada lelaki yang mengangkat tangan berujung parang!

Aman. Kami bagi tugas. Sebagian memanjat. Sebagian lagi memunguti tuaian. Adil. Kerja sama siap dijalankan. “Ssst… Jangan bising.” “Sssst…” “Ya, jangan berisik.” Biar si pria bertangan parang tidak mendengar kemudian kemari. Baiklah. Kami sepakat. “Sssst…”

Hup! Beberapa kawan langsung memeluk batang pohon, perlahan naik. Aku dan sisanya sebentar mendongak, sebentar menyapu pandang ke segala penjuru demi bahaya tangan terangkat berujung parang. Berdebar-debar. Senang, khawatir.

Senang dan khawatir terus berjoged duet. Kawan yang di atas menjatuhkan buah. Kami yang di bawah menadah, memunguti, mendongak, menoleh kanan-kiri. “Ssst… yang sebelah sini, banyak.” “Sssst, jangan berisik!” “Iyaaa… Bukan aku!” Kawan yang di atas mengisi kantong sambil mengunyah. Kami yang di bawah juga begitu. Kantong baju dan celana terisi penuh. Mulut kami pun mengunyah tiada henti. Sepasang mata sipit pria yang bertangan parang menyelinap dari balik batang jering ke sela-sela kantong kami.

Kawan yang di atas turun kembali. Kami yang di bawah menanti. Sesudah semua turun, kami pun berlari melewati belahan ilalang yang anak-anaknya mati. “Sssst… Kalau Pak Ali itu mengejar, kita lempari batu ya.” “Iyaaa…” Sepasang mata sipit mengekori kaki kami. Di teras rumah kawanku kami berhenti. Nafas-nafas kami mendaki-menuruni. Ada lega di hati. Aku khawatir jika tiba-tiba Kakek-Nenekku menemukan aku di rumah itu, sebab aku pasti didera Kakekku atau dicambuk Nenekku jika ketahuan mengambil tanpa minta ijin.

Di rumah itu ibu kawanku dan kakak kawanku melihat di kantong kami penuh jambu. Kakak kawanku bilang, “Sini bagi.” Maka kami pun berbagi. Kami beri. Kami tidak mau disebut pelit. Kami suka dibilang baik hati. Di dapur kawanku menggerus garam-cabe. Kami menikmati sedapnya jambu air putih pulen. Basah-basah manis pedas asin. Air mata menetes. Ingus meleleh. Bibir-bibir membasah, memerah. Tapi betapa sedap. Sebentar rasa itu telah mengolesi mulut tanpa ada lagi jambunya.

“Besok kita cari lagi.”

“Cari atau curi?”

“Cari. Kalau curi itu maling.”

“O, begitu. Yang kita makan?”

“Jambu air. Tidak masalah.”

O, tidak masalah.

Rupanya ada peraturan lain di luar rumahku. Aku patuh, sebab aku khawatir mereka menjauhiku karena aku membawa peraturan Kakek-Nenekku. Ada maling yang diperbolehkan?

“Maling itu boleh, kalau memang terjepit. Maling itu boleh asalkan memang untuk dimakan. Kalau lapar, kita boleh maling. Itu tidak berdosa. Yang berdosa itu kalau kita maling untuk kita jual. Maling untuk mendapat untung, itu baru dosa namanya.”

Itu kata mereka. Bukan kataku. Sungguh. Asli. Sumpah!!!! Kakek-Nenekku pun tak pernah bilang begitu. Aku baru merogoh tas kecil Nenekku dan kepergok Kakekku, aku sudah kena jewer dan tempeleng. Kakek-Nenekku bilang, “Jangan mencuri, mencuri itu dosa.” Ini perintah. Tapi, apakah sebenarnya maling itu boleh? Maling itu boleh? Bolehkah?

Kakek-Nenekku payah! Bikin perintah tidak seperti orang lain! Mengekang kebebasan!

“Besok kita cari lagi ya setelah pulang sekolah.”

Kalau aku tidak mau, mereka tidak mau lagi main dengan aku. Kalau mau, kan tinggal bagaimana caranya agar tidak ketahuan si pemilik jambu dan tidak kepergok Kakek-Nenekku.

Tiga perempat hari kawan-kawanku bermain lagi di kebun itu sambil membawa kantong plastik. Aku tidak ikut, karena Kakek-Nenekku sudah pulang. Aku harus bermain atau baca-baca komik dulu di rumah sampai Kakek-Nenekku terlelap dan istirahat siang. Cepatlah tidur, Yah, Nek. Istirahatlah. Kakek, Nenek kan lelah. Ketika kuintip mata-mata beliau terpejam, kakiku pun meloncat seperti kancil lepas kandang. Tra la la tri li li…

Di halaman rumah kawanku kulihat dua sepeda mini tergeletak. Mungkin mereka ada. Lantas kucari mereka. “Wah, lumayan banyak ya. Coba ditimbang.” Nah, itu suara mereka. Sambil duduk di lantai dapur, mereka menaruh kantong plastik di atas timbangan kecil yang biasa untuk menimbang telur, bawang, cabe, gula. Ibunya sedang memarut kelapa di dekat mereka.

“Banyak begini kok dibiarkan saja sampai merah legam rontok banyak.”

“Matanya terlalu sipit sih, jadi sulit melihat yang begini ini.”

“Eh, kira-kira ada berapa kilo?”

“Berapa kilo… Mmm… Satu, dua, tiga… Lima kilo lebih dikit. Anggap lima kilo.”

“Lima kilo? Lima kilo dikali… Bu, satu kilonya di toko Bi Suri berapa harganya?”

“Enam ratus. Kalian mau jual pada Bi Suri? Mudah-mudahan Bi Suri mau beli lebih enam ratus rupiah per kilo.”

“Kata ibuku, harganya enam ratus. Nah, berarti lima dikali enam ratus. Coba hitung.”

“Li-ma di-ka-li e-nam ra-tus sa-ma deeeeeeee-ngan…”

“Lima dikali enam ratus, berapa? Bodoh! Menghitung segitu saja nggak bisa.”

“Sebentar. Sabar. Orang sabar itu disayangi Tuhan. Li-ma ka-li e-nam sa-ma de-ngan ti-ga pu-luh. Tambah dua nol lagi di belakang nol. Ja-di… nol nol nol. Tiga ribu.”

“Tiga ribu rupiah! Cihuuuuuuuy! Bakal dapet tiga ribu…”

Aku melongok. Mereka mau menawarkan apa. O, belinju.

Kawan-kawan membereskan kembali perkakas itu. Selesai. Lalu bergegas ke arah dua sepeda yang tergeletak tadi. ”Kalian tunggu di sini dulu, kami mau ke toko Bi Suri.” Aku dan dua kawanku mengangguk. Kami tidak ikut karena jumlah sepeda kurang.

“Besok kita nggak usah cari jambu. Kita cari rambutan di kebun Apin si mata sipit.”

“Iya, bener. Rambutan gajah di sana sudah berbuah, masak-masak.”

Apa aku harus mengikuti ajakan kawan-kawanku? Kali ini aku tidak bisa mengikuti ajakan kawan-kawanku. Aku pilih pulang ke rumah dengan alasan apa saja. Sebab, dua hari lalu aku diajak Nenekku membeli rambutan milik Apin langsung di kebun Apin yang bakal menjadi tempat kejadian perkara itu. Nenek dan Kakekku sangat dikenal, sehingga ketika membeli itu aku malah disuruh memanjat sendiri, makan sepuasku, dan pulang membawa rambutan yang dibeli Nenekku dengan jumlah yang tidak sebanding dengan beberapa lembar ribuan.

Sampai ketika aku sudah memakai seragam putih-abu-abu, aku masih bermain dengan kawan-kawanku, walaupun sudah tidak lagi mengikuti kebiasaan mereka. Karena aku sendiri sibuk dengan kegiatan di sekolah. Latihan voly dua kali seminggu, sepakbola dua kali seminggu, mengurusi majalah sekolah, ada pelajaran tambahan, praktikum, dan lain-lain. Belum lagi ikut bimbingan seni rupa, belajar di bengkel sastra, atau plesir.

Sementara sebagian kawanku sudah bisa membawa pulang besi-besi rongsokan, perlengkapan kamar mandi semisal kran model mutakhir, keramik asli buatan Tiongkok, cermin rias besar, pompa air Sanyo, tegel, kaca nako, pakaian setengah basah, sepatu, sandal, genteng, ember, kompor gas, gelondongan kabel telpon dan entah apa lagi yang mereka temukan entah di mana. “Daripada teronggok bengong, ambil saja,” alasan mereka selalu begitu.

Orangtua mereka sendiri tak pernah menanyakan benda-benda itu milik siapa, ambil dari mana, bagaimana cara mengambilnya, atau asal-muasal apa pun. Yang bertanya justru bapak-bapak polisi yang mengangkuti beberapa kawanku ketika digrebek saat mereka mengambil lempengan besi dan peralatan-peralatan mesin di bengkel kapal keruk. Di kantor bapak-bapak itu beberapa kawanku menginap dengan muka bengap dan bibir bengkak. Entah sampai berapa hari di kampung kami tidak akan terlihat kawan-kawanku yang biasa bersenda gurau sambil mengepulkan asap rokok dari hasil mengambil tanpa ijin saat sang penjual rokok lengah karena sibuk melayani pembeli lainnya.

 

fin