Layang-layang

“Sadarilah.,

layang-layang bisa terbang tinggi karena melawan angin,

bukan terbang mengikuti angin.”

29 April 2014

Sore ini, kala awan yang berarak menari-nari menutupi matahari, secara tidak sengaja saya terseret jauh oleh angin masa lalu. Pikiran saya tiba-tiba mengembara mencari secuil kenangan yang sempat memudar di sudut hati. Tentang sebuah kesenangan, suka cita, dan rasa kanak-kanak yang membuat saya tersenyum tipis.

Ya, sore ini, entah mengapa saya tersihir oleh pesona layang-layang yang dimainkan oleh jemari mungil anak-anak di sekitar rumah. Sudah bertahun-tahun lamanya, saya tidak pernah menjamah layang-layang yang sempat membuat kulit saya hitam legam bak arang. Tetapi kini, rasa ingin memainkannya kembali tiba-tiba menerobos masuk ke alam raga saya. Lekuk tari sang layang-layang di cakrawala yang dimainkan lincah oleh anak-anak tersebut telah membangunkan sisi “kekanak-kanakan” saya yang telah lama ‘tertidur’.

30 April 2014

Di senja yang sama, saya mulai menyulam keinginan saya kemarin menjadi kenyataan. Dengan berbekal layang-layang yang saya temukan di atap rumah, serta benang yang dibeli secara sengaja sebelumnya, membuat saya bersemangat untuk kembali merajut sebuah kisah tentang kebiasaan kecil saya dahulu.

Perlahan tapi pasti, angin telah menerbangkan layang-layang yang saya punyai, jauh tinggi meretas langit senja. Tariannya di atas sana, membuat saya teringat tentang masa-masa dahulu ketika SD. Betapa kala matahari siang begitu menyengat, saya malah asyik menarik-narik benang yang membuat layang-layang saya kian melambung. Ah., masa yang menyenangkan!

………

Ehm., layang-layang

Sejenak, terlintas di benak saya bahwa kehidupan ini tidak jauh beda dengan apa yang dialami oleh layang-layang. Ada kalanya layang-layang yang kita miliki putus karena ulah layang-layang yang lain, itulah kegagalan. Di sisi yang lain, ada saatnya kita berhasil mengalahkan layang-layang yang lain di ‘medan pertempuran’, itulah yang kita namakan kemenangan.

Ya, manusia laksana layang-layang dan angin beserta kawanannya adalah “ujian” bagi si ‘layang-layang’. Terlebih yang menarik adalah, bahwa layang-layang bisa terbang tinggi karena melawan angin, bukan terbang mengikuti angin. Begitu pun bagi manusia, bukan?

Ujian yang datang silih berganti bagi manusia dimaksudkan agar manusia tersebut mampu mencapai derajat yang lebih tinggi. Ujian kekayaan, kemiskinan, tahta atau jabatan, rupa, serta ujian apapun itu tercipta agar kita mampu menjadi “manusia” yang dewasa secara raga maupun jiwa. Bahkan jika ujian tersebut dalam bentuk cinta sekalipun,

………….

Percakapan Ibu dan Anak:

“Jika cinta membuat luka, bolehkah aku tidak mengenalnya, Bu?”

“Tidak Nak, sebab itu jalan manusia.”

“Bolehkah aku menghindari sakitnya?”

“Tidak Nak. Tantanglah rasa sakitnya seperti layang-layang menantang angin. Dengan menantang angin layang-layang bisa terbang meninggi, lebih tinggi dari yang lain.”

………….

Indah bukan? Ya, begitulah kasih sayang Allah bagi manusia. Jika Dia cinta, maka Dia akan menguji kesungguhan hamba-Nya. Saya jadi teringat dengan pesan seorang teman,

“Allah menguji keikhlasan kita dalam kesendirian. Allah memberikan kedewasaan saat masalah berdatangan. Allah melatih ketegaran kita dalam setiap cobaan. Semakin sulit masalah, maka semakin terbuka pintu kemudahan. Sebagaimana semakin gelap malam, cahaya pagi semakin memancarkan sinarnya.”

Begitulah, bila kita ingin sukses, maka kita harus siap dan berani menghadapi tantangan, ujian, dan cobaan yang menerpa. Segala ujian, cobaan, hambatan, serta masalah yang kita hadapi saat ini hanya sebatas air dalam gelas, maka ubahlah pikiran itu seluas samudera. Dan percayalah, Allah tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya.

Berusaha, berdoa, dan bersabarlah dalam menghadapi setiap rintangan yang ada, niscaya kebahagiaan itu sedikit demi sedikit akan tersulam indah dalam bingkai kehidupan. Memang, sabar dalam menghadapi cobaan itu sulit, tetapi hilangnya kesabaran itu lebih sulit lagi akibatnya. Biarkanlah jiwa-jiwa sabar menjadi penyejuk di tengah segala duka. Hingga kelak akan terjawab: “Mengapa perjuangan itu pahit?”,”Karena surga itu manis”. 🙂

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?”Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.”

(Al-Baqarah: 214)

Luka

Luka berjalan pergi. Dari muka rumah bercat putih dan megah yang tak kunjung muncul penghuninya untuk menemuinya. Pembantu di rumah itu tadi mengatakan nyonya majikannya sedang di kamar entah melakukan apa. Tetapi setengah jam berlalu untuk Luka duduk menanti, nyonya rumah itu tak kunjung tampak. Nyonya rumah, yang temannya sendiri.

Luka tahu bahwa mungkin saja temannya itu sedang sibuk. Tetapi kepekaan dirinya saat ini dan aturan yang dia miliki tentang cara menghormati tamu yang datang telah membuatnya merasa ditolak. Semenjak kecil, Luka diajarkan oleh ibunya untuk meninggalkan semua yang sedang dikerjakannya ketika tamu menanti di muka rumah. Tamu seperti raja yang harus dihormati kehadirannya, kalaupun tidak untuk disembah. Jika tamu dibiarkan menanti terlalu lama, akan menjadi pertanda tak tertulis bagi tamu itu bahwa sang pemilik rumah tidak menyukai kehadirannya. Maka begitulah Luka pergi dari sana.

Ia berjalan terus berteman keringat dan ramainya benak tentang segala sesuatu. Jarak rumah tadi dengan jalan raya memang sungguh jauh. Tetapi Luka lebih senang berjalan pelan dan mengacuhkan para tukang ojek yang menawarkan jasanya. Dengan matahari dan sedikit angin, dia cuma berharap apa yang dilakukannya mampu membuat galau hatinya pergi. Berlabuh dalam lautan kalimat dan lukisan yang hanya dilihat mata batinnya sendiri. Hitungan lembaran yang tak seberapa di kantongnya juga menjadi alasan penguat meski masih mencukupi untuk sekedar mengganti bensin motor para pengojek tadi.

Di ujung jalan, Luka berhenti dan menghembuskan nafas panjang. Matanya lurus, tapi sebaiknya jangan ada yang bertanya tentang apa yang dilihatnya saat itu. Tak ada apa-apa. Kosong. Luka justru sedang memandang ke dalam hati dan benaknya sendiri. Bertanya sendiri, tentang tujuan kakinya kemudian. Juga tentang keinginan hatinya.

Pandangan orang dari sudut pandangnya sendirilah yang membuatnya tak mau berlama-lama mematung disana. Yah, Luka memang manusia yang merasa harus membuat nyaman orang lain meski belum tentu tuntutan itu selalu ditujukan kepadanya. Maka, pengojek yang kesekianlah yang mendapat rejeki lembaran dari sakunya. Ke sebuah tempat.

Bersandar di sebuah pohon dan terlindung dari mata-mata yang ingin tahu tentang maksud keberadaannya disana. Diambilnya telepon genggamnya dan memandangi layar yang tak menunjukkan satu pun panggilan untuknya. Bahkan dari sang teman pemilik rumah yang baru saja didatangi lalu ditinggalkannya tanpa sempat ada pertukaran mata apalagi kata. ” Dia bahkan tidak merasa kehilangan tamu”, bisiknya sendiri entah pada makhluk mana di sekitarnya.

Ada sesuatu rasa tak nyaman mencekat tenggorokannya dan membuat udara tak bebas mengalir disana. Entah bagaimana paru-parunya bertahan dalam keadaan itu. Matanya perih karena menolak kodratnya yang ingin meluapkan hempasan gelombang hibah dari dada yang terlalu sesak. Buat Luka, kesulitannya dengan lembaran menipis dan berjuta halangan untuk mendapatkan pekerjaan bukanlah sesuatu yang ingin dirutuki siang malam. Semuanya hanya ujian seperti juga tiap menit dalam kehidupan manusia lain. Bahkan tertawa pun juga sebuah ujian untuk mengetahui kemampuan manusia menghentikan tawa itu sendiri. Hanya soal waktu untuk sampai pada akhir pergulatan mengatasi persoalan. Tetapi wajah teman yang berpaling darinya, adalah sesuatu yang berbeda dan membuat semua ujian yang dihadapinya seperti ditulis dalam tinta tebal.

Tak ada maksud Luka mengemis dan menadahkan tangan pada sang pemilik rumah itu. Luka hanya mencatat orang itu sebagai teman karibnya, dimana dia kira bisa menitipkan beberapa goresan catatan kehidupannya agar tak menumpuk dan membuatnya menjadi bebal. Atau gila. Ya, Luka hanya ingin bercerita. Tetapi pintu itu tertutup sejak huruf pertama yang sempat Luka ucapkan beberapa minggu lalu. Dia paham, harta karibnya mungkin terlalu berharga baginya. Sedangkan Luka juga tak mengingininya. Dia hanya membutuhkan telinga yang mampu mendengar.

Luka menghembuskan nafasnya, lebih berat dari biasa. Diam dan menunduk.
“Manusia, adalah makhluk paling kreatif yang pernah ada. Dia bahkan mampu menciptakan prasangka yang sebetulnya tak ada”, diulang-ulangnya kalimat itu dalam hatinya.
Matahari mulai memerah tubuhnya ketika Luka berdiri dan tersenyum dalam airmata yang tak terbendung. Luka tak punya jawaban untuk banyak pertanyaan. Tetapi dia punya gaung dalam benaknya yang terus bersuara,” …aku merasa berat dengan persoalanku ketika tak ada hati dan telinga untukku…..maka inilah ujianku yang sebenarnya…”

Dan Luka berjalan lagi. Pulang. Dia tidak lagi mencari arah dimana ada telinga tersedia baginya. Luka hanyalah Luka yang harus menjalani dunia dengan apa adanya…..

Skeptisisme

Skepticism (Greek skeptesthai, “to examine”), in philosophy,
doctrine that denies the possibility of attaining knowledge of reality as it is in itself,
apart from human perception.

Beberapa tahun lalu, seorang dosen berkata di depan kelas bahwa dirinya skeptis terhadap segala macam hal. Seorang lelaki yang duduk di depannya memperhatikan. Dosen itu tak tahu bahwa yang dikatakannya, membuat lelaki yang hadir itu tidak bisa tidur nyenyak di malam hari. Ia memikirkan kata skeptis yang keluar dari mulutnya.

Secara literal melalui obrolan, kamus dan ensiklopedia Encarta, lelaki itu mengetahui arti skeptis. Tapi bukan itu yang ia cari. Ia ingin mengetahui makna terdalam dari skeptis dan malam itu ia tidak mampu memecahkannya.

Ia memahami bahwa pengetahuan tentang “skeptis” secara literal berbeda dengan pengetahuan “skeptis” yang mendarah daging, pengetahuan yang merasuk hingga pengetahuan itu menjadi poros bagi kehidupan. Pengetahuan literal itu pengetahuan beo, sedangkan pengetahuan kontekstual merupakan pemahaman yang benar-benar berbeda, sebab terasa ber-energi karena dijalani dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah menyimpan kata skeptis, entah di dalam keriut pikirannya sebelah mana, lelaki itu terlelap. Dalam tidurnya ia begitu yakin, bahwa suatu saat kata skeptis bakal kembali membawa pemahaman baru baginya.

Waktu pun melesat, meminggirkan manusia yang berusaha menghalanginya, menyepak, mengkuntaow dan menggilas siapa saja yang memusuhinya. Lelaki itu tidak ingin ditinggalkan waktu. Ia diwisuda, lantas ingin merasa berharga, tak ingin sekedar berpengharapan namun minim usaha. Lantas, ia pun berusaha mencari kerja.

Setiap hari lelaki itu berusaha melihat pengumuman lowongan kerja di mana saja, entah di koran, majalah, di papan yang menempel di kampusnya atau rumahnya di dunia maya.

Suatu waktu, informasi berharga mengenai lowongan kerja datang saat lelaki itu browsing di warung internet dekat kostannya. Saku celana lelaki itu bergetar. Sebuah short massage menggelitik pahanya. Ternyata sahabatnya. Isinya?

{Aww. Gimana kabarnya?/Masih nganggur?/Gw ada info lowongan kerja dari om gw di franchise Dunkin Donuts. Katanya, Gaji yang ditawarin Tiga juta. Kalo lo mao masukin aja curriculum vitae, surat lamaran dan photo 4 x 6 yang terbaru. Besok gw mau masukin lamarannya. Lo mau ikutan?}

Di pagi yang mendung, informasi itu merupakan berkah yang datang padanya di pagi hari. Gaji tiga juta memang cukup mendebarkan karena bagi fresh graduate universitas manapun, tawaran gaji yang dikatakan sahabatnya merupakan tawaran yang besar. Baginya sms tersebut membuat hidupnya bersemangat meski tanpa suplemen penjaga stamina, yang sering diiklankan di media masa.

Lelaki itu sejenak melupakan pencarian lowongan kerja yang dilakukannya di dunia maya. Antusias ia membalas sms sahabatnya menggunakan huruf capital semua.

{MAU DONG!} Dan layaknya seorang professional muda, ia menambahkan, {TAPI SPESIFIKASI KERJANYA MANA? KERJANYA APA?}. Dan sms dikirim.

Tak beberapa lama layar komputer bergoyang-goyang seperti air aquarium yang diaduk tangan. Satu pesan diterima. . Lambat-lambat penuh penghayatan lelaki itu membacanya. Tiba-tiba wajah lelaki itu menjadi merah! Ia marah, namun rasa malu dan sebal membuatnya ingin ketawa. Ia terguncang karena isi smsnya:

{Woi! Woi! Serius amat? Nih kerjaannya: SETIAP HARI LO BUKA RISLETING DI DAPUR, SAMBIL NGELUARIN ANU LU BUAT NGEBOLONGIN DONAT! JADI KAGAK? :D}

Lelaki itu merasa dilecehkan! Ia merasa seperti naik pesawat Sukhoi menuju awan gemawan tinggi menakjubkan, kemudian dilepaskan dan dibiarkan meluncur bebas tanpa parasut, lalu bruk! Pejret! Untuk menutupi perasaan yang membuat jiwanya down lelaki itu cepat membalas sms sahabatnya. Singkat dan padat!

{Gelo siah!},

Waktu pun bergerak cepat lagi. Menukik-nukik seperti paruh burung kasuari sewaktu mematuk sagu yang kebetulan menempel di rambut keriting bocah Irian. Kecepatan waktu mendatangkan keajaiban. Membuatnya lupa tawaran sinting sahabatnya.

Sebuah informasi datang lagi. Sahabatnya yang merupakan seorang aktivis masjid datang menemui dia sambil menjinjing surat lamaran kerja. dan duduk disampingnya. Setelah mengucap salam dan berbasa-basi sekedarnya, akhirnya topik pembicaraan sampai di maksudnya “

Lelaki itu senyam senyum, “Bro, ngomong-ngomong ada lowongan kerja buat saya nggak?”

“Nggak ada. Tapi sebentar,” Sahabatnya seperti kelupaan sesuatu. Ia membuka dan mengecek di layangan draft yang ada di handphonenya, “Eh ada! belum terlambat Je!”

“Lowongan apa?”

“Jadi typist. Perusahaan BUMN butuh tukang ketik free lance selama sebulan. Gajinya dua jutaan.”

“Gajinya besar amat” dan lelaki itu tak ingin kehilangan kesempatan! “Asoy! Mau dong beybeh!”

“Boleh deh, tapi kalau saya terus terang nggak mau ah, soalnya …”

“Soalnya apa?”

“Ngetiknya harus pake sarung tinju!”

Jreng! Jawaban sahabatnya membuat lelaki itu merasa hampa. Bayangkan, bagaimana mungkin mengetik dengan menggunakan sarung tinju? “Memangnya aku ini Chris Jhon?” keluhnya. Remuk sudah perasaannya.

Lelaki itu kembali dijemput pesawat. Kini ia tidak terbang teralu tinggi (karena sudah dua kali kejadian). Ia dibawa pesawat Cesna, dibawa terbang melingkari awan gemawan, lalu terjun bebas. Dan kali ini jatuhnya tidak terlalu sakit. Ia sempat membuka parasut sebelum badannya mendarat di jamban.

Semenjak kejadian menyebalkan yang terjadi rentet-berentet tersebut, akhirnya lelaki itu menjadi “jawara” kasus penipuan lowongan kerja. Maka ketika tawaran kerja bertubi-tubi kembali datang dari teman dan sahabatnya, lelaki itu tidak menampakkan reaksi yang berlebihan. Jika ada informasi lowongan kerja datang padanya, (entah yang serius, setengah serius atau tidak serius sama sekali) ia akan berterimakasih. Termasuk ketika dia mendapat tawaran menjadi babi, dengan gaji lima belas juta, sementara temannya hanya bertugas meniup lilin saja. Ngepet!

Lelaki itu sekarang masih ada. Ia masih hidup di dunia. Ia kini seorang Petani. Dialah lelaki yang menuliskan tulisan ini untuk kalian. Dialah lelaki yang the one and only ada di dunia. Dialah Acep Aprilyana yang dengan kejadian itu sudah mencapai tahap kulminasi. Ya lelaki itulah, saya!

Manusia terbentuk dari lingkungan, pemikiran dan masa lalunya. Manusia terbentuk dari apa yang pernah dialaminya, dan betapa bodohnya jika manusia yang sudah melalui kebohongan tak terhitung banyaknya, tidak berfikir dalam dan membiarkan kejadian demi kejadian lewat begitu saja. Kedipan mata yang uncountless geraknya, ternyata hanya sekedar kedipan belaka. Tak ada perenungan di dalamnya, tak pendalaman yang sampai ke inti atomnya.

Apa kamu begitu juga? Sudah berapa kali kamu di bohongi, dipecundangi oleh aneka macam informasi yang datangnya dari subjek lain diluar dirimu. Dan apakah hingga saat ini kamu masih mempercayai subjek yang ada disekelilingmu? Bukankah kamu pernah dikadali oleh pemerintah mengenai daerah bernama Tembaga Pura padahal seharusnya Emas Pura? Bukankah kamu sering diajari untuk menghormati orang-orang yang memiliki garis keturunan ulama. Diajari untuk nunut atas apa yang dikatakan keturunannya, karena turunan ulama selalu benar, lalu surat kabar nasional memberitakan bahwa anak ulama yang kamu agung-agungi, kamu ciumi tangannya itu ternyata malah mengatakan kitab suci yang kamu muliakan sebagai “kitab seks!”

Dulu kamu menaruh kepercayaan pada perilaku penghafal Quran karenanya kamu memposisikan mereka di luar batas nalar manusia. Sewaktu kamu mendapatkan si penghafal Quran tengah melakukan kecurangan, pembobolan, mempercayai klenik, betapa tertegunnya O’.

Dulu kamu diajari masyarakat kampungmu untuk berhati-hati terhadap pohon beringin, sebab menurut cerita mereka, di balik ranting-ranting beringin itu terdapat genduruwo yang siap menerkam kamu untuk santap malam. Padahal semuanya dusta belaka. Padahal masyarakat kampungmu belum pernah melihatnya. Hasilnya kamu menjadi penakut! Ditakut-takuti sedikit mengkerut. Ditakut-takuti sedikit langsung mengeluarkan gerimis dari sela-sela paha.

Sahabat, sudah sejak lama kita dibohongi oleh subjek diluar diri kita dengan berbagai motif: hiburan, keinginan jahat, keinginan baik yang salah syariatnya, bahkan dibohongi oleh subjek yang tidak mengetahui bahwa dirinya berbohong. Sahabat, sudah sejak lama kita dibohongi lantas apakah kita masih mau percaya pada subjek yang ada di luar diri kita? Apakah kita masih mau percaya pada manusia lain diluar keberadaan diri kita?

Kita, semua orang tentu tidak mau dibohongi, tetapi mengapa kita terus menerus jatuh, kemudian bangun untuk jatuh lagi, terperosok lagi, terjungkir kembali hingga kita tidak sadar, bahwa dalam kehidupan ini kita tidak paham: keinginan untuk tidak ingin dibohongi! Kita tidak sadar: bahwa kita tidak memiliki kepekaan yang kuat untuk tidak dibohongi! Kita tidak memiliki tali besi yang kekar untuk dijadikan pegangan agar kita tak lagi dikadali! Kita tidak memiliki sebuah fundamen nilai agar kita tak bisa, atau setidaknya sulit untuk dipecundangi! Satu-satunya fundamen, satu-satunya pondasi yang harus dimiliki, dan yang akan menjaga diri agar diri kita tidak dibohongi, dikadali, dipecundangi adalah: skeptis!

Skeptis adalah fundamen terpenting dan terbaik dalam melakukan penjagaan diri! Skeptis adalah sebuah penetapkan diri kita sebagai otonomi penuh sebuah ruh dan tubuh!

Lantas, hikmah atau keuntungan macam apa yang bisa didapatkan seandainya kita skeptis?

Ada banyak hikmah yang bisa kita dapatkan seandainya kita mau menjadi skeptis. Jika kita skeptis maka kita akan menjadi individu super yang tidak mudah dihempas badai informasi yang bertujuan menembus keyakinan kita. Jika kita skeptis kita tidak akan mudah dimanfaatkan oleh subjek diluar diri kita.

Jika Kau seorang wanita yang hamil muda, maka Kau tidak akan mudah termakan iklan media masa mengenai susu kehamilan –yang terlalu dilebih-lebihkan khasiatnya. Jika Kau seorang remaja putri, maka Kau tidak akan bernafsu memborong obat jerawat anu yang datangnya dari Korea atau Ethiophia. Jika Kau seorang remaja putra maka Kau tidak akan mudah terpukau kehebatan senior, saat mereka menceritakan kehebatan diri yang terkadang ditambahi ‘gorengan dan kecap’ Jika Kau seorang ibu bertubuh subur dan gembur, maka Kau tidak akan begitu gampang diobjeki sales-sales obat pelangsing badan –yang terkadang– terlalu banyak saos waktu bicara. Jika Kau seorang maniak baca maka Kau tidak serta merta termakan informasi dan pemikiran seorang penulis, sebelum benar-benar mempertimbangkan dan membanding-bandingkannya. Jika Kau seorang individu yang tergabung atau menjadi simpatisan sebuah gerakan, maka Kau tidak akan begitu saja tunduk oleh satu arus informasi sebelum mengecek kebenarannya –karena terkadang gerakan-gerakan politik menggunakan cara kotor untuk mewujudkan tujuannya, karena terkadang gerakan politik itu dipimpin oleh arus nafsu amarah dan syahwat kekuasaan serta harta jajaran depan pengurusnya.

Saat orang lain mengangguk-angguk dihadapan hegemoni kata yang membantu melapisi keanehan dan ketidak rasionalan sebuah pemikiran, skeptis adalah sebuah benteng pelindung paling tebal terhadap segala macam bentuk doktrinasi.

Skeptis adalah benteng terkuat yang akan melindungi kita untuk berani mengatakan “nanti dulu!” ketika orang lain mengucapkan “Ya!”, dan “Tunggu! saya akan berfikir dulu!” ketika orang lain mulai bergerak!

Skeptis akan menghalangi kita dari syak wasangka yang memudahkan vonis. Skeptis akan menghalangi kita dari hasutan teselubung yang bakal membuat ubun-ubun orang lain terbakar, mengepul-epul sampai hidungnya terbuka-tertutup seperti cerek. Sikap skeptis akan menjadikan diri kita memiliki oase di dalam kepala manakala kepala-kepala di sekeliling kita sepanas neraka.

Skeptis adalah sikap yang menempatkan keadilan di atas solidaritas semu persahabatan dan kekeluargaan. Ia akan mengkondisikan diri kita untuk tidak memberikan seratus persen kepercayaan kepada manusia manapun, bahkan pada orang yang terdekat dengan diri kita.

Ketidakpercayaan itu akan menjaga kita, untuk menyamakan porsi keadilan dihadapan sebuah kasus, yang melibatkan orang yang baru kita kenal dengan sahabat dan keluarga yang mencintai kita

Sikap skeptis seperti itulah, yang akan menjaga kita pada kejahatan terhadap kepercayaan mutlak terhadap manusia. Sikap skeptis seperti itulah yang akan membentuk diri kita menjadi individu yang memiliki kekuatan fikir dan ketangguhan mental: mengembalikan kepercayaan diri untuk meludahi dan menggergaji segala macam bentuk doktrinasi dan hegemoni. Sikap skeptis seperti itulah yang akan menghancurkan perbudakan manusia terhadap manusia lainnya untuk kemudian mengembalikan kepatuhan manusia kepada Rasul dan penghambaan diri hanya kepada Tuhan Semesta.

Saudaraku! Jiwaku! darahku! Kita bukan orang bodoh yang seenaknya bisa dicode bar-i! Kita bukan cyborg, bukan robot yang seenaknya bisa di perintah untuk melakukan apapun jua. Kita adalah manusia utuh yang memiliki kendali atas diri sendiri. Mulailah skeptis dan bertanggung jawab penuh terhadap diri sendiri! Mulailah memaknai kemerdekaan dan otonomi diri! Dan jika kau mau mengetahui maka inilah yang dinamakan EKSISTENSI!